Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Hal Esensial yang Sering Terlupakan pada Perayaan Hari Batik Nasional

Daniel Ngantung - wolipop
Jumat, 02 Okt 2026 17:53 WIB
...
Peragaan Nusanova 2.0: Sekar Jagat Persembahan Ivan Gunawan
Koleksi rancangan Ivan Gunawan yang menampilkan batik khas Madura, Jawa Timur. (Foto: Rifkianto Nugroho/detikfoto)
Jakarta -

Dengan batik yang telah diakui secara global sebagai warisan budaya Indonesia, sudah sepatutnya kita merayakan Hari Batik yang jatuh setiap 2 Oktober dengan penuh rasa bangga. Namun, kerap kali kita terlalu larut dalam euforia dan melupakan permasalahan yang masih membayangi upaya pelestarian tradisi membatik.

Data Badan Pusat Statistik mencatat, nilai ekspor produk batik pada 2025 mencapai US$ 20,14 juta atau meningkat 32,50 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar US$ 15,20 juta. Artinya, batik sebagai sebuah industri memberi kontribusi yang cukup signifikan pada perekonomian Indonesia.

Namun, angka tersebut tidak serta-merta merefleksikan peningkatan kesejahteraan para perajin batik. Kondisi mereka menjadi bahan refleksi Sjamsidar Isa, salah satu penggagas Yayasan Batik pada era 1990-an, ketika dimintai pendapat soal ihwal esensial yang mungkin terlewatkan setiap kali Indonesia merayakan Hari Batik Nasional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Desainer IPMI mempersembahkan Kanvas Budaya Satu Napas di Fashion Nation 2026. Mereka membuat baju dari Batik Kudus yang dipadukan dengan denim.Desainer IPMI mempersembahkan Kanvas Budaya Satu Napas di Fashion Nation 2026. Mereka membuat baju dari Batik Kudus yang dipadukan dengan denim. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom)

"Menurut saya, perhatian terhadap pekerjanya sendiri, pembatiknya dari hulu ke hilir. Mulai dari orang yang membatik, mengecap, tukang lorot, dan lain-lain. Apakah kesejahteraan mereka sudah diperhatikan? Keberlangsungan tradisi ini juga harus dipikirkan. Jangan sampai (perayaan Hari Batik) hanya euforia," ucap perempuan yang akrab disapa Ibu Tjami itu kepada Wolipop.

Persoalan pelestarian batik memang tidak berhenti pada bagaimana kain tradisional ini terus dikenakan dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya. Di balik selembar kain batik terdapat ekosistem yang melibatkan banyak tangan dan keahlian, sehingga keberlangsungan tradisinya juga bergantung pada keberlangsungan para pelaku yang menghidupinya.

ADVERTISEMENT

Pandangan serupa disampaikan Thresia Mareta, salah satu pendiri Lakon Indonesia sekaligus penasihat JF3 Fashion Festival. Menurutnya, perayaan Hari Batik seharusnya tidak hanya diwujudkan lewat pemakaian batik atau penyelenggaraan berbagai acara, tetapi juga menjadi momentum untuk mengingat kembali persoalan yang dihadapi batik dalam proses pelestariannya.

"Selain merayakannya dengan memakai batik atau mengadakan event Hari Batik, penting juga kita mengingat bahwa batik menghadapi banyak permasalahan dalam pelestariannya. Dan hal ini perlu perhatian dan tindakan nyata. Perlu ada usaha yang continuous dari banyak pihak," ujar Thresia kepada Wolipop.

Kolaborasi Lakon Indonesia dan Euneun di JF3 Fashion Festival 2026Thresia Mareta usai peragaan koleksi Lakon 'Harsa' yang menampilkan busana berbahan batik organza di JF3 Fashion Festival 2026. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom)

Salah satu tindakan yang paling sederhana, tetapi memiliki dampak langsung, menurut Thresia, justru datang dari sisi pemakai. Mengenakan batik bukan semata-mata persoalan gaya atau menunjukkan kebanggaan terhadap budaya Indonesia. Ketika masyarakat membeli dan menggunakan batik, ada nilai ekonomi yang ikut mengalir ke dalam ekosistemnya.

"Sisi pemakai juga penting. Dengan sering memakai batik, secara langsung kita menyumbangkan nilai ekonomis dan juga yang paling penting, yang mungkin kurang disadari, adalah turut serta menghidupkan batik," kata Thresia yang terus berinovasi mengembangkan teknik membatik di Lakon Indonesia.


Baginya, energi dari para pemakai inilah yang diperlukan agar batik tidak berhenti sebagai simbol budaya yang dirayakan setiap tahun, tetapi tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

"Energi ini sangat diperlukan supaya batik bisa terus hidup untuk waktu yang sangat panjang di masa depan," lanjutnya.

Desainer IPMI mempersembahkan Kanvas Budaya Satu Napas di Fashion Nation 2026. Mereka membuat baju dari Batik Kudus yang dipadukan dengan denim.Desainer IPMI mempersembahkan Kanvas Budaya Satu Napas di Fashion Nation 2026. Mereka membuat baju dari Batik Kudus yang dipadukan dengan denim. Foto: Daniel Ngantung/detikcom

Di sisi lain, upaya pelestarian batik juga perlu mempertimbangkan keberagaman tradisi yang telah lebih dulu hidup di berbagai daerah Indonesia. Meski batik adalah bagian dari identitas Indonesia, setiap daerah Indonesia tidak wajib memiliki produk batik tersendiri.

Selain membatik, Indonesia juga memiliki tradisi menenun. Setiap wilayah memiliki kekayaan budaya dan ekspresi tekstilnya masing-masing, yang justru menjadi bagian penting dari identitas Indonesia.

"Masing-masing daerah punya tradisi dan budayanya masing-masing dan itu yang membuat Indonesia kaya, bahkan sering disebut sebagai harta karun," ujar Thresia.

Menurut dia, perkembangan suatu tradisi menjadi batik melalui proses yang alami bukanlah sesuatu yang perlu dihindari. Justru, ketika ekspresi budaya lokal berkembang secara natural menjadi batik, hal tersebut dapat menjadi bagian dari dinamika kebudayaan yang positif.

"Dengan perjalanan waktu, kalau akhirnya bentuk ekspresinya secara natural menjadi batik, menurut saya itu hal yang baik," tuturnya.

Temma Prasetio mengangkat batik dengan menggandeng Iwan Tirta untuk koleksi yang akan ditampilkan di Mercedes-Benz Fashion Week Kuala Lumpur 2026.Temma Prasetio mengangkat koleksi busana pria berbahan batik dengan menggandeng Iwan Tirta untuk koleksi yang ditampilkan di Mercedes-Benz Fashion Week Kuala Lumpur 2026. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom)

Namun, ia mengingatkan agar upaya pengembangan batik tidak dilakukan dengan cara memaksakan suatu bentuk tradisi dari luar. Menurutnya, proses semacam itu dapat membutuhkan energi yang besar dan justru berpotensi memunculkan persoalan baru sebelum memberikan dampak ekonomi yang diharapkan.

"Kalau menjadi sesuatu yang 'ditanam', akan memerlukan energi yang sangat banyak dan berpotensi menimbulkan banyak permasalahan yang baru sebelum bisa menyumbangkan perbaikan ekonomi," kata Thresia.

Karena itu, menurutnya, pelestarian akan memberikan hasil dan dampak yang lebih besar apabila bertolak dari kekayaan yang memang sudah dimiliki oleh masing-masing daerah.

"Kalau menurut saya, akan lebih baik hasilnya dan impact-nya juga lebih besar apabila dimulai dengan mengembangkan yang sudah ada," ujarnya.

Senada dengan Thresia, Ibu Tjami juga mendorong pelestarian warisan budaya sesuai dengan karakter dan tradisi yang telah hidup sejak nenek moyang mereka.

Pengurus Cita Tenun Indonesia (CTI) tidak memungkiri, upaya generalisasi batik di seluruh penjuru Indonesia tidak lepas dari pengaruh era Soeharto. Marak beredarnya batik printing juga dipicu oleh kebijakan penggunaan seragam batik yang digalakkan oleh Korpri (Korps Pegawai Republik Indonesia).

"Kalau memang tidak ada tradisi membatik di daerah tersebut, sebaiknya tingkatkan potensi asli khas kerajinan lokal. Ajarkan mereka how to make better quality product, good design, dan bikin story-nya. Kita itu punya handicraft yang kaya, tapi coba jejerkan sama buatan Filipina, Thailand, dan Jepang. Punya kita kualitas dan desainnya masih kasar," terang Ibu Tjami yang juga pendiri Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI).

(dtg/dtg)
...
Hide Ads