Punya Perut Buncit? Waspada, Bisa Jadi Tanda Anda Stres Akut
Hestianingsih - wolipop
Minggu, 22 Sep 2013 12:42 WIB
Jakarta
-
Saat stres, orang akan merasakan tekanan pada punggung, leher dan kepala. Gejala stres biasanya ditandai dengan kesulitan untuk tidur, tidak bisa konsentrasi dan tidak enak/banyak makan. Tapi ada beberapa gejala stres yang mungkin tidak banyak orang ketahui dan berdampak pada kondisi fisik. Ini empat tanda Anda mengalami stres akut yang patut diwaspadai, seperti dikutip dari Canadian Living.
1. Kesulitan Mengingat
Ketika di bawah tekanan, hormon stres yang dinamakan cortisol sebenarnya cukup berguna untuk membuat Anda lebih fokus terhadap masalah yang dihadapi. Tapi di sisi lain hormon ini juga melemahkan sistem yang lainnya, termasuk kemampuan otak untuk mengingat dan belajar. Hal ini karena tubuh harus mengerahkan energi agar hanya bisa berkonsentrasi sampai masalah yang membuat stres itu teratasi.
Dijelaskan Leslie Atkinson, scientific director di Institut for Stress and Wellbeing Research, Universitas Ryerson, stres dalam jangka pendek berdampak positif. Tapi jika berkepanjangan bisa membuat Anda jadi pelupa dan kesulitan mempelajari sesuatu yang baru. Jika Anda akhir-akhir ini sering kelupaan dimana menyimpan kunci atau sulit mengingat catatan penting, maka bisa diperkirakan Anda sedang mengalami stres berat.
2. Perut Membuncit
Zaman dahulu, nenek moyang manusia menyimpan lemak sebagai energi yang akan digunakan bagi tubuh untuk bergerak cepat saat berkelahi atau berada dalam kondisi bahaya. Misalnya melawan hewan buas atau mencari makanan. Perut, merupakan bagian tubuh yang paling banyak menyimpan lemak.
"Sistem stres adalah bagian dari perangkat evolusi manusia. Dia berkembang (berevolusi) untuk membuat generasi berikutnya tetap hidup," jelas Leslie.
Di zaman sekarang, stres juga memicu respon yang sama terhadap tubuh. Produksi hormon cortisol yang berlebihan akibat stres bisa menyebabkan lemak menumpuk di area perut, baik pada orang gemuk maupun kurus.
3. Tidak Subur dan Haid Tidak Lancar
Stres memengaruhi kelenjar hypothalamus pada otak, yang bertanggungjawab mengatur hormon yang memproduksi sel-sel telur pada wanita. Seperti telah disebutkan pada poin sebelumnya, ketika sedang tertekan atau dalam bahaya, tubuh akan memfokuskan energi untuk melawannya dan bisa memengaruhi siklus menstruasi juga ovulasi ketika kondisinya lebih tenang.
4. Gangguan pada Perut dan Usus
Pernah merasakan seperti ada kupu-kupu di dalam perut saat mengalami masalah atau berada dalam tekanan? Hal itu terjadi karena perut dan otak sangat berhubungan dan stres, memengaruhi kondisi fisik pada perut. Stres bisa meningkatkan risiko penyakit yang berhubungan dengan abdominal seperti infeksi usus, maag, alergi makanan, iritasi pada usus dan sakit perut berkepanjangan.
Menurut laporan dari Harvard Medical School, stres bisa membuat orang yang bermasalah dengan pencernaan merasakan sakit lebih hebat daripada saat tidak dalam keadaan stres. Meskipun tidak semua gangguan pencernaan berhubungan dengan stres, laporan itu menyebutkan dari 13 studi yang di-review, menunjukkan pasien yang menjalani terapi psikologi sembuh lebih cepat ketimbang pasien yang dirawat dengan cara konvensional.
Stres bisa dikurangi dengan beberapa cara. Salah satunya dengan menuliskan atau menyebutkan sesuatu yang baik tentang diri Anda sendiri. Buatlah target dalam hidup yang mudah untuk dicapai dalam waktu dekat, yang sesuai dengan sifat positif Anda.
(hst/eny)
1. Kesulitan Mengingat
Ketika di bawah tekanan, hormon stres yang dinamakan cortisol sebenarnya cukup berguna untuk membuat Anda lebih fokus terhadap masalah yang dihadapi. Tapi di sisi lain hormon ini juga melemahkan sistem yang lainnya, termasuk kemampuan otak untuk mengingat dan belajar. Hal ini karena tubuh harus mengerahkan energi agar hanya bisa berkonsentrasi sampai masalah yang membuat stres itu teratasi.
Dijelaskan Leslie Atkinson, scientific director di Institut for Stress and Wellbeing Research, Universitas Ryerson, stres dalam jangka pendek berdampak positif. Tapi jika berkepanjangan bisa membuat Anda jadi pelupa dan kesulitan mempelajari sesuatu yang baru. Jika Anda akhir-akhir ini sering kelupaan dimana menyimpan kunci atau sulit mengingat catatan penting, maka bisa diperkirakan Anda sedang mengalami stres berat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Zaman dahulu, nenek moyang manusia menyimpan lemak sebagai energi yang akan digunakan bagi tubuh untuk bergerak cepat saat berkelahi atau berada dalam kondisi bahaya. Misalnya melawan hewan buas atau mencari makanan. Perut, merupakan bagian tubuh yang paling banyak menyimpan lemak.
"Sistem stres adalah bagian dari perangkat evolusi manusia. Dia berkembang (berevolusi) untuk membuat generasi berikutnya tetap hidup," jelas Leslie.
Di zaman sekarang, stres juga memicu respon yang sama terhadap tubuh. Produksi hormon cortisol yang berlebihan akibat stres bisa menyebabkan lemak menumpuk di area perut, baik pada orang gemuk maupun kurus.
3. Tidak Subur dan Haid Tidak Lancar
Stres memengaruhi kelenjar hypothalamus pada otak, yang bertanggungjawab mengatur hormon yang memproduksi sel-sel telur pada wanita. Seperti telah disebutkan pada poin sebelumnya, ketika sedang tertekan atau dalam bahaya, tubuh akan memfokuskan energi untuk melawannya dan bisa memengaruhi siklus menstruasi juga ovulasi ketika kondisinya lebih tenang.
4. Gangguan pada Perut dan Usus
Pernah merasakan seperti ada kupu-kupu di dalam perut saat mengalami masalah atau berada dalam tekanan? Hal itu terjadi karena perut dan otak sangat berhubungan dan stres, memengaruhi kondisi fisik pada perut. Stres bisa meningkatkan risiko penyakit yang berhubungan dengan abdominal seperti infeksi usus, maag, alergi makanan, iritasi pada usus dan sakit perut berkepanjangan.
Menurut laporan dari Harvard Medical School, stres bisa membuat orang yang bermasalah dengan pencernaan merasakan sakit lebih hebat daripada saat tidak dalam keadaan stres. Meskipun tidak semua gangguan pencernaan berhubungan dengan stres, laporan itu menyebutkan dari 13 studi yang di-review, menunjukkan pasien yang menjalani terapi psikologi sembuh lebih cepat ketimbang pasien yang dirawat dengan cara konvensional.
Stres bisa dikurangi dengan beberapa cara. Salah satunya dengan menuliskan atau menyebutkan sesuatu yang baik tentang diri Anda sendiri. Buatlah target dalam hidup yang mudah untuk dicapai dalam waktu dekat, yang sesuai dengan sifat positif Anda.
(hst/eny)
Home & Living
Kaligrafi Dinding Asmaul Husna yang Bikin Rumah Terasa Lebih Hangat Selama Ramadan
Home & Living
Nasi Putih Lebih Sehat Saat Sahur & Berbuka? Rice Cooker Low Sugar Ini Lebih Sehat
Home & Living
Masak Sahur & Berbuka Lebih Sehat Tanpa Minyak? Air Fryer Kaca Transparan Ini Bikin Praktis
Home & Living
Karpet untuk Di Rumah Anti Slip yang Bikin Ruang Tamu Terlihat Lebih Mewah
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Manfaat Minum Teh Hijau saat Puasa, Redam Lapar hingga Turunkan Berat Badan
Langkah Emas Raih Kemenangan
Sering Lemas Saat Puasa? Ahli Gizi Ungkap Penyebab dan Cara Mengatasinya
8 Kebiasaan Buruk Saat Puasa yang Diam-diam Bikin Berat Badan Naik
Langkah Emas Raih Kemenangan
7 Buah yang Cocok untuk Sahur, Jadi Tidak Gampang Haus dan Lapar
Langkah Emas Raih Kemenangan
Tips Sahur Sehat agar Tidak Lemas Saat Puasa Seharian
Most Popular
1
Keajaiban, Aktris 49 Tahun Melahirkan Anak Pertama Usai 10 Tahun Suami Wafat
2
Foto: Fashion War di Karpet Merah BAFTA Awards 2026, Siapa Terbaik?
3
7 Sampo Non SLS dari Brand Lokal untuk Mencegah Rambut Rontok
4
Jay B GOT7 Digosipkan Pacaran dengan Influencer, Terciduk Pakai Couple Item
5
Viral Verificator
Viral Beda Dari Yang Lain! Ada Tiang Pole Dance di Resepsi Pernikahan Ini
MOST COMMENTED











































