Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Pro Kontra Perayaan Valentine

Perubahan Perayaan Valentine Seiring Pertambahan Usia

Intan Kemala Sari - wolipop
Jumat, 13 Feb 2015 17:04 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

dok. Thinkstock
Jakarta -

Hari Valentine tinggal sehari lagi. Apakah Anda sedang bersiap mengadakan perayaan spesial atau justru tidak melakukan apa-apa? Euforia Valentine ini akan dirasakan berbeda-beda pada setiap orang.

Psikolog Liza Marielly Djaprie M.Si,Psi,SC, mengatakan perayaan Hari Valentine masih banyak dilakukan oleh para remaja muda antara usia 17 hingga 21 tahun. Kebanyakan di antara mereka masih mengenyam pendidikan di bangku SMA atau perkuliahan. Sedangkan usia 23 atau 24 tahun yang sudah mulai meniti karier, wanita kelahiran 1977 ini melihat faktor pola pikir mereka sudah mulai berubah.

"Kalau yang sudah dewasa, otomatis bentuk pemberian kasih sayangnya juga sudah berbeda. Kalau anak ABG mungkin masih membelikan boneka atau cokelat. Tapi kalau yang sudah dewasa, bentuk cinta dan kasih sayangnya lebih berupa rasa tanggung jawab," tutur Liza saat dihubungi Wolipop via telepon, Selasa, (10/2/2015).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ibu empat anak ini melanjutkan, bentuk tanggung jawab itu bisa ditunjukkan dalam bentuk tindakan nyata. Misalnya, memberikan nafkah dan menghidupi keluarga, liburan bersama dengan keluarga, atau justru bertanggung jawab kepada pasangan dengan cara menjaga perasaannya agar tidak kecewa.

Tak hanya orang dewasa yang berusia 20 tahunan, rupanya orang-orang yang sudah menginjak usia 30 tahun ke atas juga masih ada yang tertarik merayakan Valentine meski mulai jarang ditemukan. Seperti yang dipaparkan oleh pakar percintaan Kei Savourie, orang-orang yang berusia 30 tahunan ini lebih banyak memberikan perhatian atau kado sederhana. Menurutnya, hal seperti ini dirasa sudah cukup untuk membuat pasangan merasa dicintai dan lebih bahagia.

Hal berbeda diungkapkan oleh psikolog Roslina Verauli M.Psi. Roslina mengatakan perayaan Valentine tidak terpatok waktu dan usia. Menurutnya, justru masalah budaya yang lebih kental terlihat di sini. "Individu yang bersangkutan lebih akrab dengan budaya mana? Apakah budaya timur atau barat? Karena ini yang menyebabkan tiap pasangan mempunyai kebiasaan yang berbeda-beda," jelas ibu dua anak ini saat dihubungi Wolipop via telepon, Selasa, (10/2/2015).

Lebih lanjut ia mengatakan, setiap pasangan pada dasarnya mempunyai suatu ritual tertentu untuk merayakan momen spesial yang ada dalam hidupnya. Misalnya, tanggal jadian dengan pasangan atau tanggal ulang tahun pasangan. Tetapi bentuk perayaan ini pun juga berbeda-beda tergantung dengan paparan atau pengaruh budaya yang diterimanya.

"Kalau di Jepang atau Korea, para wanita memberi cokelat ke pria. Kalau di budaya barat, para pria yang justru kasih cokelat atau bunga. Ngajak makan malam di restoran romantis juga bisa," lanjutnya lagi. Sedangkan sisanya lebih banyak dipengaruhi oleh para industri yang sengaja memeriahkan Hari Valentine sebagai salah satu strategi marketing untuk berdagang.

(int/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads