Stop Percaya 6 Mitos Tentang Alergi Ini!
Alissa Safiera - wolipop
Minggu, 13 Mei 2012 13:18 WIB
Jakarta
-
Alergi adalah suatu reaksi abnormal di mana tubuh seseorang menjadi hipersensitif dalam bereaksi secara imunologi terhadap bahan-bahan yang umumnya imunogenik (antigenik). Dengan kata lain, tubuh manusia bereaksi berlebihan terhadap lingkungan atau bahan-bahan yang oleh tubuh dianggap asing dan berbahaya, padahal sebenarnya tidak untuk orang lain.
Reaksi alergi tidak bisa ditebak, bisa saja detik ini Anda baik-baik saja dan beberapa jam kemudian Anda harus terbaring lemah di rumah sakit. Anda mungkin memiliki obat-obatan untuk membantu mengatasi alergi. Namun, percayakah Anda tentang mitos-mitos mengenai alergi? Berikut beberapa fakta yang dapat membantu Anda memisahkan mana yang fakta dan hanya mitos, seperti yang dikutip dari Health Me Up.
Mitos 1: Anda Membutuhkan Bantal dan Sprei Khusus Untuk Menangkal Alergi
Harap jangan tertipu dengan strategi pemasaran ini! Tidak ada bantal yang benar-benar bebas dari debu, jamur atau residu lain, kecuali Anda tidur dalam sebuah bola plastik. Salah satu cara untuk mengurangi debu di tempat tidur adalah dengan mencuci sprei dengan air panas dan vakum kamar Anda secara teratur.
Mitos 2: Semua Hewan Peliharaan dapat Menyebabkan Anda Alergi
Tidak juga, hanya hewan peliharaan yang hypoallergenic yang dapat memacu reaksi alergi. Apa yang mempengaruhi reaksi alergi Anda sebenarnya bukan bulu dari hewan peliharaan. Tetapi hewan yang suka menjilat badannya dengan lidah dan air liur. Hewan adalah pembawa serbuk sari, debu dan jamur. Jadi jika Anda memiliki hewan peliharaan, mandikan anjing atau kucing secara teratur dan keringkan bulunya sampai benar-benar kering, karena bulu yang lembab akan membuat reaksi alergi Anda memburuk.
Mitos 3: Alergi Sebuah Fase Sementara dan Tidak Mengakibatkan Kematian
Alergi dapat mematikan jika Anda terkena shock anafilaksis, yang mengakibatkan mati lemas. Banyak acara televisi yang sering memperlihatkan hal ini. contohnya, seseorang yang tidak sengaja mengonsumsi kacang tanah, tekanan darahnya turun, lidah dan tenggorokan membengkak, sehingga sulit untuk bernafas. Guncangan ini adalah hasil akibat dari alergi makanan, obat atau sengatan serangga dan perhatian medis diperlukan dengan segera.
Mitos 4: Alergi Terhadap Susu
Alergi susu bisa saja terjadi, hanya jika Anda seorang bayi. Reaksi alergi terhadap susu ini umumnya hanya terjadi ketika Anda masih kecil, tetapi jenis alergi ini bisa diatasi dengan semakin bertambahnya usia. Anda tidak bisa menyamakan alergi susu dengan intoleransi laktosa. Alergi mempengaruhi sistem kekebalan tubuh, namun tidak begitu dengan enzim dan laktase.
Mitos 5: Tidak Masalah Dari Mana Sumbernya
Susu sapi, telur, kacang, gandum, kedelai, ikan, kerang dan biji-bijian adalah beberapa jenis makanan dari alam yang paling mudah menimbulkan reaksi alergi. Satu hal yang perlu diperhatikan: alergi disebabkan oleh protein dalam makanan dan bahan kimia pada makanan.
Mitos 6: Konsumsi Makanan yang Memicu Alergi Selama Kehamilan, Akan Menyebabkan Anak Ikut Alergi
Hal ini masih belum pasti, ada kemungkinan 50:50 dan dokter juga belum memberikan jawaban yang pasti untuk hal ini. Beberapa penelitian mengatakan alergi makanan sebenarnya tidak melampaui plasenta dan ASI, namun beberapa dokter menyarankan, lebih baik ibu hamil menghindari makanan yang bisa menyebabkan reaksi alergi. Kami anjurkan Anda untuk tetap mengikuti saran dokter selama masa kehamilan.
(hst/hst)
Reaksi alergi tidak bisa ditebak, bisa saja detik ini Anda baik-baik saja dan beberapa jam kemudian Anda harus terbaring lemah di rumah sakit. Anda mungkin memiliki obat-obatan untuk membantu mengatasi alergi. Namun, percayakah Anda tentang mitos-mitos mengenai alergi? Berikut beberapa fakta yang dapat membantu Anda memisahkan mana yang fakta dan hanya mitos, seperti yang dikutip dari Health Me Up.
Mitos 1: Anda Membutuhkan Bantal dan Sprei Khusus Untuk Menangkal Alergi
Harap jangan tertipu dengan strategi pemasaran ini! Tidak ada bantal yang benar-benar bebas dari debu, jamur atau residu lain, kecuali Anda tidur dalam sebuah bola plastik. Salah satu cara untuk mengurangi debu di tempat tidur adalah dengan mencuci sprei dengan air panas dan vakum kamar Anda secara teratur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tidak juga, hanya hewan peliharaan yang hypoallergenic yang dapat memacu reaksi alergi. Apa yang mempengaruhi reaksi alergi Anda sebenarnya bukan bulu dari hewan peliharaan. Tetapi hewan yang suka menjilat badannya dengan lidah dan air liur. Hewan adalah pembawa serbuk sari, debu dan jamur. Jadi jika Anda memiliki hewan peliharaan, mandikan anjing atau kucing secara teratur dan keringkan bulunya sampai benar-benar kering, karena bulu yang lembab akan membuat reaksi alergi Anda memburuk.
Mitos 3: Alergi Sebuah Fase Sementara dan Tidak Mengakibatkan Kematian
Alergi dapat mematikan jika Anda terkena shock anafilaksis, yang mengakibatkan mati lemas. Banyak acara televisi yang sering memperlihatkan hal ini. contohnya, seseorang yang tidak sengaja mengonsumsi kacang tanah, tekanan darahnya turun, lidah dan tenggorokan membengkak, sehingga sulit untuk bernafas. Guncangan ini adalah hasil akibat dari alergi makanan, obat atau sengatan serangga dan perhatian medis diperlukan dengan segera.
Mitos 4: Alergi Terhadap Susu
Alergi susu bisa saja terjadi, hanya jika Anda seorang bayi. Reaksi alergi terhadap susu ini umumnya hanya terjadi ketika Anda masih kecil, tetapi jenis alergi ini bisa diatasi dengan semakin bertambahnya usia. Anda tidak bisa menyamakan alergi susu dengan intoleransi laktosa. Alergi mempengaruhi sistem kekebalan tubuh, namun tidak begitu dengan enzim dan laktase.
Mitos 5: Tidak Masalah Dari Mana Sumbernya
Susu sapi, telur, kacang, gandum, kedelai, ikan, kerang dan biji-bijian adalah beberapa jenis makanan dari alam yang paling mudah menimbulkan reaksi alergi. Satu hal yang perlu diperhatikan: alergi disebabkan oleh protein dalam makanan dan bahan kimia pada makanan.
Mitos 6: Konsumsi Makanan yang Memicu Alergi Selama Kehamilan, Akan Menyebabkan Anak Ikut Alergi
Hal ini masih belum pasti, ada kemungkinan 50:50 dan dokter juga belum memberikan jawaban yang pasti untuk hal ini. Beberapa penelitian mengatakan alergi makanan sebenarnya tidak melampaui plasenta dan ASI, namun beberapa dokter menyarankan, lebih baik ibu hamil menghindari makanan yang bisa menyebabkan reaksi alergi. Kami anjurkan Anda untuk tetap mengikuti saran dokter selama masa kehamilan.
(hst/hst)
Pakaian Wanita
Yumna by Ammarkids Setelan Anak Perempuan yang Modest dan Praktis untuk Berbagai Aktivitas
Kesehatan
Jangan Tunggu Sakit! Sekarang Cek Gula Darah & Kolesterol Bisa dari Rumah dengan Cara Praktis Ini
Kesehatan
Ternyata Ini Rahasia Recovery Otot Setelah Workout! Whey Protein Jadi Solusinya
Kesehatan
Jalani Puasa Tetap Kuat Meski Aktivitas Padat! Ini Rahasia Jaga Imun Selama Ramadan
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Begadang dan Telat Makan, Ini Dampaknya ke Jam Biologis Hati Kamu!
5 Manfaat Puasa bagi Kesehatan Perempuan, Panjang Umur hingga BB Turun
Puasa Tanpa Bau Mulut! Ini Cara Tepat Jaga Kesehatan Gigi dan Mulut
5 Makanan Buka Puasa Selain Gorengan, Lebih Sehat dan Bikin Kenyang
7 Cara Ampuh Cegah Bau Mulut Saat Puasa Ramadan
Most Popular
1
Gaya Kontroversial Cocona XG Pamer Bekas Operasi Payudara di Fashion Show Gucci
2
Kisah Ayah Dituntut Anak Sendiri karena Pakai Angpao Imlek untuk Menikah Lagi
3
Most Pop Sepekan: Permintaan Gubernur Terkaya di Indonesia Saat Pesan Kebaya
4
5 Gaya Nyentrik Priyanka Chopra Pakai Mantel Bulu saat Promosi Film 'The Bluff'
5
Viral YouTuber Merasa Dirinya Jelek, Kini Kisah Cintanya Bikin Iri Netizen
MOST COMMENTED











































