Liputan Khusus Aplikasi Cari Jodoh
Cara Baru Para Wanita Cari Pria Asing Lewat Aplikasi Kencan Online
Sudah bukan hal aneh bagi wanita masa kini untuk menyukai atau bahkan berkencan dengan pria asing. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menarik perhatian mereka, salah satunya adalah lewat aplikasi kencan online yang makin eksis di tengah masyarakat modern saat ini.
Wanita masa kini pun terlihat lebih berani untuk mendekati pria asing secara langsung. Bagi beberapa orang, tak sulit mengajak si pria asing berbincang santai meski baru pertama kali bertemu. Namun tak semua wanita bisa demikian, dan butuh pendekatan sebelum bertatap muka agar tidak canggung.
Aplikasi kencan online pun dapat dijadikan 'senjata' bagi Anda yang pemalu untuk meminimalisir rasa canggung. Setidaknya, itulah pendapat salah satu wanita pengguna aplikasi kencan online, Amanda tentang pengalamannya. Pengalaman menarik pun banyak dialami wanita 28 tahun itu selama menggunakan aplikasi kencan online bernama Tinder.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di dunia nyata lebih susah bertemu orang baru karena sibuk kerja, tapi di Tinder lebih mudah mencari cowok bule. Sudah pernah bertemu tiga pria sekarang, besok baru mau yang keempat. Ada yang dari Singapura, Tunisia, Belgia, dan Rusia," ungkap Amanda.
Namun mencari pasangan bule lewat Tinder memang ada sisi positif dan negatifnya, seperti diakui wanita yang memakai aplikasi dating online sejak akhir 2014 itu. Sebelum Tinder, dirinya mengaku suka datang ke klub atau bar untuk mencari pria asing. Dari pengalamannya, tak sedikit juga pria yang langsung mengajaknya berhubungan intim. Diungkap Amanda, hal tersebut juga banyak ia temui di Tinder. Baru sekali berbincang di dunia maya, ada saja pria asing yang langsung mengajak bahkan memaksanya ke hotel. Namun untuk tipikal yang seperti itu, Amanda mengaku tidak mau menanggapinya.
Di balik hal negatif, banyak pula sisi positif yang membuat Amanda tak bisa lepas dari aplikasi ini. "Lebih seru di Tinder. kalau ketemu di Tinder kan ngobrol dulu jadi chemistry-nya lebih dapat, biasanya kalau ketemu di klub ngobrolnya kan langsung mengarah ke seks," ungkapnya lagi.
Chemistry juga menjadi alasan seorang mahasiswi komunikasi bernama Intan untuk mencari pasangan pria asing lewat aplikasi itu. Menurutnya, lebih sulit mengajak bicara langsung pria asing di kafe atau tempat lainnya, karena sudah sibuk dengan urusan masing-masing. Aplikasi ini pun membantunya untuk membuka topik obrolan. Wanita 22 tahun itu biasanya mencari teman berbincang, sekaligus dapat belajar bahasa baru.
"Awalnya download cuma untuk belajar bahasa baru kayak Yunani, tapi ternyata orangnya ganteng jadinya bikin penasaran. Ada juga bule Inggris, kita ngobrol banyak bukan cuma bahasa, tapi juga kegiatan sehari-hari. Katanya dia juga mau ke Indonesia dan ketemu aku," cerita wanita yang bisa 3 bahasa itu.
Lain lagi dengan seorang wanita bernama Julia. Wanita yang berprofesi sebagai manajer itu juga memiliki cerita menarik dan penuh drama dari mencari pria asing lewat aplikasi Tinder. Wanita yang kerap melakukan perjalanan dinas ini selalu memanfaatkan Tinder di berbagai tempat, dari Jakarta, Bali sampai New York. Ada berbagai tipikal pria asing yang ditemui Julia lewat aplikasi Tinder. Dari mulai yang sopan meminta bertemu di tempat umum, seperti restoran, sampai yang menyeramkan dan langsung mengajak pesta di apartemen temannya. Biasanya ajakan seperti itu ditolak oleh wanita 32 tahun ini.
Diungkap oleh wanita yang berkantor di wilayah Jakarta Selatan ini, dirinya pernah memiliki pengalaman diberi harapan palsu oleh banyak pria asing yang ia temui dari aplikasi yang diunggahnya sejak awal 2014 itu. Salah satunya seorang pria kelahiran Australia yang sudah sangat dekat dengan dirinya selama 4 bulan. Saat Julia mulai berpikir untuk menjalani hubungan serius, namun sayangnya si pria tidak berpikir demikian.
"Dia suka menghilang, harus kita yang nanya duluan. Karena dia bule jadi kita yang effort. Beberapa kali kencan akhirnya terlihat kalau dia tipe yang pasif. Sedangkan saya sebagai wanita juga ingin diperhatikan saat kencan. Dan ternyata ia melakukan multiple dating dan mendekati banyak wanita selain saya," ungkapnya.
Beberapa kali dikecewakan dan tak juga mendapat pasangan lewat Tinder, Julia mengaku tidak mau berharap lebih kepada aplikasi ini lagi untuk menemukan jodoh. "Saya kapok main Tinder, karena seperti tidak ada masa depannya. Kebanyakan pria yang bermain Tinder tidak menunjukkan keseriusannya," tambahnya.
Lantas, bagaimana pandangan pria asing tentang wanita Indonesia yang ada di aplikasi kencan online kini? Seorang pria Amerika, bernama Pattrick menyebutkan tidak semua wanita jujur mencari jodoh di zaman sekarang ini. "Ada agenda lain yaitu mencari masa depan cerah. Tapi banyak wanita Indonesia ini terlalu obvious. Mereka ingin dibawa ke negara kita. Padahal kalau kita memang sayang pasti akan kita bawa. Tapi kalau dari awal permintaannya sudah banyak, mau ini dan itu, menurut saya buang-buang waktu, karena di negara kita biasanya lebih santai untuk kencan," ujar pria 34 tahun itu.
(asf/fer)
Hobbies & Activities
Upgrade Raket Padel Andalan! 4 Rekomendasi Produk Biar Makin Semangat Latihan!
Hobbies & Activities
Nggak Cuma untuk Anak! Ini Rekomendasi Mainan Anti Stres untuk Dewasa, Bikin Pikiran Lebih Rileks
Hobbies & Activities
Berkendara Lebih Aman dan Tenang dengan Dashcam Retouch Riding System Sprite S2
Home & Living
Tidur Jadi Lebih Nyaman! Kasur dari Turu Lana Ini Bikin Tidur Kamu Makin Berkualitas!
Ramalan Zodiak Cinta 4 Januari: Gemini Menggebu-gebu, Libra Jangan Egois
Ramalan Zodiak 4 Januari: Cancer Lebih Selektif, Leo Waspada Pihak Ketiga
Ramalan Zodiak 4 Januari: Aries Banyak Peluang, Taurus Jangan Putus Asa
Ramalan Zodiak Cinta 3 Januari: Taurus Lebih Hangat, Gemini Harmonis
Tipe-tipe Zodiak Saat Musim Hujan, Kamu Tim Rebahan atau Tetap Aktif?
Gantengnya Park Bo Gum Pakai Hanbok, Cetak Rekor Dilihat 22 Juta Kali
7 Rekomendasi Drama Korea tentang Musuh Jadi Cinta yang Bikin Baper
Sinopsis Greenland, Film di Bioskop Trans TV Hari Ini
130 Tahun Monogram Louis Vuitton: Sejarah, Inovasi, dan Warisan Abadi











































