Bisnis Baju Lebaran

Kisah Baju Lebaran Wearing Klamby yang Habis 5.000 Potong dalam 10 Menit

Silmia Putri - wolipop Sabtu, 18 Mei 2019 07:36 WIB
Foto: Instagram/WearingKlamby Foto: Instagram/WearingKlamby

Jakarta -

Koleksi baju Lebaran Wearing Klamby menjadi fenomena baru di kalangan pecinta fashion Tanah Air. Brand busana yang melejit di tahun 2015 mengeluarkan lima koleksi Lebaran, dan selalu ludes di setiap peluncurannya.

Peluncuran koleksi ada yang dijual offline dan online. Saat dijual offline di acara HC Day akhir April lalu, ada lebih dari 500 orang yang bersedia mengantre untuk mendapatkan koleksi baju Lebaran 'Cantigi'. Para pelanggan juga rela antre dari pagi hingga malam, demi mendapatkan baju Lebaran idamannya.

Beberapa waktu lalu, Wearing Klamby merilis koleksi lebaran ketiga bertajuk Sasak secara online. Koleksi ini terdiri dari blouse dan dress dengan motif eksklusive buatan Nadine Gaus, selaku Founder Wearing Klamby. Peluncuran koleksi ini dianggap paling fenomenal karena jadi rebutan puluhan ribu orang.

Kisah Baju Lebaran Wearing Klamby yang Habis 5.000 Piece dalam 10 MenitFoto: Instagram/WearingKlamby

Website Wearing Klamby sempat mengalami eror, karena banyaknya pengunjung. Hal ini pun membuat para pelanggan komplain. Ada sekitar 12 ribu komentar banjir di postingan foto Wearing Klamby.

Kepada Wolipop, Muhammad Ridho selaku Co-Founder Wearing Klamby mengungkap kendala teknis yang membuat para pelanggan harus menunggu lama saat proses pembayaran. Penyebab utamanya adalah tingginya traffic, sehingga para pelanggan harus 'mengantre' di proses check out.

"Seluruh koleksi Sasak ini ada sekitar 4-5 ribuan, habis dalam beberapa menit saja. Nggak ada taktik marketing sama sekali. Pengunjung website di hari itu tercatat sekitar 61 ribu," ungkap Muhammad Ridho kepada Wolipop dihubungi via telepon pada Rabu (16/05/2019).

Kisah Baju Lebaran Wearing Klamby yang Habis 5.000 Piece dalam 10 MenitAntrian pelanggan Wearing Klamby di acara HC Day yang mencapai lebih dari 500 orang. Foto: Instagram/WearingKlamby

Customer Service (CS) Wearing Klamby juga menerima sekitar 5000 chat pada peluncuran koleksi Sasak tersebut. Isi chat tersebut bervariasi, dari yang bertanya tentang informasi produk hingga komplain. Ridho pun menambah CS dari tujuh menjadi sembilan orang. Semua tim CS lembur hingga jam 12 malam untuk menjawab chat yang menumpuk.

Ridho mengungkap sudah menggunakan server berskala internasional untuk website Wearing Klamby. Namun, karena memakai server luar negeri, menurutnya ada sistem pembayaran yang tidak singkron. Hal ini menyebabkan para pelanggan harus menunggu hingga dua jam untuk masuk ke proses pembayaran.

"Fenomenanya bisa dibilang luar biasa, bersyukur banget gitu. Ada juga beberapa customer yang ngejulid gitu. Tapi ya banyak loyal customer yang ikut ngebela," tutur Ridho kepada Wolipop.

Dalam 12 ribu komentar di satu foto Wearing Klamby, terdapat beragam macam ucapan. Mulai dari pernyataan, pujian, hujatan, hingga provokasi untuk beralih belanja ke brand lain. Tim CS Wearing Klamby pun membaca seluruh komentar tersebut tanpa terlewat.

"Sedihnya itu karena banyak pelanggan yang nggak kebagian. Padahal mungkin mereka uda meluangkan waktu seharian untuk bisa mendapatkan koleksi ini," tambah Ridho.

Salah satu pelanggan Wearing Klambu, Diba Anggara berhasil mendapatkan salah satu dress dari koleksi Sasak. Kepada Wolipop, ia mengungkap alasannya berjibaku untuk mendapatkan baju Lebaran Wearing Klamby.

"Awalnya aku tertarik karena harganya terjangkau buat baju yang didesain sendiri kaya gitu. Itu dulu sebelum rebutan banget banget kaya gini. Terus sekarang jatohnya kaya jadi penasaran gitu lho," ungkap Diba kepada Wolipop dihubungi via telepon pada Kamis (17/05/2019).

Nadine Gaus selaku pendisi dan creative director Wearing Klamby dikenal sangat detail dan perfeksionis dalam menciptakan produk Wearing Klamby. Itu pula yang menjadikan produknya dirasa 'worth it' untuk didapatkan karena dijual dengan harga cukup terjangkau. Untuk koleksi dress, Wearing Klamby dijual Rp 400 ribuan saja.

Dari lima koleksi Lebaran, tinggal satu koleksi lagi yang akan dirilis Wearing Klamby. Rencananya, Ridho akan merilis produknya secara sembunyi-sembunyi agar tidak terjadi rebutan dan antre panjang di website Wearing Klamby.




(sil/sil)