Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Viral Pria Ini Dijuluki 'Nabi AI,' Mendadak Bangkrut Jelang Menikah

Kiki Oktaviani - wolipop
Selasa, 04 Agu 2026 08:30 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Leopold Aschenbrenner
Foto: Dok. YouTube
Jakarta -

Leopold Aschenbrenner, pria 24 tahun yang dijuluki 'nabi AI', tengah menghadapi salah satu masa paling dramatis dalam hidupnya. Di saat seharusnya fokus mempersiapkan pernikahan dengan sang tunangan, Avital Balwit, ia justru harus menghadapi kerugian investasi bernilai miliaran dolar AS setelah hedge fund miliknya diterpa kejatuhan saham AI. Pernikahan pasangan yang dijuluki banyak orang sebagai AI royal wedding itu pun berlangsung di tengah gejolak finansial.

Kisah cinta Leopold dan Avital juga tak kalah menarik. Keduanya pertama kali bertemu saat sama-sama bekerja di FTX Future Fund, lembaga filantropi milik bursa kripto FTX. Ketika FTX bangkrut pada 2022, mereka sama-sama meninggalkan perusahaan tersebut. Hubungan mereka terus berlanjut hingga akhirnya sama-sama berkarier di industri kecerdasan buatan. Kini, Avital diketahui menjabat sebagai Kepala Staf CEO Anthropic, salah satu perusahaan AI terbesar di dunia.

Masalah mulai muncul ketika hedge fund milik Leopold, Situational Awareness, yang sempat mengelola aset sekitar US$45 miliar atau sekitar Rp 800 triliun, terpukul oleh anjloknya saham-saham AI. Hanya dalam Juli 2026, nilai portofolionya merosot 67%, salah satu penurunan paling tajam yang terjadi di sektor tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selama ini Leopold dikenal sebagai investor yang sangat agresif. Ia menggunakan pinjaman dari bank untuk memperbesar investasinya di sejumlah perusahaan AI, termasuk memiliki kepemilikan besar di Anthropic. Strategi itu sempat membuat dana kelolaannya melonjak dalam waktu singkat. Namun ketika saham AI berbalik turun, penggunaan utang justru memperbesar kerugiannya.

Akibat penurunan harga saham, bank meminta tambahan jaminan. Untuk menghentikan kerugian yang terus membengkak, Leopold akhirnya menjual sebagian besar portofolio saham publiknya kepada Citadel milik miliarder Ken Griffin. Dalam surat kepada para investor, Leopold mengakui kesalahannya.

ADVERTISEMENT

"Kami mengecewakan Anda bulan ini," tulisnya.

Kasus ini pun ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak yang menilai kesalahan terbesar Leopold bukan pada keyakinannya terhadap masa depan AI, melainkan karena menggunakan leverage atau utang dalam jumlah besar.

"Leopold Aschenbrenner mengira saham-saham AI hanya akan naik. Kenyataannya justru sebaliknya. Kesalahan utamanya adalah menggunakan utang untuk mendanai investasinya," tulis seorang netizen.

Netizen lain menambahkan, "Teorimu bisa saja benar. Bahkan mungkin akan terbukti benar pada akhirnya. Tapi kalau utangnya terlalu besar, pasar tidak perlu
membuktikan kamu salah. Pasar hanya perlu memaksamu menjual aset lebih dulu."

Jauh sebelum menjadi investor, Leopold sudah dikenal sebagai anak ajaib di dunia teknologi. Lahir di Berlin, Jerman, ia lulus SMA pada usia 15 tahun dan menjadi lulusan terbaik Columbia University saat baru berusia 19 tahun.

Setelah lulus, ia sempat bekerja di FTX Future Fund sebelum bergabung dengan OpenAI pada 2023 sebagai peneliti keamanan AI. Namun pada 2024, ia dipecat setelah dituduh membocorkan informasi rahasia perusahaan. Namanya semakin melambung setelah menerbitkan esai. Dalam tulisan itu, ia memprediksi Artificial General Intelligence (AGI) akan hadir lebih cepat dari perkiraan banyak orang. Prediksi tersebut membuatnya dijuluki 'nabi AI' hingga 'nostradamus AI' di Silicon Valley.

(kik/kik)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads