Dipaksa Lepas Jilbab, Para Pekerja Nigeria Lapor ke Pemerintah

Arina Yulistara - wolipop Rabu, 11 Jan 2017 16:41 WIB
Foto: Thinkstock (Ilustrasi)
Nigeria - Wanita berhijab di berbagai belahan dunia masih suka didiskriminasi hanya karena penggunaan jilbab mereka. Kali ini pengalaman tidak menyenangkan dialami oleh sejumlah hijabers asal Nigeria khususnya warga Osun. Mereka mengaku mendapatkan sikap diskriminasi setelah menolak lepas jilbab.

Di awal 2017, Gubernur Osun, Mr Rauf Aregbesola, ingin mengumpulkan data para pekerja di Osun, Nigeria. Dengan alasan tersebut, Rauf meminta perusahaan swasta Chams Ltd untuk melakukan data capturing terhadap semua masyarakat yang bekerja. Ketika pengumpulan data dilakukan rupanya terjadi diskriminasi yang diakui oleh beberapa wanita berhijab.

Para hijabers yang tak mau disebutkan namanya mengatakan kalau mereka diminta melepas jilbabnya ketika data capturing sedang dilakukan. Berbicara kepada Channels TV, para muslimah kecewa karena mereka mendapatkan sikap tidak adil saat menolak melepas jilbab.

"Mereka tidak akan melayani saya kalau tidak melepas jilbab. Saya katakan kepada mereka bahwa saya telah melakukan screening data dan saya tidak akan melepas jilbab," ujar salah satu perempuan berkulit hitam.

Wanita berhijab lain yang mengaku sebagai staf di Ladoke Akintola University of Technology Teaching Hospital (LAUTECHTH) menyatakan kalau ia diusir karena menolak melepas jilbab. Hal ini tentu sungguh membuatnya merasa kecewa.

"Beberapa saudara sesama muslim tidak ingin bermasalah sehingga mereka terpaksa melepas jilbabnya tapi aku memiliki KTP dan Voters Card, tidak ada satu pun orang yang bisa memaksaku melepas jilbab karena aku punya hak," tegas wanita tersebut.

Para pekerja berhijab yang kecewa karena diminta lepas jilbab saat melakukan pendataan ulang protes ke Rauf. Mereka mengatakan seharusnya gubernur tidak lagi menggunakan jasa dari Chams Ltd.

"Mereka tidak melayani saya sampai saya meninggalkan lokasi setelah jam 5 sore. Saya pikir gubernur harus memanggil mereka dan tidak memakai jasa mereka lagi," protes seorang hijabers mewakili pekerja berhijab lainnya.

Komunitas muslim dari LAUTECH mengatakan kalau mereka akan membawa masalah ini ke jalur hukum bila semakin banyak keluahan yang dialami para wanita berhijab. Menanggapi masalah itu, pihak Chams Ltd menolak untuk berkomentar. Sementara itu, Kepala Chams Ltd di Osogbo, Nigeria, telah berjanji bahwa masyarakat muslim akan diizinkan untuk melakukan pendataan ulang tanpa melepas jilbab mereka.





(ays/ays)