Mahasiswi Non-muslim di Universitas AS Ini Berhijab Sehari Demi Solidaritas
Arina Yulistara - wolipop
Kamis, 08 Des 2016 18:37 WIB
Jakarta
-
Setelah Donald Trump menjadi presiden, sekolah hingga universitas banyak yang menggelar acara hijab sebagai bentuk solidaritas. Acara yang digelar bermacam-macam seperti meminta mahasiswi yang tidak mengenakan jilbab coba berhijab selama satu hari atau seminggu.
Biasanya setiap mahasiswi yang berpartisipasi mengikuti acara tersebut memang karena kemauan sendiri bukan paksaan. Namun kini ada sumber mengatakan bahwa di salah satu universitas Amerika Serikat (AS) memaksa mahasiswinya untuk menggunakan jilbab selama satu hari. Universitas yang dimaksud adalah University of Wisconsin-Madison. Benarkah hal tersebut?
Dikutip dari Snopes, pada tanggal 4 Desember kemarin, situs Conservative Daily Post menerbitkan sebuah artikel yang melaporkan kalau universitas tersebut menuntut para mahasiswinya mengenakan jilbab selama acara Islam Appreciation Week. Acara digelar oleh University of Wisconsin Muslim Student Association dan Wisconsin Union Directorate Global Connection.
Tuntutan kepada para mahasiswi agar berhijab dikabarkan guna untuk menunjukkan dukungan kepada hijabers karena meningkatnya laporan kasus penyerangan terhadap masyarakat muslim sejak kemenangan Trump. Dengan menggunakan hijab selama satu hari maka mereka bisa merasakan menjadi seorang wanita muslim yang setiap hari mengenakannya.
Memang benar Islam Appreciation Week digelar di University of Wisconsin tapi tidak ada tuntutan kepada seluruh mahasiswinya untuk berhijab. Dalam acara itu, para mahasiswi bisa mencoba menggunakan jilbab selama satu hari tanpa dipaksa oleh panitia acara atau pihak kampus.
Acara 'Hijab For A Day' itu mempunyai tujuan untuk memecah stereotipe dan mengatasi Islamophobia di kampus. Mereka ingin menunjukkan bahwa jilbab hanyalah syal yang menutupi kepala hingga leher dan orang memilih untuk memakainya bukan dipaksa.
"Kita mendorong semua orang untuk memakai jilbab selama satu hari dalam rangka mencoba memahami bagaimana rasanya berjilbab di kampus. Kita berharap mereka yang ikut berpartisipasi akan mendapatkan perspektif berbeda dan pemahaman yang lebih baik," ujar pihak perwakilan dari The Muslim Student Association.
Bila Conservative Daily Post melaporkan bahwa University of Wisconsin-Madison memaksa semua mahasiswinya berhijab (sekitar 15 ribu orang), koran harian Daily Cardinal menyebutkan hanya 45 mahasiswi non-muslim yang berpartisipasi dalam Hijab For A Day.
Bagi wanita muslim, menggunakan hijab setiap hari memang memiliki tantangan tersendiri. Ketika orang lain terutama yang non-muslim mencoba menjadi hijabers mereka juga akan merasakannya.
Wisconsin Union Directorate Global Connections Director Swetha Saseedhar bersama Muslim Student Association members Noor Hammad dan Iffa Bhuiyan juga menuturkan kalau acara ini memang sebagai aksi solidaritas agar orang-orang sadar kalau wanita berhijab punya hak yang sama dengan mahasiswi lainnya.
"Orang-orang mungkin tidak terbiasa melihat seseorang yang mereka kenal emakai jilbab. Dengan adanya acara ini mereka jadi bisa melihat keindahan dari hijab. Bukan hanya memandang hijabers sebagai wanita tertindas tapi sama dengan wanita lainnya. Dan orang yang memakainya juga akan merasa bahwa wanita berhijab punya hak yang sama," pungkas Saseedhar. (ays/ays)
Biasanya setiap mahasiswi yang berpartisipasi mengikuti acara tersebut memang karena kemauan sendiri bukan paksaan. Namun kini ada sumber mengatakan bahwa di salah satu universitas Amerika Serikat (AS) memaksa mahasiswinya untuk menggunakan jilbab selama satu hari. Universitas yang dimaksud adalah University of Wisconsin-Madison. Benarkah hal tersebut?
Dikutip dari Snopes, pada tanggal 4 Desember kemarin, situs Conservative Daily Post menerbitkan sebuah artikel yang melaporkan kalau universitas tersebut menuntut para mahasiswinya mengenakan jilbab selama acara Islam Appreciation Week. Acara digelar oleh University of Wisconsin Muslim Student Association dan Wisconsin Union Directorate Global Connection.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Memang benar Islam Appreciation Week digelar di University of Wisconsin tapi tidak ada tuntutan kepada seluruh mahasiswinya untuk berhijab. Dalam acara itu, para mahasiswi bisa mencoba menggunakan jilbab selama satu hari tanpa dipaksa oleh panitia acara atau pihak kampus.
Acara 'Hijab For A Day' itu mempunyai tujuan untuk memecah stereotipe dan mengatasi Islamophobia di kampus. Mereka ingin menunjukkan bahwa jilbab hanyalah syal yang menutupi kepala hingga leher dan orang memilih untuk memakainya bukan dipaksa.
"Kita mendorong semua orang untuk memakai jilbab selama satu hari dalam rangka mencoba memahami bagaimana rasanya berjilbab di kampus. Kita berharap mereka yang ikut berpartisipasi akan mendapatkan perspektif berbeda dan pemahaman yang lebih baik," ujar pihak perwakilan dari The Muslim Student Association.
Bila Conservative Daily Post melaporkan bahwa University of Wisconsin-Madison memaksa semua mahasiswinya berhijab (sekitar 15 ribu orang), koran harian Daily Cardinal menyebutkan hanya 45 mahasiswi non-muslim yang berpartisipasi dalam Hijab For A Day.
Bagi wanita muslim, menggunakan hijab setiap hari memang memiliki tantangan tersendiri. Ketika orang lain terutama yang non-muslim mencoba menjadi hijabers mereka juga akan merasakannya.
Wisconsin Union Directorate Global Connections Director Swetha Saseedhar bersama Muslim Student Association members Noor Hammad dan Iffa Bhuiyan juga menuturkan kalau acara ini memang sebagai aksi solidaritas agar orang-orang sadar kalau wanita berhijab punya hak yang sama dengan mahasiswi lainnya.
"Orang-orang mungkin tidak terbiasa melihat seseorang yang mereka kenal emakai jilbab. Dengan adanya acara ini mereka jadi bisa melihat keindahan dari hijab. Bukan hanya memandang hijabers sebagai wanita tertindas tapi sama dengan wanita lainnya. Dan orang yang memakainya juga akan merasa bahwa wanita berhijab punya hak yang sama," pungkas Saseedhar. (ays/ays)
Perawatan dan Kecantikan
Kulit Lebih Fresh dalam 15 Menit, Rahasia Glow Alami dengan SKINFOOD Food Mask!
Perawatan dan Kecantikan
Rahasia Kulit Bebas Jerawat Saat Lebaran dengan Numbuzin No.1 Pantothenic B5 Active Soothing Cream, Skincare Favorit dari Korea!
Elektronik & Gadget
Lari, Gowes, atau Workout? Tetap Dengar Sekitar dengan JOVITECH Wireless BC61 Bone Conduction Runfree Earphone!
Perawatan dan Kecantikan
Review Cushion Lokal Favorit untuk Makeup Lebaran yang Flawless dan Tahan Seharian!
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
8 Amalan Lailatul Qadar yang Bisa Dilakukan Wanita Saat Haid
Baju Lebaran 2026
7 Inspirasi Baju Tunik Lebaran 2026 yang Kece dan Modis
Baju Lebaran 2026
Baju Lebaran Diskon 50% di GlamLocal Ramadan Grand Metropolitan Mall Bekasi
40 Ucapan Lebaran Bahasa Inggris untuk Parcel Lebaran, Simple tapi Bermakna
Jenna Kaia & Bath & Body Works Kolaborasi Hadirkan Modest Wear dan Aroma Mewah
Most Popular
1
8 Amalan Lailatul Qadar yang Bisa Dilakukan Wanita Saat Haid
2
Gaya Effortless Sherina Munaf di Acara One Piece Live Action, Banjir Pujian
3
Pramugari Ungkap Kelakuan Miliuner di Superyacht: Cincin Kawin Hanya Dekorasi
4
Gaya Fuji & Felicya Angelista Kompak Tampil Bak Artis Bollywood Pakai Lehenga
5
Potret Gaya Paula Verhoeven Bercadar Saat Umrah di Bulan Ramadhan
MOST COMMENTED











































