Hari Kartini 2026
Cerita Susi Susanti Pernah Ditolak Tanding, Nikita Willy Ragu Diri Sendiri
Memperingati Hari Kartini tahun 2026, ParagonCorp merayakan semangat tersebut melalui inisiatif "Her Strength, Her Light", yang menghadirkan sosok wanita inspirastif sebagai wajah Kartini masa kini. Mereka adalah Retno Marsudi, dr. Sari Chairunnisa, Nadia Habibie, Nikita Willy, dan Susi Susanti.
Melalui diskusi hangat bersama figur-figur inspiratif lintas bidang mulai dari ranah bisnis, diplomasi, hingga panggung legasi dan prestasi, acara ini menjadi wadah bagi wanita untuk bertukar narasi tentang bagaimana menciptakan ruang aman bagi sesama untuk terus bertumbuh.
Retno Marsudi, dr. Sari Chairunnisa, Nadia Habibie, Nikita Willy, dan Susi Susanti, di acara acara Women's Space di Wisma Habibie & Ainun – Library (20/4/2026). Foto: Dok. Gresnia/Wolipop |
Salah satu benang merah yang muncul dalam diskusi tersebut adalah kerentanan di balik kesuksesan. Banyak perempuan hebat yang ternyata pernah bergulat dengan keraguan diri, termasuk Retno Marsudi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diplomat yang dikenal sebagai Menteri Luar Negeri wanita pertama Indonesia (2014-2024) ini menekankan pentingnya pondasi nilai dalam menghadapi tantangan.
"Saya tumbuh kembang dari keluarga yang sederhana tapi dari situ lah muncul prinsip nilai yang kuat. Sehingga saya harus terus maju dan kuat kan badan kita. Kalau saya kuat dan kuatkan kita sendiri," kata Retno saat acara Women's Space di Wisma Habibie & Ainun - Library, Senin (20/4/2026).
Retno Marsudi, dr. Sari Chairunnisa, Nadia Habibie, Nikita Willy, dan Susi Susanti, di acara acara Women's Space di Wisma Habibie & Ainun – Library (20/4/2026). Foto: Dok. Gresnia/Wolipop |
Susi Susanti, peraih medali emas pertama bagi Indonesia di ajang Olimpiade, turut membagikan kisahnya saat berjuang mendobrak dominasi pria di dunia olahraga. Ia mengaku pernah menerima stigma negatif.
"Dunia olahraga itu imejnya selalu laki-laki. Sempat buat saya sendiri sebagai seorang atlet bukan anak tiri ya secara prestasi belum terlalu menonjol. Sempat merasa ragu, karena kesempatan selalu diberikan oleh laki-laki sempat kita tidak diberangkatkan juga (untuk tanding)," kenang Susi.
Pada saat itu, Susi mengaku langkahnya semakin berat karena tak diberikan kesempatan hingga akhir ia terus mencoba bangkit dan bisa mendobrak stigma.
"Ada sedikit tekanan dan saya yakin kita pasti bisa. Salah figur ibu, pelatih saya juga wanita dan oke kita tidak dapat kesempatan mungkin step bu step tidak langsung menang. Yang tadinya tidak dianggap, tapu dengan semangat dan kemauan dan mimpi kita pasti bisa dan ternyata kita bisa memberikan yang terbaik. Mulai dari Asian Games hingga dunia. Pertama kali putri asal Indonesia bisa mendapatkan medali emas untuk Indonesia," ujar Susi sambil berkaca-kaca.
Dalam ranah profesional dan publik, dr. Sari Chairunnisa, Sp.DVE., FINSDV, Deputy CEO ParagonCorp dan Nikita Willy juga berbicara tentang bagaimana mereka berdamai dengan ekspektasi diri sendiri dan lingkungan.
"Momen ragu itu pasti ada bahkan sering. Pertama itu, saya punya pikiran perusahaan itu kan harus sesuai dengan background dan dermatologis itu bisa kah? Untungnya saya mempunyai support system dan mau mencoba dulu. Satu sisi, momen ragu itu kita bisa belajar untuk tidak sombong dan empowering satu sama lain," jelas dr. Sari.
Senada dengan dr. Sari, Nikita Willy yang telah berkarier sejak usia enam tahun mengakui tantangan untuk terus relevan tanpa harus kehilangan jati diri.
"Saya sering merasa ragu, bisa gak ya aku ngomong di antara wanita hebat. Sering banget ada tapi aku berusaha untuk tidak ragu untuk mencoba, tumbuh dan keluar dari zona nyaman," ujar Nikita. Ia pun menambahkan bahwa keberuntungannya terletak pada kemampuannya menjadi diri sendiri, "Aku merasa beruntung ketika di depan publik aku tidak perlu menjadi sosok lain agar tidak mendapatkan atensi publik. Karena aku sudah di hiburan sejak kecil, ada fase dimana belum selesai dengan diri sendiri dan publik juga pasti tahu."
Kini, Nikita lebih memilih untuk menyeimbangkan karier dan prioritas keluarga. "Benar-benar tidak ada setop, ketika menikah aku bisa mengambil pilihan. Ingin mengambil jeda dan lanjut lagi. Prioritasnya sekarang lebih ke keluarga," terangnya.
Selanjutnya, Nadia Sofia Habibie dikenal sebagai cucu dari Presiden ke-3 Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie, dan Ibu Negara Hasri Ainun Besari. Nadia Habibie, yang tumbuh dengan nama besar orang keluarga, mengungkapkan bagaimana ia belajar memaknai privilege bukan sebagai kemudahan, melainkan tanggung jawab.
"Jujur berat untuk bisa mendelegasikan dari kedua orang tua saya mereka melakukan apapun sendiri. Misalnya bapak saya masih sering ke supermarket dan ibu saya sering memberikan rumah dengan vakum. Orang tua saya mengajarkan untuk step by step dan tidak loncat. Untuk menjadi seseorang harus terus belajar," ungkap Nadia.
Ia kemudian menambahkan bahwa nama besar kedua orang tuanya menjadi sebuah keberuntungan tersendiri karena ia tumbuh dalam keluarga yang memberinya ruang untuk bereksplorasi. Meski begitu, identitas keluarga tetap melekat dan membuatnya banyak merefleksikan bagaimana sang eyang dan orang tua membesarkannya.
"Sekitar 5-6 tahun saya baru sadar bahwa previlege ini harus dipertanggungjawabkan. Ternyata saat saya membuat buku tentang suistability dan bisa berdampak untuk masyarakat," pungkas Nadia.
(gaf/eny)














































