Rajin Makan Sayur & Buah Bisa Kurangi Risiko Stroke
Hestianingsih - wolipop
Minggu, 04 Des 2011 11:03 WIB
Jakarta
-
Sayuran dan buah-buahan telah memiliki reputasi sebagai makanan peningkat kesehatan. Namun ada yang lebih dari itu, sayur dan buah yang kaya anti-oksidan ternyata bisa mengurangi risiko terkena stroke pada wanita.
Stroke, biasanya disebabkan oleh ketidakseimbangan antara serangan radikal bebas yang merusak tubuh, sementara tubuh kekurangan 'agen-agen' untuk menetralisirnya. Kondisi tersebut menyebabkan peradangan, kerusakan pada pembuluh darah dan tubuh terasa kaku.
Menurut penelitian, berbagai jenis anti-oksidan seperti vitamin C dan E, karotenoid dan flavonoid bisa menghambat stres, stroke dan peradangan dengan melacak radikal bebas dan memusnahkannya. Anti-oksidan, khususnya flavonoid juga bisa membantu meningkatkan fungsi endothelium (lapisan tipis yang melindungi pembuluh darah), mengurangi pembekuan darah dan peradangan.
"Konsumsi makanan yang tinggi anti-oksidan bisa mengurangi risiko terkena stroke dengan menghambat pembengkakan pembuluh darah. Ini artinya, manusia harus makan lebih banyak buah dan sayur yang menyediakan asupan antioksidan tinggi," terang Susanne Rautiainen, peneliti dari Institute of Environmental Medicine di Karolinska Institute, Swedia, seperti dikutip dari Times of India.
Studi yang dilakukan Susanne bersama timnya, menggunakan alat bernama Mammography Cohort untuk mengidentifikasi 31.035 wanita dengan jantung sehat, serta 5.680 wanita yang memiliki riwayat penyakit jantung. Usia para responden berkisar antara 49 - 83 tahun.
Para peneliti juga mengumpulkan data tentang pola diet responden melalui kuesioner. Dari makanan yang dikonsumsi, mereka pun mengukur tingkat 'total antioxidant capacity' (TAC) untuk mengetahui apakah para responden mengasup nutrisi kaya anti-oksidan yang cukup atau kurang per harinya.
"Dalam studi ini, kami menghitung kandungan anti-oksidan yang terdapat dalam diet mereka," ujar Susanne.
Hasilnya, peneliti menemukan bahwa diet yang tinggi TAC bisa menurunkan risiko terkena stroke pada wanita yang tidak memiliki penyakit kardiovaskular hingga 17% jika dibandingkan wanita yang kurang mengonsumsi makanan dengan anti-oksidan.
"Wanita dengan asupan anti-oksidan tinggi lebih sadar akan kesehatannya dan menerapkan pola hidup sehat yang berpengaruh pada kesehatan fisiknya secara keseluruhan," jelas Susanne, yang hasil penelitiannya telah dimuat dalam Journal of the American Heart Association.
(hst/hst)
Stroke, biasanya disebabkan oleh ketidakseimbangan antara serangan radikal bebas yang merusak tubuh, sementara tubuh kekurangan 'agen-agen' untuk menetralisirnya. Kondisi tersebut menyebabkan peradangan, kerusakan pada pembuluh darah dan tubuh terasa kaku.
Menurut penelitian, berbagai jenis anti-oksidan seperti vitamin C dan E, karotenoid dan flavonoid bisa menghambat stres, stroke dan peradangan dengan melacak radikal bebas dan memusnahkannya. Anti-oksidan, khususnya flavonoid juga bisa membantu meningkatkan fungsi endothelium (lapisan tipis yang melindungi pembuluh darah), mengurangi pembekuan darah dan peradangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Studi yang dilakukan Susanne bersama timnya, menggunakan alat bernama Mammography Cohort untuk mengidentifikasi 31.035 wanita dengan jantung sehat, serta 5.680 wanita yang memiliki riwayat penyakit jantung. Usia para responden berkisar antara 49 - 83 tahun.
Para peneliti juga mengumpulkan data tentang pola diet responden melalui kuesioner. Dari makanan yang dikonsumsi, mereka pun mengukur tingkat 'total antioxidant capacity' (TAC) untuk mengetahui apakah para responden mengasup nutrisi kaya anti-oksidan yang cukup atau kurang per harinya.
"Dalam studi ini, kami menghitung kandungan anti-oksidan yang terdapat dalam diet mereka," ujar Susanne.
Hasilnya, peneliti menemukan bahwa diet yang tinggi TAC bisa menurunkan risiko terkena stroke pada wanita yang tidak memiliki penyakit kardiovaskular hingga 17% jika dibandingkan wanita yang kurang mengonsumsi makanan dengan anti-oksidan.
"Wanita dengan asupan anti-oksidan tinggi lebih sadar akan kesehatannya dan menerapkan pola hidup sehat yang berpengaruh pada kesehatan fisiknya secara keseluruhan," jelas Susanne, yang hasil penelitiannya telah dimuat dalam Journal of the American Heart Association.
(hst/hst)
Home & Living
Mudik Lebaran? Ini Rekomendasi Koper yang Praktis dan Muat Banyak
Pakaian Pria
Rekomendasi Batik Rp 100 Ribuan, Cocok buat Kondangan hingga Meeting Kantor
Kesehatan
Detoks Alami dari Mikroalga! Tablet Chlorella Ini Disebut Kaya Klorofil dan Bantu Bersihkan Racun Tubuh
Kesehatan
Kolesterol Naik Setelah Makan Berat? Coba Rutin Minum Teh Hitam Herbal Ini
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Sleep Anxiety Bikin Susah Tidur? Ini 9 Cara Mengatasinya Agar Tidur Nyenyak
Tips Kulit Tetap Glowing Saat Puasa agar Cantik di Hari Lebaran
Kulit Breakout Saat Puasa? Bisa Jadi Gara-gara Makanan Ini
Puasa dan Detox Kulit, Mitos atau Fakta? Begini Penjelasan & Tips Dari Dokter
10 Buah Paling Sehat Menurut Ahli Gizi, Wajib Dicoba
Most Popular
1
Profil Gandes Nawangsari, Mental Health Educator yang Dimintai Saran Gen Z
2
Ramalan Zodiak 8 Maret: Cancer Keuangan Menurun, Leo Banyak Peluang
3
TikTok Viral Verificator
Tidak Gengsi! Viral Pasangan Gen Z yang Pilih Nikah Sederhana di KUA Malang
4
Mengenang Vidi Aldiano, Duta Persahabatan yang Selalu Nyentrik di Panggung
5
7 Cara Mengatasi Cushion Oksidasi Biar Makeup Tahan Lama dan Wajah Tak Kusam
MOST COMMENTED











































