Liputan Khusus
Faktor yang Buat Pria Berpotensi Melakukan Kekerasan pada Kekasihnya
Arina Yulistara - wolipop
Jumat, 01 Feb 2013 08:41 WIB
Jakarta
-
Kenapa seorang pria bisa tega melakukan kekerasan pada kekasih yang dicintainya? Pertanyaan ini mungkin klise, tapi masih jadi isu besar yang belum banyak diangkat ke permukaan untuk ditemukan solusinya.
Ternyata penyebabnya bukan sekadar faktor emosi atau sifat sang pria yang temperamental. Banyak faktor lebih mendasar yang memicu seseorang berbuat kekerasan fisik, verbal maupun seksual. Psikolog Klinis & Forensik Kasandra Putranto memberikan penjelasannya.
"Seseorang melakukan kekerasan karena adanya sebuah distribusi kekuatan yang tak seimbang. Kekuatan ini bisa artinya kekuatan fisik. Misalnya yang laki-laki kuat perempuan lemah," ujar Kasandra saat dihubungi wolipop, Rabu (31/01/2013).
Selain fisik, bisa juga karena kekuatan finansial. Dalam artian, si pria berpenghasilan tinggi semetara wanita cenderung lebih rendah. Faktor jabatan pun berpotensi membuat seseorang menyakiti pasangannya secara fisik atau psikis.
"Ketika seseorang punya jabatan, kekuatan, finansial yang lebih tinggi dari pasangannya, dia bisa memanipulasi kekuasaan itu sehingga terjadi kekerasan dalam hubungan. Dia punya sesuatu yang lebih besar dari yang lain sehingga merasa berkuasa," papar psikolog lulusan Universitas Indonesia itu.
Penyebab lainnya karena karakter diri atau sifat bawaan. Kasandra menerangkan, ada orang-orang tertentu yang memiliki sifat keras baik itu diturunkan dari ayah atau ibu. Sifat itu lahir dari cara mereka dibesarkan, misalnya orangtua yang cenderung otoriter dan suka mengatur orang lain.
"Anak itu tidak diajarkan untuk memberi kasih sayang kepada orang lain. Tidak ada cinta. Sehingga menyebabkan anak berpotensi menjadi pelaku kekerasan," tuturnya.
Kecanduan narkoba, alkoholik, gangguan kepribadian serta trauma di masa lalu juga bisa jadi pencetus terjadinya kekerasan oleh pasangan. Si pelaku pernah mengalami kejadian traumatis yang membuat dirinya tergerak melakukan kekerasan.
Maka dari itu, sangat penting untuk mengajarkan sikap kasih sayang dalam pola pengasuhan anak. Diterangkan Kasandra, setiap orang adalah produk dari 'pabrik manusia'. Artinya, sikap, kepribadian dan perilaku saat dewasa sangat ditentukan dari cara mereka dididik ketika kecil. Dalam hal ini, keluarga yang paling bertanggungjawab membentuk kepribadian seseorang.
"Tentu saja keluarganya harus yang bertanggungjawa memberikan contoh kasih sayang. Itu harus disarankan sejak dini dan dilatih terus," tutupnya.
(hst/hst)
Ternyata penyebabnya bukan sekadar faktor emosi atau sifat sang pria yang temperamental. Banyak faktor lebih mendasar yang memicu seseorang berbuat kekerasan fisik, verbal maupun seksual. Psikolog Klinis & Forensik Kasandra Putranto memberikan penjelasannya.
"Seseorang melakukan kekerasan karena adanya sebuah distribusi kekuatan yang tak seimbang. Kekuatan ini bisa artinya kekuatan fisik. Misalnya yang laki-laki kuat perempuan lemah," ujar Kasandra saat dihubungi wolipop, Rabu (31/01/2013).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ketika seseorang punya jabatan, kekuatan, finansial yang lebih tinggi dari pasangannya, dia bisa memanipulasi kekuasaan itu sehingga terjadi kekerasan dalam hubungan. Dia punya sesuatu yang lebih besar dari yang lain sehingga merasa berkuasa," papar psikolog lulusan Universitas Indonesia itu.
Penyebab lainnya karena karakter diri atau sifat bawaan. Kasandra menerangkan, ada orang-orang tertentu yang memiliki sifat keras baik itu diturunkan dari ayah atau ibu. Sifat itu lahir dari cara mereka dibesarkan, misalnya orangtua yang cenderung otoriter dan suka mengatur orang lain.
"Anak itu tidak diajarkan untuk memberi kasih sayang kepada orang lain. Tidak ada cinta. Sehingga menyebabkan anak berpotensi menjadi pelaku kekerasan," tuturnya.
Kecanduan narkoba, alkoholik, gangguan kepribadian serta trauma di masa lalu juga bisa jadi pencetus terjadinya kekerasan oleh pasangan. Si pelaku pernah mengalami kejadian traumatis yang membuat dirinya tergerak melakukan kekerasan.
Maka dari itu, sangat penting untuk mengajarkan sikap kasih sayang dalam pola pengasuhan anak. Diterangkan Kasandra, setiap orang adalah produk dari 'pabrik manusia'. Artinya, sikap, kepribadian dan perilaku saat dewasa sangat ditentukan dari cara mereka dididik ketika kecil. Dalam hal ini, keluarga yang paling bertanggungjawab membentuk kepribadian seseorang.
"Tentu saja keluarganya harus yang bertanggungjawa memberikan contoh kasih sayang. Itu harus disarankan sejak dini dan dilatih terus," tutupnya.
(hst/hst)
Perawatan dan Kecantikan
Nggak Perlu Foundation Mahal! 3 Cushion Ini Bikin Wajah Flawless, Tahan Lama, dan Anti Cakey Seharian
Kesehatan
Anak Susah Makan Bikin Mama Pusing? Ini 2 Suplemen Andalan Biar Nafsu Makan Balik Lagi!
Kesehatan
Sakit Kepala & Nyeri Otot Datang Tiba-Tiba? Ini 2 Obat Andalan yang Wajib Ada di Rumah!
Home & Living
Masak Lebih Praktis & Stylish, Inilah Rekomendasi Spatula Set Wajib Punya di Dapur!
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
5 Zodiak Paling Genit, Pesonanya Bikin Orang Mudah Terpikat
Ramalan Zodiak Cinta 4 April: Aquarius Jangan Emosi, Leo Jaga Cara Bicara
Ramalan Zodiak 4 April: Libra Masalah Menghadang, Scorpio Jangan Takut
Viral Cerita Ibu Batalkan Pernikahan Anak, Rela Rugi Hingga Ratusan Juta
Ramalan Zodiak 4 April: Cancer Atur Pengeluaran, Virgo Jangan Boros
Most Popular
1
Potret Dukun Gen Z Korea yang Viral Dituduh Unggah Foto Seksi Demi Sensasi
2
Aksi Ekstrem Istri di China, Nekat Gelantungan di Truk Demi Awasi Suami
3
Gaya Mahalini Liburan di Jepang, Padu Padan Rok & Celana Pendek yang Stylish
4
Foto Jennifer Bachdim & Putrinya Nyuci Baju di Amerika Disorot, Pakai Bathtub
5
Aksi Edit Foto Terbongkar, Influencer Tempel Wajah ke Tubuh Orang Lain
MOST COMMENTED











































