Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Liputan Khusus Fictophilia

Terobsesi Pria Fiksi, Bisakah Disebut Penyimpangan Seksual?

Intan Kemala Sari - wolipop
Jumat, 15 Mei 2015 14:14 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

ist.
Jakarta -

Siapa yang tak kenal dengan Christian Grey? Tokoh fiktif karangan penulis E.L James yang digambarkan sebagai sosok pria tampan dengan kondisi fisik yang sempurna dan kekayaan berlimpah. Menariknya, banyak para pembaca yang 'terbius' dengan sosok Grey ini, sampai-sampai mereka memiliki imajinasi untuk berpacaran, atau bahkan berhubungan seksual dengannya.

Tak hanya Grey, banyak juga tokoh fiksi lainnya yang membuat para wanita terobsesi. Sebut saja Edward Cullen dalam seri novel 'Twilight Saga' atau Tony Stark, si miliuner tampan dan alter ego dari 'Iron Man' di komik Marvel.

Ada suatu istilah khusus untuk menggambarkan kondisi tersebut, yaitu fictophilia. Seperti yang dijelaskan dalam Urban Dictionary, fictophilia adalah keinginan, perasaan cinta, dan daya tarik seksual terhadap suatu karakter di buku novel yang sama besarnya dengan perasaan suka yang ditujukan pada orang-orang nyata.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca Juga: 50 Inspirasi Gaun Pengantin 2015

Kondisi ini, menurut profesor Mark Griffiths selaku dosen psikologi di Nottingham Trent University Inggris termasuk ke dalam paraphilia, yaitu istilah klinis yang digunakan untuk menggambarkan penyimpangan seksual. Fokus permasalahan paraphilia menyangkut kontrol rangsangan secara langsung terhadap fantasi seksual dan perilaku yang melibatkan objek, aktivitas, atau situasi tertentu yang tidak lazim untuk memenuhi kebutuhan seksualnya.

Beberapa contoh paraphilia di antaranya adalah eksibisionisme, pedofilia, dan sadomasokisme. Sedangkan fictophilia sendiri termasuk ke dalam paraphilia yang tidak digolongkan. Lantas, apakah benar fictophilia bisa disebut penyimpangan seksual?

Psikolog seksual Zoya Amirin mengatakan, sebelum menentukan seseorang memiliki penyimpangan seksual atau tidak, para psikolog memiliki suatu buku pedoman khusus untuk menganalisa perilaku seseorang. "Kita tidak bisa asal menentukan, mungkin saja dia tidak ada penyimpangan seksual, tapi ada indikasi gangguan kepribadian," ujar Zoya saat dihubungi Wolipop, Senin (11/5/2015).

Menurutnya, fictophilia mirip dengan erotomania, yaitu suatu bentuk gangguan kepribadian di mana para penderitanya memiliki keyakinan bahwa orang lain memendam perasaan cinta kepadanya, atau memiliki daya tarik seksual untuk berhubungan intim. Dalam situasi tertentu, penderita erotomania tidak memerlukan kontak langsung, bisa saja ia hanya melihat seorang selebriti di televisi dan mempunyai anggapan semua yang dikatakannya ditujukan padanya.

Baca Juga: 50 Momen Menghebokan dari Pekan Mode Dunia

"Jadi dia memiliki khayalan berlebihan. Misalnya dia suka sama satu aktor, kebetulan aktor itu lagi diwawancara di televisi. Penderita erotomania ini percaya apapun yang dikatakan si aktor itu adalah sebuah isyarat untuknya, bahwa si aktor juga punya rasa yang sama. Padahal dia jelas-jelas berhalusinasi," jelas psikolog yang mengambil bidang seksologi di Universitas Udayana, Bali itu.

Dengan demikian, Zoya menyimpulkan, fictophilia tidak termasuk ke dalam penyimpangan seksual, melainkan gangguan kepribadian. Mereka yang mengidapnya memiliki suatu obsesi pada khayalan yang bersumber dari apa yang dibacanya. Bisa saja karena karakter fiktif yang digambarkan oleh si penulis mirip dengan sosok idamannya.

"Secara tak langsung, ini kasus ekstrem. Sekarang orang-orang punya kecenderungan untuk mengalami ini, khusunya wanita," tutupnya.

(int/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads