Wardah Ajak Perempuan Temukan Ketenangan Lewat 'Journey to Ramadan 2026'
Wardah mengajak perempuan menemukan ketenangan sebagai fondasi untuk melangkah lebih kuat dalam kehidupan. Pesan tersebut dihadirkan melalui 'Journey to Ramadan 2026' bertema 'Tenang Kuatkan Langkahmu' yang digelar di Fairmont Jakarta, hari ini.
Dalam sesi bertajuk 'Letter to Women', Board of Council Paragon Wardah Stewardship for Global Impact, Retno Marsudi, menekankan bahwa perempuan memikul banyak peran sekaligus dalam hidupnya.
"Kita seorang perempuan punya banyak peran di rumah. Kita sebagai anak, sebagai ibu, sebagai istri, sebagai kakak, sebagai adik, dan juga sebagai teman di tengah tantangan,' ujarnya di Fairmont Jakarta, Jumat (13/2/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengingatkan, ketenangan bukan berarti sebagai ketiadaan cobaan. Menurutnya, ketenangan justru menjadi titik awal keberanian.
"Karena tenang, bukan berarti hidup tanpa ujian. Belajar dari Maryam binti Imran, seseorang yang terus melangkah walau tanpa kepastian hasil. Tetap tenang, karena iman berserah kepada Allah," ungkapnya.
"Tenang bukan jeda pasif yang berarti mundur atau berhenti. Tenang adalah awal mula keberanian. Berani untuk berpikir jernih, menguatkan hati, dan melangkah lagi," sambungnya.
Selain 'Letter to Women', 'Journey to Ramadan 2026' juga diisi dengan talkshow inspiratif bertajuk 'Heart to Heart Podcast' yang dipandu oleh Dewi Sandra. Pada sesi ini, Board of Council Paragon Wardah Stewardship sekaligus Executive Director of Al Mujadilah Center, Qatar Foundation, Dr. Sohaira Siddiqui membagikan refleksi tentang kecenderungan perempuan untuk terus merencanakan segalanya dalam hidup.
"Terkadang kita sebagai wanita merasa seperti kita harus merencanakan diri sendiri, kita harus merencanakan keluarga, kita harus merencanakan (mengurus) anak-anak, kita harus merencanakan (cara menjadi orang tua), kita selalu melakukan hal itu," tuturnya.
"Dan kita berpikir bahwa rencana akan membuat kita menjadi sukses. Tapi sebenarnya, apa yang membuat saya berpikir adalah bahwa kesempatan terbaik yang saya alami dalam hidup tidak datang dari rencana, tetapi datang dari cinta," sambungnya.
Ia juga menekankan mengenai pentingnya menjaga iman di tengah berbagai distraksi.
"Kalau kita bicara soal tetap tenang, soal memastikan kita nggak kehilangan kendali, sebenarnya intinya adalah bagaimana kita bisa tetap teguh. Jadi kalau balik lagi ke konsep work to noise ratio, menurut saya sebagai muslim itu lebih ke faith to noise ratio," terangnya.
"Kita diminta untuk tetap tenang, tetap grounded, tetap berakar dan teguh dalam iman. Sementara 'noise'-nya, gangguannya, dibuat sekecil mungkin. Semakin besar iman itu dalam hidup kita, semakin ia mengisi keseharian kita, maka secara alami 'noise' tadi akan semakin kecil," imbuhnya.
Tak hanya Dr. Sohaira, Education and Tech Public Figure Xaviera Putri pun turut hadir dan meramaikan sesi talkshow tersebut. Dalam kesempatan itu, ia berbagi pengalaman mengenai tantangan yang harus dihadapi selama menempuh pendidikan di Korea Selatan sebagai seorang perempuan muslim.
"Kalau ngomongin struggle, untuk aku pribadi, waktu aku tumbuh besar, banyak hal yang berkaitan dengan identitasku dan juga ekspektasi akademik. Soal identitas, itu sesuatu yang nggak pernah aku bayangkan bakal jadi 'struggle', terutama waktu aku masih di Indonesia," ceritanya.
"Tapi ketika aku pindah ke sana (Korea), banyak hal yang aku lakukan dan pilihan yang aku ambil rasanya selalu dibayangi ekspektasi dari masyarakat tentang seperti apa seharusnya aku bersikap atau menjadi, apalagi sebagai perempuan muslim. Ditambah lagi tekanan akademik, aku berada di lingkungan yang secara akademik sangat menantang," imbuhnya.
Ia juga menjelaskan bagaimana cara dirinya menghadapi tantangan tersebut.
"How to overcome it, setiap kali aku menghadapi kesulitan, aku biasanya bertanya ke diri sendiri "Apa yang bisa aku kontrol dan apa yang gak bisa aku kontrol?" Aku sadar ternyata kita jauh lebih mampu dari yang kita kira. Dulu aku sering ragu dan merasa nggak akan bisa melewati sesuatu, tapi pada akhirnya aku merasa semua itu juga karena pertolongan Allah SWT," tuturnya.
Menurutnya, tantangan dan fase sulit dalam hidup justru menandai proses pertumbuhan.
"Aku merasa setiap kali kita ada di situasi yang sangat nggak nyaman, situasi yang sulit banget, itu sebenarnya tanda kalau kita sedang bertumbuh," pungkasnya.
Lebih lanjut, 'Journey to Ramadan 2026' juga menghadirkan ruang refleksi melalui berbagai interactive booth. Pengunjung dapat merasakan pengalaman mendalam lewat Hearing Booth yang menyampaikan ayat Al-Qur'an mengenai pesan kehidupan, serta instalasi Letter from Allah berisi surat-surat reflektif tentang keresahan yang kerap dialami perempuan.
Rangkaian acara pun ditutup dengan kajian bersama Ustaz Muhammad Nuzul Dzikri yang mengajak peserta memaknai ketenangan sebagai bagian dari ikhtiar dan keimanan dalam menyambut Ramadan.
(akd/ega)










































