Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

TikTok Viral Verificator

Viral 2,5 Juta Views! Wanita Curhat Hidup di Keluarga Hoarding, Bikin Stres

Gresnia Arela Febriani - wolipop
Minggu, 22 Mar 2026 20:30 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Wanita ini mengungkapkan pengalamannya tentang hoarding disorder.
Wanita ini membagikan pengalamannya tentang hoarding disorder. Foto: Dok. TikTok @_kopisusu.pandan.
Solo -

Di balik tren hidup minimalis yang kini digandrungi, bagi pemilik akun TikTok @_kopisusu.pandan, pilihan tersebut bukan lah sekadar mengikuti arus estetika, melainkan sebuah bentuk perlawanan dan trauma masa kecil.

Melalui serangkaian unggahan foto, wanita yang tinggal di Solo, Jawa Tengah ini menceritakan alasan mendalam mengapa ia begitu mendambakan kehidupan yang ringkas dan bebas dari tumpukan barang berlebih karena ia tumbuh besar di tengah keluarga hoarding.

"Tinggal di rumah penuh barang, masih ada banyak lagi barang yang belum aku up di postingan ini. Tempat bekal makanku lebih dari 5, ga wajar. Beliin cat litter box lebih dari 3 berbagai ukuran ada, aku sendiri heran. Pernah kejadian aku bersih-bersih kamar dan emang ngebuangin barang yang udah ga terpakai ke sampah di depan rumah tapi pas pulang kerja barangnya ada lagi, malah aku dimarahin katanya masih bagus kok dibuang. 😮💨 pengen banget decluttering sebenernya, tapi pasti ortuku ga terima," tulis postingan TikTok @_kopisusu.pandan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Awalnya, ia menuturkan ayah yang memiliki kebiasaan hoarding (menimbun barang). Sedangkan ibunya gemar membeli barang yang sama dalam jumlah lebih dari satu.

Ia pun memperlihatkan serangkaian bukti visual lain yang mengejutkan. Ada koleksi minyak urut yang berjejer, tumpukan tatakan warna-warni yang berlebihan, hingga tiga buah sepeda berbeda jenis yang memenuhi sudut-sudut rumah. Lebih jauh, @_kopisusu.pandan menunjukkan tumpukan kardus bekas dan lampu rusak yang seolah diabadikan di atas lemari, serta bantal bekas yang entah mengapa tidak juga dibuang.

ADVERTISEMENT

Puncaknya, ia memperlihatkan sebuah kaleng bekas berisi berbagai peralatan dapur tua dan barang-barang tak terpakai lainnya, yang ia beri label another trash. Kenyataan pahit ini ia perkuat dengan keterangan bahwa bahkan kuas makeup bekas yang sudah ia buang pun masih dipungut dan disimpan kembali oleh keluarganya.

Serangkaian foto ini menjadi bukti kuat bahwa keinginan untuk hidup minimalis adalah sebuah perjuangan untuk melepaskan diri dari beban visual dan psikologis yang telah lama mengepungnya di rumah sendiri.

Postingan tersebut sudah ditonton lebih dari 2,5 juta kali dan mendapatkan banjir komentar warganet.

"Orang tua yg hoarding itu karena mereka tumbuh dengan kemiskinan ka. Dulu pernah merasakan susah gak punya apa-apa. Jadi terbawa pas berumah tangga kalo punya apa-apa disimpan siapa tau nanti berguna. Begitu kak kira-kira," ujar pengguna TikTok @Bebek bakar pak min.

"Apa aku juga hoarding disorder ya, suka gamau buang bungkus kaya make up, parfum walau dah abis tetep ku simpan 😭," saut akun @Savior.co.

"Ortu kita ngumpulin barang yg gakepake, kita ngumpulin screenshot yg gakepake juga sbnrnya wkwk," kata pengguna akun @naa.


Konfirmasi Wolipop

Kisah yang dibagikan melalui media sosial ini milik seorang wanita bernama Kiki. Gadis berusia 22 tahun asal Solo, Jawa Tengah ini merasakan betul bagaimana dinamika tumbuh besar di tengah keluarga yang memiliki kebiasaan menimbun barang.

Saat dikonfirmasi, Kiki menjelaskan bahwa fenomena yang ia rekam merupakan realitas kebiasaan generasi tertentu yang sulit melepaskan barang. Ia menyoroti bagaimana barang-barang yang sudah tidak berfungsi justru tetap dipertahankan.

"Kebiasaan generasi boomers yaitu menimbun barang. Barang rusak atau mati, atau bahkan barang bekas atau sampah masih ditimbun dengan alasan suatu saat bakal terpakai. Padahal hanya akan semakin menumpuk sampah/barang," ungkap Kiki kepada Wolipop.

Banyak orang sering kali mengaitkan perilaku ini dengan latar belakang ekonomi masa lalu, namun Kiki memiliki pandangan yang berbeda berdasarkan apa yang ia alami dan pelajari. Baginya, ada aspek yang lebih dalam dari sekadar rasa "sayang" terhadap barang karena faktor kemiskinan di masa muda.

"Banyak yang bilang karena pengaruh ekonomi. Padahal kebiasaan hoarding tidak selalu karena zaman dulu orang tua pernah susah atau miskin makanya ketika beli barang disayang-sayang. Padahal kebiasaan hoarding termasuk dalam gangguan kesehatan mental atau penyakit," tegasnya.

Bagi Kiki, keinginan untuk menerapkan gaya hidup minimalis bukan sekadar tren estetika, melainkan upaya untuk menciptakan ruang hidup yang lebih sehat secara fisik maupun mental.

Sayangnya, perjuangan itu tidak mudah karena setiap kali ia mencoba melakukan decluttering, barang-barang yang sudah dibuang ke tempat sampah sering kali "kembali" ke rumah karena dipungut kembali oleh orang tuanya.



(gaf/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads