Lagi, Mahasiswi & Dosen AS Berhijab Demi Solidaritas karena Trump
Arina Yulistara - wolipop
Jumat, 25 Nov 2016 17:14 WIB
Jakarta
-
Setelah murid dan guru berhijab sehari di Minnesota, Amerika Serikat (AS) yang mengikuti aksi solidaritas demi mendukung teman-teman muslim, kini mahasiswi, dosen, hingga staf kampus di kawasan Virginia juga turut mengenakan jilbab selama satu hari. Aksi solidaritas yang dilakukan sejak Donald Trump terpilih menjadi Presiden AS itu dilakukan di Marshall University, West Virginia, AS.
Aksi kali ini dipimpin oleh komunitas mahasiswi muslim, Muslim Student Association (MSA). Orang-orang yang memilih untuk berpartisipasi membawa scarf atau syal masing-masing untuk dipakai selama satu hari pada Rabu minggu lalu.
Para peserta juga membawa peniti untuk menggunakan jilbabnya. Mereka berkumpul di Memorial Student Center mulai pukul 08.00 sampai 11.00. Ketua MSA, Suzann Al-Qawasmi, mengatakan aksi solidaritas ini terinspirasi dari wanita berhijab lainnya yang menjadi korban Islamophobia.
"Acara ini digelar karena terinspirasi dari gadis-gadis Amerika Serikat yang mendapat penyerangan karena jilbab mereka. Ancaman pasca pemilu juga membuat banyak wanita takut memakai jilbab keluar rumah," papar Suzann.
Baca juga: Polisi Skotlandia Umumkan Hijab Resmi Menjadi Bagian Seragam Polwan Muslim
Suzann menambahkan, banyak orang tidak tahu tentang Islam adalah agama yang indah. Tidak diajarkan kejahatan dalam Islam. Tapi tak semua orang paham akan hal tersebut. Dengan aksi solidaritas ini, ia berharap wanita berhijab bisa terus mendapat dukungan untuk dapat bebas mengenakan jilbabnya di tempat umum.
"Kadang melelahkan karena harus terus membela agama kita. Tapi demi umat Islam di seluruh dunia, kami merasa ini menjadi kewajiban kita untuk melakukannya. Sekarang, lebih dari sebelumnya, kita perlu bersatu, membuat suara kita lebih keras," tambahnya.
Malak Khader selaku wakil presiden MSA menambahkan bahwa setelah pemilu ia sempat khawatir dengan kelangsungan hidup masyarakat muslim ke depannya. Mengingat kampanye Trump yang 'Anti Muslim'.
Tidak hanya itu, banyaknya berita mengenai lonjakan kasus penyerangan karena identitas agama serta penggunaan hijab membuat masyarakat muslim merasa takut. Namun ia sadar kalau banyak orang di sekitarnya yang menyediakan 'punggung' mereka untuk berlindung.
"Sejak pemilu, begitu banyak orang mengulurkan tangan kepada komunitas muslim untuk memberitahu kami bahwa mereka akan melindungi kami. Secara pribadi saya merasa banyak cinta dan dukungan dari orang-orang sejak 8 November kemarin. Melalui gerakan ini, kami hanya ingin memberitahu bahwa jilbab hanya selembar kain, tidak lebih, bukan sesuatu yang harus ditakuti," pungkas Khader.
Baca juga: Tren Busana dengan Lengan Terompet dari Selebgram Hijab Indonesia (ays/ays)
Aksi kali ini dipimpin oleh komunitas mahasiswi muslim, Muslim Student Association (MSA). Orang-orang yang memilih untuk berpartisipasi membawa scarf atau syal masing-masing untuk dipakai selama satu hari pada Rabu minggu lalu.
Para peserta juga membawa peniti untuk menggunakan jilbabnya. Mereka berkumpul di Memorial Student Center mulai pukul 08.00 sampai 11.00. Ketua MSA, Suzann Al-Qawasmi, mengatakan aksi solidaritas ini terinspirasi dari wanita berhijab lainnya yang menjadi korban Islamophobia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Polisi Skotlandia Umumkan Hijab Resmi Menjadi Bagian Seragam Polwan Muslim
Foto: The Herald-Dispatch |
Suzann menambahkan, banyak orang tidak tahu tentang Islam adalah agama yang indah. Tidak diajarkan kejahatan dalam Islam. Tapi tak semua orang paham akan hal tersebut. Dengan aksi solidaritas ini, ia berharap wanita berhijab bisa terus mendapat dukungan untuk dapat bebas mengenakan jilbabnya di tempat umum.
"Kadang melelahkan karena harus terus membela agama kita. Tapi demi umat Islam di seluruh dunia, kami merasa ini menjadi kewajiban kita untuk melakukannya. Sekarang, lebih dari sebelumnya, kita perlu bersatu, membuat suara kita lebih keras," tambahnya.
Malak Khader selaku wakil presiden MSA menambahkan bahwa setelah pemilu ia sempat khawatir dengan kelangsungan hidup masyarakat muslim ke depannya. Mengingat kampanye Trump yang 'Anti Muslim'.
Tidak hanya itu, banyaknya berita mengenai lonjakan kasus penyerangan karena identitas agama serta penggunaan hijab membuat masyarakat muslim merasa takut. Namun ia sadar kalau banyak orang di sekitarnya yang menyediakan 'punggung' mereka untuk berlindung.
"Sejak pemilu, begitu banyak orang mengulurkan tangan kepada komunitas muslim untuk memberitahu kami bahwa mereka akan melindungi kami. Secara pribadi saya merasa banyak cinta dan dukungan dari orang-orang sejak 8 November kemarin. Melalui gerakan ini, kami hanya ingin memberitahu bahwa jilbab hanya selembar kain, tidak lebih, bukan sesuatu yang harus ditakuti," pungkas Khader.
Baca juga: Tren Busana dengan Lengan Terompet dari Selebgram Hijab Indonesia (ays/ays)
Hobbies & Activities
Upgrade Raket Padel Andalan! 4 Rekomendasi Produk Biar Makin Semangat Latihan!
Hobbies & Activities
Nggak Cuma untuk Anak! Ini Rekomendasi Mainan Anti Stres untuk Dewasa, Bikin Pikiran Lebih Rileks
Hobbies & Activities
Berkendara Lebih Aman dan Tenang dengan Dashcam Retouch Riding System Sprite S2
Home & Living
Tidur Jadi Lebih Nyaman! Kasur dari Turu Lana Ini Bikin Tidur Kamu Makin Berkualitas!
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Eksplorasi Bordir dan Motif Floral untuk Baju Lebaran 2026 dari Bwbyaz
Kaleidoskop 2025
Ini 7 Tren Hijab 2025: Pashmina Meleyot, Motif hingga Menjuntai
Kaleidoskop 2025
Ini Brand Hijab yang Menguasai Tren 2025, dari Lafiye hingga Na The Label
Bank Mega Syariah Resmi Luncurkan Program Loyalitas MPC Points
Juara Emeron Hijab Hunt Nakeisha Rilis Single Nanti, Ini Kisah di Baliknya
Most Popular
1
Perampok Gugat Balik Nana eks After School, Kini Ngaku Diimingi 40 Juta Won
2
Gantengnya Park Bo Gum Pakai Hanbok, Cetak Rekor Dilihat 22 Juta Kali
3
7 Rekomendasi Drama Korea tentang Musuh Jadi Cinta yang Bikin Baper
4
Sinopsis Greenland, Film di Bioskop Trans TV Hari Ini
5
130 Tahun Monogram Louis Vuitton: Sejarah, Inovasi, dan Warisan Abadi
MOST COMMENTED












































Foto: The Herald-Dispatch