Kisah Prof Jackie Ying, Hijabers Mualaf yang Temukan Alat Rapid Test Corona

Gresnia Arela Febriani - wolipop Kamis, 07 Mei 2020 04:00 WIB
jackie ying Foto: dok. swhf.sg
Jakarta -
Profesor Jackie Ying yang lahir pada 1966 ini adalah seorang peneliti berhijab dari Singapura yang berbasis nano-teknologi. Bersama dengan timnya, Prof Jackie Ying telah mengembangkan alat pengujian tercepat atau rapid test untuk virus Corona.

Dikutip dari Straitstimes, Profesor Jackie Y. Ying, merupakan Direktur Eksekutif Institute of Bioengineering and Nanotechnology (IBN). Dia telah dinobatkan sebagai penemu ilmiah di National Academy of Inventors (NAI), Inggris. Menurut NAI, status tersebut diberikan kepada Prof. Jackie King yang telah menunjukkan semangat dalam berinovasi untuk menciptakan atau memfasilitasi penemuan baru yang luar biasa serta memberikan kontribusi kepada masyarakat luas. Dia menjadi salah satu dari 155 ilmuwan di seluruh dunia yang menerima gelar kehormatan itu dari NAI.

Prof. Jackie Ying yang lahir di Taiwan merupakan warga negara Amerika Serikat. Dia dibesarkan di New York dan di Singapura. Dari dua negara itu, dia banyak menghabiskan waktunya di Singapura.


Prof. Jackie Ying menghabiskan pendidikan dasar dan menengahnya di Singapura. Ia belajar di sekolah dasar yang berbahasa Tiongkok. Pada saat itu dia tidak memiliki teman anak Melayu, kelompok etnis yang identik dengan agama Islam di Singapura. Saat duduk di bangku sekolah menengah pertama yang lebih beragam secara budaya barulah dia sadar bahwa sebenarnya ada agama yang berbeda.
Prof. Jackie Ying.Prof. Jackie Ying. Foto: dok. straitstimes


Prof. Jackie Ying mengatakan bahwa saat itulah dia menjadi sangat penasaran dengan agama Islam. "Saya selalu ingin tahu tentang tujuan dan makna kehidupan. Dan dalam agama, kita menemukan banyak jawaban terhadap pertanyaan ini," jelas Jackie Ying seperti dikutip About Islam.

Sejak sekolah menengah pertama, ia belajar tentang agama dan salah satunya agama Islam. Dan ia memutuskan untuk memeluk agama Islam di usia tiga puluhan.

"Jika kamu benar-benar belajar ilmu pengetahuan, kamu harus percaya pada seorang pencipta," ujarnya setelah menjadi mualaf.


Ketika ditanya tentang hubungan antara Islam dan ilmu pengetahuan, Prof. Jackie Ying menjawab bahwa Islam mengajarkan manusia untuk mencari ilmu. Dengan ilmu, katanya lagi, seorang manusia bisa sangat berguna bagi masyarakat luas.

"Tapi yang paling penting pengetahuan ilmiah atau sains menunjukkan lagi dan lagi akan keberadaan Allah. Jadi, saya tidak berpikir bahwa keduanya (agama Islam dan ilmu pengetahuan) memiliki masalah satu sama lain," ujarnya.

Prof. Jackie Ying lebih lanjut mengatakan bahwa tidak sulit baginya untuk menerima ajaran agama Islam. Berbeda dengan agama lain, menurutnya Islam adalah agama yang sederhana. Dan kesederhanaan ini membuatnya mudah untuk menerima Islam.

Namun selain kesederhanaan ini, kata Prof. Jackie lagi, orang akan sangat terkejut melihat pengetahuan yang menakjubkan di dalam Islam. "Ketika saya pertama kali membuka Al-Quran, jelas bagi saya bahwa ini adalah buku yang sangat istimewa dan luar biasa," tuturnya kagum.

Setelah melakukan umrah pertamanya, Prof. Jackie mulai memakai hijab. Keputusan tersebut ia jalani sesuai dengam ajaran agama Islam dan keyakinannya kepada Allah SWT. Dia juga aktif melakukan dakwah di Singapura.

Sebagai seorang ilmuwan, Prof. Jackie Ying juga telah menerima puluhan penghargaan dan menerbitkan ratusan artikel akademis di bidangnya. Dia saat ini memimpin laboratorium NanoBio, Agency for Science, Technology and Research di Singapura. Ia dinominasikan sebagai salah satu dari 500 Muslim yanng paling berpengaruh di dunia.

Prof. Jackie Ying merupakan lulusan fakultas teknik kimia Massachusetts Institute of Technology (MIT). Lulus pada 2001, dia menjadi profesor termuda, yaitu pada usia 35 tahun.



Simak Video "Tahu Nggak Sih? Ini Daya Tahan Virus Corona di Berbagai Benda"
[Gambas:Video 20detik]
(gaf/eny)