Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Suka Makan Pedas? Ternyata Cabai Baik untuk Kesehatan dan Bantu Panjang Umur

Hestianingsih Hestianingsih - wolipop
Selasa, 25 Agu 2026 08:00 WIB
...
Young woman sitting at an outdoor cafe, surprised by the heat and piquancy of her soup, showcasing a humorous dining experience
Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta -

Suka makanan pedas? Ada kabar baik untuk kamu. Menurut penelitian, sering menyantap makanan pedas bisa menyehatkan tubuh hingga memperpanjang usia.

Bagi pencinta makanan pedas, sensasi panas dari cabai, sambal, atau kari memang membuat santapan terasa makin nikmat. Rasa pedas tersebut mungkin juga memberikan manfaat lebih bagi tubuh.

Makanan pedas yang mengandung capsaicin, senyawa yang memberikan sensasi pedas pada cabai, telah dikaitkan dengan sejumlah proses dalam tubuh yang berhubungan dengan kesehatan jangka panjang. Lantas, apa sebenarnya yang terjadi pada tubuh ketika kita makan makanan pedas? Apakah semakin pedas berarti semakin sehat?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ahli gastroenterologi Savita Srivastava, MD, menjelaskan bahwa sensasi terbakar setelah menggigit cabai berkaitan dengan reaksi tubuh terhadap 'ancaman'. Cabai sebenarnya tidak benar-benar membakar mulut atau saluran pencernaan. Rasa panas muncul karena capsaicin mengaktifkan reseptor tubuh yang mendeteksi panas.

"Ketika kamu menggigit cabai yang sangat pedas, sensasi yang dirasakan bukanlah luka bakar kimiawi secara fisik pada lapisan saluran pencernaan. Sebaliknya, kamu sedang mengalami interaksi antara otak dan usus secara langsung," jelas Savita, seperti dikutip dari Real Simple.

ADVERTISEMENT

Capsaicin bekerja dengan menempel pada reseptor bernama TRPV1 (Transient Receptor Potential Vanilloid 1) yang terdapat di saluran pencernaan. Reseptor ini berperan dalam menghasilkan sensasi panas dan nyeri.

Dalam kondisi normal, TRPV1 berfungsi seperti termostat tubuh yang memberi tahu otak ketika suhu mencapai tingkat yang berbahaya.

"Capsaicin menurunkan ambang aktivasi TRPV1 sehingga membuat otak seolah-olah percaya bahwa mulut kita sedang terbakar dengan cepat," lanjutnya.

"Hal ini kemudian mengaktifkan mekanisme perlindungan tubuh untuk menghadapi kondisi yang dianggap sebagai suhu sangat tinggi."

Young woman sitting at an outdoor cafe, surprised by the heat and piquancy of her soup, showcasing a humorous dining experienceFoto: Getty Images/frantic00

Itulah sebabnya tubuh bisa memberikan berbagai reaksi setelah mengonsumsi makanan pedas.

- Wajah memerah dan berkeringat: otak memberi sinyal kepada pembuluh darah untuk melebar sebagai salah satu cara tubuh melepaskan panas. Pelebaran pembuluh darah dapat membuat wajah memerah, detak jantung meningkat, dan kelenjar keringat terbuka sehingga menyebabkan produksi keringat berlebih.

- Hidung atau mata berair: tubuh juga dapat memproduksi lebih banyak lendir. Akibatnya, hidung bisa berair atau mata mengeluarkan air mata sebagai respons terhadap zat yang dianggap mengiritasi.

- Perut terasa mulas atau bergemuruh: saluran pencernaan juga ikut bereaksi terhadap capsaicin. Otot dan lapisan lendir pada saluran pencernaan juga dapat bekerja lebih keras untuk mengeluarkan capsaicin. Gerakan peristaltik usus dapat menjadi lebih cepat untuk mendorong makanan pedas melewati saluran pencernaan. Dalam beberapa kasus, hal ini bisa menyebabkan feses menjadi lebih lunak atau diare.

- Muncul rasa senang: uniknya, makanan pedas juga dapat membuat sebagian orang merasa senang setelah melewati sensasi panasnya. Untuk mengatasi sinyal rasa sakit tersebut, otak melepaskan endorfin dan dopamin sehingga menciptakan rasa euforia ringan yang membuat makanan pedas terasa menyenangkan bagi sebagian orang.

Manfaat Makanan Pedas untuk Kesehatan

Ilustrasi cabaiFoto: iStock

Di balik sensasi panas yang ditimbulkan, konsumsi capsaicin dan makanan pedas secara rutin memberi sejumlah manfaat kesehatan jangka panjang. Salah satunya memelihara kesehatan jantung.

"Manfaat cabai terhadap kesehatan kardiometabolik merupakan salah satu bidang penelitian yang menarik," kata Savita.

Capsaicin dapat merangsang produksi nitric oxide, senyawa yang membantu pembuluh darah menjadi lebih rileks dan melebar. Mekanisme tersebut berpotensi membantu menjaga tekanan darah. Kadar lemak darah juga mungkin mendapatkan manfaat.

"Penelitian menunjukkan bahwa makanan pedas membantu melindungi LDL atau kolesterol 'jahat' dari oksidasi, yang merupakan salah satu pemicu utama penumpukan plak. Pada saat yang sama, makanan pedas dapat membantu memperbaiki profil lemak darah secara keseluruhan dan meningkatkan HDL," jelasnya.

Salah satu penelitian besar mengamati hampir 23.000 orang dewasa. Hasilnya, konsumsi cabai empat kali atau lebih dalam seminggu, risiko kematian akibat penyakit jantung 34% lebih rendah. Penelitian tersebut juga menemukan penurunan risiko kematian akibat penyakit jantung iskemik sebesar 44% dan akibat stroke sebesar 61%.

Namun, penting dicatat bahwa temuan tersebut menunjukkan hubungan, bukan berarti makan cabai secara langsung menjamin seseorang terhindar dari penyakit jantung atau pasti berumur lebih panjang.

Bisa Bantu Meningkatkan Metabolisme

Capsaicin bekerja melalui proses yang disebut termogenesis, yaitu proses ketika tubuh menghasilkan panas dan menggunakan energi. Konsumsi makanan pedas juga dapat mengaktifkan brown adipose tissue atau jaringan lemak cokelat. Jenis lemak ini berbeda dari lemak tubuh yang menyimpan energi karena salah satu fungsinya adalah menggunakan energi.

Capsaicin juga diduga dapat memengaruhi nafsu makan.

"Selain meningkatkan laju metabolisme saat tubuh beristirahat dan membantu tubuh menggunakan lemak sebagai sumber energi, capsaicin juga dapat memengaruhi hormon yang mengatur nafsu makan sehingga membantu mengendalikan keinginan makan," terangnya.

Dengan demikian, makanan pedas berpotensi menjadi salah satu bagian dari pola makan yang mendukung metabolisme dan pengaturan asupan kalori. Namun, tentu saja, makanan pedas bukanlah solusi satu-satunya untuk menurunkan berat badan.

Tidak Semua Orang Cocok Makan Pedas

Meski memiliki sejumlah potensi manfaat, makanan pedas tidak cocok untuk semua orang. Capsaicin umumnya aman dan bermanfaat bagi orang yang sehat, tetapi dapat memperburuk kondisi pencernaan dan penyakit tertentu yang sudah ada sebelumnya.

Respons tubuh terhadap makanan pedas juga sangat individual. Reaksi yang mungkin mendukung kesehatan kardiometabolik pada sebagian orang justru dapat memicu masalah pencernaan pada mereka yang memiliki kondisi tertentu.

Orang dengan beberapa masalah berikut sebaiknya membatasi atau menghindari makanan pedas, terutama jika makanan tersebut memicu gejala:

* GERD dan refluks asam lambung
* Irritable bowel syndrome (IBS) atau sindrom iritasi usus
* Inflammatory bowel disease (IBD) atau penyakit radang usus

(hst/hst)
...
Hide Ads