Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Universitas Mesir Jadi Kontroversi karena Larang Mahasiswi Pakai Jeans Robek

Arina Yulistara - wolipop
Sabtu, 14 Okt 2017 10:35 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: Instagram
Jakarta - Pada minggu lalu, salah satu universitas di Mesir --Egypt's Alexandria University-- mengeluarkan larangan untuk mahasiswa perempuannya memakai ripped jeans atau celana jeans robek. Aturan tersebut kemudian menjadi perdebatan berbagai pihak.

Tidak hanya membuat larangan penggunaan ripped jeans, Egypt's Alexandria University juga meminta mahasiswinya tak mengenakan pakaian ketat serta galabias (baju longgar yang panjangnya sampai menyentuh lantai). Sejumlah netizen dan mahasiswi sendiri tidak suka dengan adanya aturan itu.

Dekan dari Fakultas Pertanian Egypt's Alexandria University Tarek Serour, mengatakan bahwa aturan berlaku mulai 27 September 2017. Berbicara kepada media lokal, Al Masry Al Youm, Tarek menyatakan kalau aturan ini dibuat setelah ia melihat beberapa mahasiswi mengenakan celana jeans robek di kampus.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jenis pakaian ini tidak sesuai dan bertentangan dengan nilai, tradisi, serta agama kita. Saya segera memerintahkan kepala petugas keamanan untuk bertemu anak-anak perempuan agar tidak berpakaian seperti itu di kampus. Saya juga mengeluarkan arahan kepada petugas keamanan agar melarang mahasiswi yang melanggar aturan tersebut tidak diizinkan masuk kampus," ujar Tarek.

Menurut Tarek, jenis-jenis pakaian itu bisa memicu mahasiswi mengalami pelecehan seksual. Ia berharap aturan ini dapat membantu melindungi para mahasiswi agar tidak terjadi insiden yang merugikan seperti pemerkosaan dan lainnya.

"Apakah para murid perempuan datang ke sini untuk belajar atau membangkitkan nafsu laki-laki? Saya melakukan ini untuk melindungi mereka, mereka semua seperti anak-anak saya sendiri," katanya lagi.

Peraturan yang ditegakkan di Egypt's Alexandria University itu kemudian menjadi viral. Banyak yang menyebut larangan itu menjadi suatu kemunduran.

"Ada banyak masalah di universitas-universitas Mesir dan Anda hanya mengambil tindakan terhadap pemakaian celana jeans robek dan acara lamaran? Pelecehan terjadi tidak ada hubungannya dengan apa yang wanita kenakan," tulis pengguna Twitter @anycity.

"Wanita mengenakan rok pendek dan baju ketat sudah sejak 1970-an dan kami tidak pernah mendengar kasus pelecehan karena itu. Hari ini bahkan wanita yang serba tertutup pun pernah mengalami pelecehan. Ini tidak ada hubungannya dengan pakaian wanita, ini semua tentang bagaimana pria itu sendiri," ujar pengguna lainnya.

"Saya benar-benar menentang jenis larangan apa pun di universitas, entah itu niqab atau jeans robek. Selama orang yang memakainya tidak melakukan sesuatu yang tak sopan kepada orang lain, itu urusan pribadi," komentar Mohammed Elsheikh di Facebook.

Sementara itu, beberapa orang mendukung aturan tersebut.

"Jangan sebut saya regresif atau melawan kebebasan pribadi, tapi setiap saya melihat wanita maupun pria mengenakan jeans robek itu tidak nyaman," ujar salah satu pengguna Twitter bernama @FarahElbaghdadi.

"Bagaimana orangtua Arab mengizinkan anak perempuan mereka pergi ke universitas dengan pakaian itu," komentar penggunaFacebook bernamaZeinaHammad.
(aln/ami)
Tags

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads