Survei Terbaru: 42% Sekolah Islam di Inggris Mewajibkan Muridnya Berhijab

Arina Yulistara - wolipop Selasa, 26 Sep 2017 11:47 WIB
Foto: Thinkstock Foto: Thinkstock

Inggris - Hijab masih menjadi perdebatan di berbagai negara termasuk Inggris. Bahkan menurut survei terbaru sekitar 42% sekolah mewajibkan muridnya berhijab. Hal ini kemudian menjadi perdebatan antar beberapa pihak.

Ya, sebuah penelitian menemukan kalau dua dari lima sekolah Islam di Inggris meminta murid-murid perempuannya memakai jilbab karena merupakan bagian dari seragam sekolah. Sekitar 59 dari 142 sekolah Islam di Inggris termasuk SD membuat kebijakan kalau pemakaian hijab itu wajib. Hal tersebut juga diungkapkan oleh Badan National Secular Society (NSS).

Kebijakan itu menjadi kontroversi. Seperti NSS yang tak setuju dengan kewajiban berhijab di sekolah. Pihak NSS pun menulis surat kepada Education Secretary Justine Greening untuk mengungkapkan keprihatinannya atas hal ini. NSS menginginkan kalau hijab tidak menjadi seragam wajib ke sekolah tapi diberikan pilihan bebas saja terutama untuk murid-murid SD.

"Menurut pandangan kami, memaksa anak memakai jilbab atau barang religius lainnya bertentangan dengan nilai dasar di Inggris. Dengan norma HAM yang lebih luas akan hak anak-anak. Ini perlu segera ditangani," tulis pihak NSS seperti dilansir dari Metro.

Salah satu contoh sekolah di Inggris yang sudah menerapkan kebijakan tersebut adalah Feversham College di Bradford, Inggris. Sekolah Menengah Pertama (SMP) itu mengeluarkan kebijakan kalau seragam harus longgar dan sederhana. Jilbab menjadi seragam wajib digunakan oleh para murid perempuan.

Sementara 18 sekolah Islam lainnya menyatakan kalau kebijakan mereka soal jilbab adalah pilihan. Direktur NSS Stephen Evans pun menyarankan agar mengizinkan murid-murid yang masih duduk di bangku SD maupun SMP untuk bebas berekspresi termasuk memilih mengenakan jilbab atau tidak.

"Kebebasan individu bisa berarti apa saja, membiarkan anak-anak mengembangkan kepercayaan diri merek sendiri dan memutuskan sendiri bagaimana memilih. Sekolah harus memberdayakan anak perempuan untuk membuat keputusan sendiri begitu mereka siap melakukannya," ujar Stephen.




(ays/ays)