Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Cerita Gadis Kecil Bangladesh yang Belajar Mandiri Lewat Berselancar

Daniel Ngantung - wolipop
Kamis, 07 Apr 2016 09:50 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: People
Jakarta - Bagi sejumlah gadis kecil di Cox's Bazar, Bangladesh, surfing atau berselancar bukan sekedar mengisi waktu luang. Dengan berselancar, mereka belajar mandiri dan pentingnya mengejar impian. Hidup mereka pun terasa lebih berarti.

Cox's Bazar adalah sebuah kota pesisir di Bangladesh yang dikenal sebagai kota nelayan sekaligus destinasi wisata favorit para turis asing berkat pantainya. Tidak hanya itu, Cox's Bazar juga menjadi primadona bagi para peselancar.

Adapun masyarakat lokal pertama kali mengenal olahraga tersebut sekitar 25 tahun lalu setelah sebuah papan selancar milik seorang turis Australia tertinggal di situ.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di kota ini, para gadis kecil sudah dituntut untuk bekerja oleh orangtuanya. Mereka biasanya menjajakan buah tangan dan makanan untuk turis dari pagi sampai malam. Begitu terus turun-temurun. Kalau tidak mau bekerja, pilihan lain adalah menikah di usia dini. Mereka pun terpaksa mengubur impian dan cita-cita pribadi.

Namun itu mulai berubah secara perlahan ketika seorang gadis cilik bernama Shoma Akthar pada 2013 menghampiri Rashed Alam, penjaga pantai setempat, yang tengah bersiap berselancar. Ia bersikeras meminta Rashed mengajarinya berselancar.

Melihat Shoma asyik berselancar, teman-teman sepantarannya pun tertarik untuk mencoba. Mereka begitu menyukainya sampai-sampai berusaha sebisa mungkin mencuri waktu di tengah kesibukan untuk berselancar.

"Sebelumnya hidupku hanyalah membuat perhiasan di rumah lalu pergi menjualnya, dan begitu seterusnya sampai aku tidur. Ketika mulai berselancar, aku mulai berpikir tentang impianku," ujar Mayasha, 14 tahun, teman Shoma, seperti dikutip People.

Berselancar tidak sekedar menyadarkan para wanita ini pentingnya memiliki impian pribadi tapi sekaligus membuka pintu untuk meraihnya. Istri Alam yang juga seorang ekspatriat asal Amerika Serikat, Vanessa Rude, memberikan kursus Bahasa Inggris gratis kepada mereka. Beberapa di antaranya juga berkesempatan dilatih sebagai penjaga pantai.

Alam berharap, suatu saat mereka bisa menjadi penerusnya. Dengan pekerjaan yang tetap, kata Alam, mereka bisa hidup mandiri sehingga terhindar dari pernikahan dini.

Bagi mereka yang mempunyai bakat berselancar, ada kesempatan untuk mengikuti kompetisi berselancar yang nilai hadiahnya setara dengan gaji beberapa bulan.

Shoma adalah salah seorang pemenang sebuah kompetisi berselancar tingkat lokal. Keluar sebagai juara ketiga, ia berhak membawa pulang hadiah sebesar US$ 40 atau sekitar Rp 520.000.

Hadiah tersebut rupanya cukup untuk meyakinkan ibunya bahwa ia mampu hidup mandiri dan berhak mengejar cita-citanya terlepas dari 'tradisi' masyarakat setempat, yakni menikah dini atau bekerja sebagai pedagang.

"Dia bisa menikah kapan saja. Mungkin suatu saat nanti dia sedang berselancar di Hawaii," ungkap Maryam Katho, ibunda Shoma. (dng/ays)
Tags

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads