Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Kapan Harus Break atau Putus? Ini Hal-hal yang Perlu Dipertimbangkan

wolipop
Sabtu, 04 Okt 2014 16:08 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Thinkstock
Jakarta - Konflik berkepanjangan, selalu bertengkar ketika bertemu atau sering terjadi kesalahpahaman kerap membuat orang tidak betah menjalani hubungan asmara. Ketika lebih banyak pertengkaran yang terjadi daripada kemesraan saat bersama, dan visi masing-masing pasangan sudah tak sejalan, maka jalan terakhir yang bisa dilakukan adalah putus.

Namun bagi pasangan yang masih saling mencintai dan memperbaiki hubungan, break merupakan langkah 'penyelamatan' yang bisa dilakukan. Menjalani komitmen berpacaran tanpa bertatap muka atau berkomunikasi dalam jangka waktu tertentu, dianggap sebagian pasangan menjadi cara yang efektif untuk saling introspeksi diri dan memikirkan kembali mau dibawa kemana hubungan yang bermasalah tersebut.

Tapi tak sedikit juga pasangan kekasih yang skeptis dan menganggap break hanyalah membuang-buang waktu. Bernarkah break adalah usaha yang sia-sia, dan perlukah menjalani fase vakum terlebih dahulu sebelum memutuskan putus? Dalam kondisi apa pasangan sebaiknya putus tanpa harus berpikir dua kali?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Psikolog Ayoe Soetomo, M.Psi. berpendapat, break memang dimaksudkan sebagai upaya dalam memperbaiki hubungan. Break juga bermanfaat sebagai sarana introspeksi sehingga mampu memandang masalah dengan lebih objektif. Keputusan untuk tidak berhubungan dalam jangka waktu tertentu bisa dilakukan jika pasangan masih sama-sama mencintai namun ada sedikit perbedaan visi.

"Ketika pasangan merasa sudah cukup mampu melihat masalah dengan lebih objektif, break harus segera diakhiri. Komunikasi harus segera dilakukan untuk memutuskan komitmen apa yg akan diambil oleh kedua pasangan," tutur Ayoe.

Sementara itu, break tidak perlu dilakukan apabila hubungan sudah benar-benar tidak ada kecocokan dan lebih banyak mendatangkan masalah ketika Anda dan pasangan bersama, meskipun masih ada rasa sayang. Konsultan percintaan Kei Savourie menjelaskan beberapa kondisi yang membuat Anda sebaiknya langsung mengucap kata 'putus' pada kekasih.

Pertama, salah satu pihak sudah tidak merasakan cinta lagi. Menjalani hubungan dengan terpaksa, dengan alasan apa pun hanya akan membuat keduanya makin merana dan mengalami penurunan kualitas hidup. Kedua, hubungan asmara tidak lagi membawa kebahagiaan.

"Oke alasannya karena masih sayang kekasih, tapi sayang nggak dengan diri sendiri? Apakah dengan tetap bersama pacar bikin bahagia atau malah justru tambah sedih? Bikin tambah maju, tambah sukses nggak? Kalau semuanya malah minus lebih baik putus saja," terang pria yang kerap memberikan seminar tentang percintaan di sejumlah kota di Indonesia ini.

Lebih lanjut Kei menyarankan, untuk menjalin suatu hubungan asmara yang baik, terlebih dahulu kita harus menyayangi diri sendiri. Jalinan asmara haruslah membuat seseorang jadi lebih baik dan bahagia.

"Bikin senang diri sendiri dulu, baru bisa menyenangkan orang lain. Prioritaskan diri kita yang paling utama," tutupnya. 

(hst/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads