Mengenal Mulia Jayaputri, Perempuan Inspiratif di Balik Bakti Indonesia
Mulia Jayaputri meraih kesuksesan di bisnis kuliner setelah sempat berkarier lama di dunia akademisi sebagai pengajar sekaligus psikolog. Profesi desainer fashion juga pernah dicicipinya. Kini, ia mendedikasikan diri pula sebagai filantropis lewat Bakti Indonesia yang membawa semangat toleransi dalam keberagaman. Kebahagiaan sejati pun ditemukannya.
Salah satu pojokan di luar Restoran Bungarampai, Menteng Jakarta Pusat, menjadi tempat favorit Mulia untuk menikmati pesanannya. Selesai bersantap dan sebelum pulang, ia selalu membayar selaiknya pengunjung. Orang yang tidak mengenalnya, mungkin akan kaget bila mengetahui Mulia adalah pemilik restoran tersebut.
"Hanya minum segelas kopi pun tetap saya bayar. Kenapa? Karena itu termasuk cara saya menghargai kerja keras para karyawan di sini. Kalau tidak dimulai dari rumah sendiri, bagaimana nanti di luar," ujar Mulia dengan nada sedikit tegas saat berbincang dengan Wolipop baru-baru ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suasana mencair lagi ketika ia berseloroh bahwa nanti staf humasnya akan memberikan tagihan makanan dan minuman yang kami santap. Kami mengobrol tepat di spot 'tongkrongan' kesukaannya.
Tiba-tiba obrolan kami terpotong karena Linda Amalia Sari Gumelar, mantan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, yang kebetulan sedang berada di Bungarampai ingin menyapa Mulia.
Sangat lumrah melihat figur publik hingga orang penting dari pemerintahan berdatangan ke sini. Bangunan restoran ini dulunya merupakan kediaman pribadi milik dokter gigi pertama di Indonesia, Prof. Raden Soenario. Dibangun pada 1925, rumah bergaya kolonial tersebut kemudian digunakan sebagai tempat berkumpul para tokoh bangsa seperti Soekarno, Bung Hatta, dan Soemitro Djojohadikoesoemo. Jejak-jejak mereka terekam dalam potret yang menghiasi beberapa sudut restoran.
Mulia Jayaputri dengan potret lama kediaman Raden Soenario yang kini menjadi restoran Bungarampai. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom) |
Meski beralih fungsi sebagai restoran, arsitektur bangunan tetap dipertahankan karena statusnya kini sebagai cagar budaya. Namun, bagian belakang diperluas dengan bangunan tambahan tiga lantai. Lalu seperti sejarah yang berulang, para figur nasional dari dunia politik, ekonomi, dan bidang lainnya, sering mengadakan pertemuan di Bungarampai.
"Apalagi jelang pemilu, bisa loh setiap lantai itu diisi partai yang berbeda-beda," ungkap Mulia terheran-heran.
Tahun lalu, Bungarampai menggelar perayaan 100 tahun rumah tersebut dengan berbagai acara hiburan dan peragaan busana.
Berawal dari hobi nongkrong di kafe bersama suaminya, pakar komunikasi dan pendiri Lingkaran Survey Indonesia (LSI) Denny JA, serta ada kebutuhan tempat untuk menjamu kolega atau mengadakan rapat, Mulia termotivasi untuk memiliki restoran sendiri.
Bungarampai berdiri pada 2007, tapi Mulia tidak banyak terlibat karena menyerahkan semua urusan operasional kepada rekan bisnisnya. Baru enam tahun terakhir ini, ia benar-benar turun tangan.
Di bawah kepimpinannya langsung, Bungarampai meraih berbagai penghargaan, termasuk Restaurant Culinary Excellence 2025/2026 dari Kementrian Pariwisata.
Pencapaian yang paling membanggakan Mulia adalah mendapat kepercayaan sebagai penyedia jamuan makan resmi di World Economic Forum di Davos, Swiss. Tak hanya satu-dua kali, tapi tujuh kali termasuk tahun ini untuk acara Indonesian Night yang mengusung tema Bali-Betawi.
Bersama tim yang terdiri dari 15 orang, Mulia melayani 1.500 tamu yang hadir dan melihat betapa delegasi internasional sangat antusias terhadap kuliner Indonesia.
"Bayangkan hampir semua makanan habis, termasuk roti buaya yang sebenarnya hanya untuk hiasan. Sudah sepatutnya kita bangga sama kekayaan kuliner negeri sendiri. Ini juga bentuk diplomasi," katanya.
Dengan kesuksesan di panggung internasional tersebut, tak heran bila banyak tawaran yang menghampiri Mulia untuk membawa Bungarampai ke sejumlah negara, termasuk Malaysia, Italia, Filipina, dan Abu Dhabi. Hanya saja, ia belum mau terburu-buru untuk berekspansi ke luar negeri.
Cinta Dunia Seni
Foto: Daniel Ngantung/detikcom
"Beliau sebenarnya bukan tidak mengizinkan, tapi menyarankan saya untuk memilih jurusan yang lebih akademik terlebih dahulu, baru lanjut dengan kuliah yang sesuai hobi saya," kenang Mulia. Ia memang tumbuh di tengah keluarga berpendidikan. Ibunya, Yuyun Moeslim Taher, juga mendirikan Universitas Putra Indonesia di Cianjur, Jawa Barat.
Pendidikan psikologi lantas dipilih karena menurutnya masih berkaitan erat dengan dunia desain dalam memahami keunikan manusia dengan imajinasinya.
Pada 1983, Mulia lolos masuk Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran yang kala itu hanya menerima calon mahasiswa dengan latar pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).
Menempuh studi dengan standar tinggi yang diterapkan kampus cukup membuat Mulia tertekan. Satu per satu rekannya banyak yang 'berguguran', tapi Mulia tetap bertahan.
Masalah kesehatan sempat dialaminya sampai harus operasi besar dan menyebabkan ia tertinggal satu semester. Namun, dengan tekad yang kuat, anak kedua dari delapan bersaudara ini, berhasil mengejar ketertinggalan.
"Kalau punya keinginan, saya pasti akan berjuang sampai titik darah penghabisan. Tidak ada penyesalan kalau gagal, yang penting sudah mencoba. Apa karena saya anak perempuan pertama yah? Once I commit, no matter what I will be all out," ucap perempuan yang berdarah Minang-Sunda itu.
Lulus S1, ia bertolak ke New York City untuk persiapan melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 di Yale University. Setahun di sana, Mulia dipanggil pulang ke Indonesia untuk membantu ayahnya di Universitas Jayabaya. Selain mengajar, ia juga ditugasi sebagai kepala biro administrasi akademi.
Singkat cerita, Mulia kembali ke AS untuk melanjutkan rencana S2 yang tertunda pada 1994. Setelah mendapat gelar master di bidang politik di Kentucky State University, ia disarankan oleh dosennya untuk mengambil short course political psychology di Ohio State University, Columbus, Ohio, sembari menunggu panggilan untuk studi S3.
Datang kesempatan lain untuk mengikuti short course political psychology di Columbus University, Ohio, sesuai jurusan yang hendak diambilnya. Di kampus itulah, Mulia pertama kali bertemu Denny yang kini menjadi suaminya.
Setelah balik ke Indonesia pada 1996 untuk menggelar pernikahannya dengan Denny, Mulia juga mulai membangun karier sebagai psikolog dengan mendirikan biro konseling. Ia juga menulis sebuah buku berjudul 'Membangun Keluarga Bahagia'.
Mulia dan tim beberapa kali dipercayai pemerintah dalam upaya pemulihan kesehatan mental korban di daerah-daerah bencana nasional. Pengalaman tersebut sangat berbekas karena menguji mentalnya.
Masih segar dalam ingatannya ketika ia ikut dalam misi kemanusiaan ke Aceh tak lama setelah Serambi Mekkah dilululantahkan oleh gempa dahsyat dan tsunami pada 2004.
Suasana pasca tsunami dan gempa di Aceh pada Desember 2004. (Foto: Spencer Platt/Getty Images) |
Bau busuk yang menyengat langsung tercium Mulia setiba di Sigli, Pidie, kota kelahiran ayahnya yang terdampak bencana. Psikologisnya hancur melihat anak-anak kecil yang kehilangan orang tua dan sanak saudara. Ia pun teringat anak-anaknya yang juga masih kecil.
"Saking nggak kuatnya, 10 hari pertama saya selalu telepon suami sambil nangis-nangis. Tadinya saya mau pulang, tapi akhirnya saya tetap di sana setelah dikuatkan oleh Mas Denny," cerita ibu dua putra itu.
Banyak suka dan duka yang dirasakan Mulia sebagai konselor untuk para pengungsi atau penyintas bencana. Tanpa disadarinya, momen-momen itu mengasah kepekaan sekaligus membentuk karakter dirinya sebagai pribadi yang senang berderma.
Dirikan Label Fashion Bersama Desainer Jepang
Koleksi Fashunica, label kolaborasi Mulia dengan desainer Jepang Steven Tach. (Foto: www.steventach.com)
Langkah Mulia terhenti karena berhalangan mengikuti final yang waktunya berbarengan dengan jadwal keberangkatannya naik haji. Salah satu anggota dewan juri kala itu adalah Chossy Latu yang kini berteman dekat dengan Mulia.
Ketertarikannya pada dunia mode mempertemukan Mulia dengan desainer Jepang Steven Tach yang menaruh minat pada wastra atau kain tradisional Indonesia.
Mereka kemudian berkolaborasi dan melahirkan label Fashunica pada 2015 dengan mengusung slogan 'Local Wisdom, Global Style'. Belum banyak desainer atau label yang menggarap kain tradisional secara serius untuk koleksi busana siap pakai kala itu.
Empat tahun eksis, Fashunica tertimpa musibah. Butik sekaligus workshop mereka di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, kebobolan maling. Seluruh mesin jahit khusus buatan Jepang dan benang-benang impor raib.
Setelah peristiwa tersebut, tidak lama pandemi COVID-19 melanda sehingga membatasi pergerakan Steven yang berdomisili di Jepang. Mulia memutuskan untuk tidak melanjutkan Fashunica.
Terlepas dari itu, Mulia masih dapat mengekspresikan jiwa kreatifnya ketika memesan pakaian ke teman-teman dekatnya yang berprofesi sebagai desainer. Selain Chossy, ada Sebastian Gunawan, Edward Hutabarat, Danny Satriadi, Itang Yunasz, Denny Wirawan dan Ivan Gunawan.
Kadang, cerita Mulia, mereka suka kesal jika diminta membuat busana yang di luar kebiasaan. "Saya paling senang ngerjain desainer. Hahaha," selorohnya. "Tapi mereka jadi tertantang keluar dari zona nyaman dan tersadar kalau mereka bisa melakukan lebih dari biasanya," sambung Mulia yang saat itu ayu berbalut kebaya putih bordir karya Denny, dipadu batik lawas karya Iwan Tirta.
Membantu Adalah Kebutuhan
Mulia bersama peserta Bakti Indonesia ke-4 di Semarang, Jawa Tengah. (Foto: Dok. Pribadi)
Namun sekitar empat tahun lalu, Nasaruddin Umar yang kala itu masih menjabat sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal sebelum menjadi Menteri Agama, memberinya sebuah tugas.
"Mulia, coba tolong kamu buatkan buat suatu acara di Masjid Istiqlal dan kamu juga jadi host-nya. Buat konsepnya dan bawa ke saya ," tuturnya menirukan perkataan Nasaruddin saat menyampaikan amanah tersebut.
Selama dua bulan ia benar-benar memikirkan konsep yang tepat. Dalam pikirannya, bakti sosial dengan pembagian sembako saja sudah biasa dilakukan. "Saya ingin sesuatu yang lebih kompleks dan benar-benar sesuai dengan apa yang kita butuhkan," kata Mulia.
Tercetuslah Bakti Indonesia, sebuah gerakan yang dibangun di atas tiga nilai utama: merawat cinta Tanah Air, menghadirkan aksi kemanusiaan, dan menjaga keberagaman sebagai kekayaan bangsa. Mulia menyebutnya, "Derma sosial dalam keberagaman Indonesia."
Digelar setiap Agustus, bulan kemerdekaan, Bakti Indonesia berlangsung setahun sekali di rumah ibadah yang menjadi ikon dari lima agama yang diakui negara.
Setelah Masjid Istiqlal pada tahun inaugurasinya, kegiatan ini berpindah ke Gereja Katedral Jakarta (2024), lalu Pura Agung Besakih Bali (2025). Tahun ini, Kelenteng Agung Sam Poo Kong di Semarang, Jawa Tengah.
Peresmian Bakti Indonesia ke-4 di Sam Poo Kong, Semarang. (Foto: Dok. Tim Muara Bagdja) |
"Seperti ketika pertama kali mengurusi Bungarampai, saya benar-benar buta soal mengorganisir kegiatan bakti sosial," ungkapnya.
Selain karena tekadnya yang kuat, Bakti Indonesia mustahil terwujud tanpa keberanian dan kerendahan hati untuk belajar serta meninggalkan rasa nyaman.
Mulia sama sekali belum pernah berpengalaman mencari sumbangan saat memulainya. "Akhirnya, saya rela mencopot rasa risih, malu, dan gengsi. Seujung kuku harga diri saya korbankan untuk kepentingan orang banyak," ucap Mulia.
Pengorbanan tersebut membuahkan hasil. Dari tahun ke tahun, semakin banyak pihak yang terdorong untuk terlibat sehingga semakin meluas orang yang terjangkau dan masif dampak yang diberikan.
Dari hanya empat jenis pelayanan kesehatan gratis yang diberikan pada tahun pertama, gerakan Bakti Indonesia di Semarang memberikan 15. Mulai dari pemeriksaan darah, rekam jantung, mata, gigi, tes laboratorium, deteksi kanker, hingga konsultasi psikologi, baik keluarga maupun perorangan.
Lebih dari 4.000 warga lokal yang menerima manfaat. Terbesar dalam penyelenggaraan Bakti Indonesia sejauh ini. Selain itu, Sam Poo Kong juga mendapat penyegaran lewat program pemugaran yang diinisiasi Bakti Indonesia.
"Kalau dipikir-pikir lagi, kami tidak menyangka. Kok bisa yah bisa sebesar itu?" ujar Mulia yang tidak lupa mengapresiasi kerja keras timnya. Jika ditotal dari Bakti Indonesia pertama, sudah 10.000 orang yang berhasil dijangkau.
Tak dapat dipungkirinya, melihat banyak orang tersenyum karena terbantu seperti sebuah dopamin yang memberikan Mulia rasa bahagia yang tak tergantikan.
"Kok rasanya malah menjadi kebutuhan saya. Hidup kian terasa lebih bermakna. Kalau kita pikir membantu orang karena mereka butuh, itu salah besar. Justru karena kita yang membutuhkan mereka," katanya sembari sedikit menahan haru.
Tahun depan, menurut rencana, Bakti Indonesia akan digelar di Candi Borobudur, Magelang. Untuk mewujudkannya, peraih penghargaan Women of the Year dalam kategori Influential Women Philanthropy 2024, dan penerima anugrah Adhi Karya Wisata dari Istana Negara ini terlebih dulu harus menemui perwakilan Walubi dan Permabudhi, dua organisasi terbesar umat Buddha yang dulunya satu kesatuan sebelum terpecah.
"Saya harap, Bakti Indonesia menjadi legacy saya untuk memotivasi orang-orang agar semakin sadar bahwa menjaga keharmonisan dan merawat keberagaman adalah kebutuhan dan tanggung jawab kita bersama. Kita bisa menjadi bangsa yang hebat kalau bisa saling bahu-membahu menolong," pesan Mulia.















































