10 Tahun Wilsen Willim Berkarya dan Komitmen pada Wastra
Wilsen Willim menggelar peragaan 'Algorithm: Universal Language' sebagai perayaan kiprah satu dekade berkarya. Namun, perhelatan ini justru menjadi babak baru bagi Wilsen untuk lebih menunjukkan potensinya, terkhusus dalam mengelevasi wastra dengan sentuhan urban sebagai sebuah karya yang patut disandingkan di level haute couture, strata tertinggi dalam seni menciptakan pakaian.
Karier Wilsen sebagai desainer profesional dimulai setelah memenangkan Harper's Bazaar Asia NewGen Fashion Awards 2016, sebuah kompetisi bagi perancang muda yang sedang mencoba merintis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tidak pernah terbesit dalan benak Wilsen untuk mengolah kain tradisional saat pertama terjun ke industri fashion. Permintaan seorang klien beberapa tahun lalu untuk membuat pakaian dari batiknya yang kemudian mengawali relasi Wilsen dengan wastra.
Kain sebagai warisan budaya dengan keindahan motifnya yang sarat cerita, nilai sejarah, serta tangan yang membuatnya dirasa Wilsen belum mendapat apresiasi yang layak sehingga semakin memotivasinya untuk turun tangan. Lulusan Fine Art, Nanyang University, ini juga memanfaatkan ilmunya untuk merestorasi wastra lawas dan langka milik klien.
Koleksi 'Algorithm: Universal Language' persembahan Wilsen Willim. (Foto: Dok. Wilsen Willim) |
Maka persembahan terbarunya yang dipentaskan di Hotel Mulia Jakarta, Rabu (8/7/2026), terasa seperti sebuah surat cinta. Tak tanggung-tanggung, lima jenis kain digarapnya.
Ada empat tenun yang terdiri dari tenun sutra Garut (Jawa Barat), tenun Dayak Iban dari Kapuas Hulu Putussibau (Kalimantan Barat), songket Jembrana (Bali), dan songket Minang Halaban (Sumatera Barat), lalu satu batik tulis.
Tajuk yang dipilih merujuk pada kerumitan pembuatan tenun. Jauh sebelum Alan Turing (1912-1954) memformalisasi algoritma yang kemudian menjadi cikal bakal teknologi komputer masa kini, leluhur sudah mengenal sistem serupa dalam menjalin benang lungsi dan pakan.
"Tenun merupakan kombinasi algoritma yang sangat rumit dan nenek moyang kita sudah memahaminya sebelum komputer eksis," ujar Wilsen kepada Wolipop di belakang panggung jelang peragaan.
Busana dengan tenun dari benang denim daur ulang. (Foto: Dok. Wilsen Willim) |
Khusus untuk tenun Garut, ia mengembangkannya dengan berkolaborasi kembali bersama Ecotouch yang menciptakan benang denim daur ulang. Seperti angka sebagai elemen penting dalam algoritma yang merupakan bahasa universal yang dipahami semua orang, Wilsen terinspirasi untuk membuat material tersebut lebih familier lagi dalam bentuk pakaian.
Batik tulis Cirebon mendapat sentuhan yang spesial. Motifnya hadir dalam bentuk yang ditranslasikan dari angka algoritma sehingga menawarkan daya tarik yang berbeda.
Menariknya lagi, musik yang mengiringi langkah para model merupakan komposisi dari algoritma hasil pindaian terhadap motif empat kain tenun tersebut dengan bantuan AI atau akal imitasi. Pengemasan yang inovatif ini mustahil terwujud tanpa dukungan Ican Harem, pendiri label fashion Future Loundry sekaligus produser musik.
Kompleksitas pembuatan tenun yang selama ini terabaikan oleh mata-mata awam semakin mempertegas identitas 60 set busana perempuan dan laki-laki ini yang diklaim Wilsen sebagai koleksi couture pertamanya.
Wilsen memperlihatkan lebih dekat detail koleksi tadi malam di sesi re-see . (Foto: Daniel Ngantung/detikcom) |
Dalam sesi re-see hari ini yang digelar khusus bagi para pewarta yang ingin mengobservasi koleksi lebih dekat, dapat dilihat presisi jahitan, pengaplikasian payet, serta dekorasi tersembunyi yang unik, seperti pada bagian belakang sebuah blazer dengan detail pin-wheel atau kincir khas Wilsen yang dapat dibuka-tutup.
Hemline bergelombang (scallop) yang belakangan cukup intens digunakan banyak desainer juga muncul di koleksi Wilsen. "I guess it is a smooth way to make a transition," kata anggota Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI) ini.
Secara estetika, Wilsen tampaknya masih nyaman bermain dengan tampilan punk dengan sentuhan regal. "Harus diakui beberapa dari desain saya memang terasa sangat kolonial," ungkap Wilsen merujuk pada beberapa atasan yang diadaptasi dari beskap dan jaket napoleon.
Keputusan kreatif tersebut mungkin bersebrangan dengan upaya dekolonialisme yang tengah marak digaungkan di berbagai bidang, termasuk mode. Namun, Wilsen tak ingin memungkirinya sebagai bagian dari sejarah Indonesia.
Koleksi 10 Tahun Wilsen Willim Berkarya yang bertajuk 'Algorithm: Universal Language'. Foto: Dok. Wilsen Willim |
Selain busana, Wilsen juga memajang semua aksesori dan sepatu yang dipakai model semalam. Ia memang ingin merayakan hari spesialnya dengan menggandeng brand lokal seperti Subeng Klasik, Peau, dan Bocorocco. Koleksi tersebut sudah bisa dibeli oleh khalayak.
Persiapan koleksi ini sudah dimulai sejak dua tahun lalu. Ia bahkan menyambangi langsung tempat para perajin untuk memahami lebih dalam proses pembuatan sekaligus mengenal lebih dekat para perajin dan budaya mereka.
"Saya sangat menghargai totalitas Wilsen dalam menggarap wastra," puji Sjamsidar Isa, Ketua IPMI sekaligus pengurus Cita Tenun Indonesia (CTI) dalam kesempatan terpisah.
Ibu Tjami, begitu panggilan akrabnya, telah menjadi bagian dari perjalanan karier Wilsen. Di luar keanggotaan IPMI, ia juga beberapa kali menggandeng Wilsen untuk proyek CTI.
Koleksi 10 Tahun Wilsen Willim Berkarya yang bertajuk 'Algorithm: Universal Language' Foto: Daniel Ngantung/detikcom |
"Dia berhasil menggarap tenun menjadi sebuah koleksi sesuai selera generasi sekarang," ungkap Ibu Tjami tentang bagaimana koleksi Wilsen begitu diminati anak muda dari berbagai kalangan. Atasan seperti kebaya janggan, kemeja pin-wheel, hingga rok batik atau tenun dengan korset tinggi termasuk fashion item yang selalu laris setiap kali dirilis dalam berbagai versi.
Menurutnya, perjalanan Wilsen sebagai desainer masih panjang. Ia pun berharap, Wilsen tidak berhenti belajar demi mengembangkan potensinya dalam mendesain, terutama dengan kain Nusantara.
"Dia masih harus banyak membaca dan melihat teknik-teknik pembuatan wastra. Saya yakin generasi muda akan bisa mulai suka memakai busana yg memakai wastra indonesia melalui karya Wilsen," tutur Ibu Tjami.
Wilsen Willim (kedua dari kiri) bersama tim desainnya usai peragaan 'Algorithm: Universal Language'. (Foto: Dok. Wilsen Willim) |



















































