Sebastian Gunawan Signature 2026, Persembahan untuk Pribadi yang Bebas
Euforia Paris Fashion Week edisi Haute Couture Fall/Winter 2026-2027 yang tengah berlangsung seakan terasa sampai Jakarta ketika Sebastian Gunawan Signature mempersembahkan peragaan bertajuk 'Jazz & Jasper'. Koleksi glamor dengan pendekatan baru yang merayakan kebebasan di tengah situasi negeri yang sedang penuh tekanan.
Sebastian Gunawan Signature digawangi oleh duo desainer suami-istri, Sebastian Gunawan dan Cristina Panarese. Sebastian sendiri merupakan anggota awal The Asian Couture Federation (ACF) yang dibentuk pada 2013 untuk menaungi desainer Asia yang memiliki kemahiran impresif yang selevel dengan pakem haute couture Paris.
Sebastian Gunawan Siganture 'Jazz & Jasper' 2026 di Hotel Mulia Jakarta Foto: Dok. Sebastian Gunawan Signature |
Maka tidak berlebihan bila menyandingkan kreasi Sebastian Gunawan Signature dengan karya-karya yang tengah naik pentas di Paris pekan ini. Meski label ini telah berusia lebih dari tiga dekade, eksistensinya tidak lekang dimakan waktu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Antusiasme sudah terasa di depan pintu Grand Ballroom Hotel Mulia Jakarta ketika para tamu undangan sudah berkerumun untuk masuk jelang peragaan.
Sesuai dress code, mereka hadir dengan busana serba hitam. Tapi tak sedikit pula yang 'melanggar'. Ayla Dimitri muncul dalam balutan A-line mini dress berwarna oranye terang yang cukup untuk menolehkan perhatian padanya di tengah lautan baju hitam.
"Tapi ini tetap Sebastian Gunawan," ujar influencer fashion itu kepada Wolipop. Ayla menyempurnakan gayanya dengan tas Baguette Fendi hijau neon yang tak kalah mengilap dan heels senada.
Sebastian Gunawan Siganture 'Jazz & Jasper' 2026 di Hotel Mulia Jakarta Foto: Dok. Sebastian Gunawan Signature |
Outfit Ayla yang penuh warna dan tidak mengekang tubuh menjadi semacam petunjuk awal sebelum Seba, panggilan akrab untuk Sebastian, dan Cristina mengirim modelnya berlenggang di panggung.
Tajuk 'Jazz & Jasper' merujuk pada inspirasi mereka yang bersumber dari era 1920-an. Periode yang dijuluki Roaring Twenties ini menandai transisi kultur yang memberi ruang bagi para perempuan untuk lebih bergerak bebas.
Busana tidak lagi berkorset berkat inovasi perancang seperti Paul Poiret, first French couturier, yang kemudian dilanjutkan oleh Coco Chanel. "Sebuah masa yang memberikan kebebasan pada wanita secara absolut. Cara bersosialisasi pun berubah, perempuan berani untuk pergi clubbing dan merokok," ungkap Seba kepada Wolipop usai peragaan.
Sebastian Gunawan Siganture 'Jazz & Jasper' 2026 di Hotel Mulia Jakarta Foto: Dok. Sebastian Gunawan Signature |
Kehadiran jazz, genre musik yang lebih ekspresif, turut merefleksikan perubahan zaman yang kemudian melahirkan generasi perempuan yang dikenal sebagai kaum flapper.
Seba dan Cristina kemudian menginterpretasikan inspirasi tersebut ke dalam ragam kreasi khas Sebastian Gunawan Signature kali ini, melalui perpaduan tailoring terstruktur, rok berumbai, siluet low waist, tulip skirt, dan cocoon yang diperkaya permainan transparansi. Aksesori buatan Rinaldy A. Yunardi kian melengkapi tampilan para model.
Kombinasi warna dan motif yang tak terduga seperti merah dengan emas, garis geometris dengan ukiran bernuansa Art Nouveau, semakin memperkuat energi kebebasan. Teknik baru, seperti pengaplikasian benang wol yang ringkih, turut dieksplor sehingga memberi kesegaran tersendiri.
Sebastian Gunawan Siganture 'Jazz & Jasper' 2026 di Hotel Mulia Jakarta Foto: Dok. Sebastian Gunawan Signature |
Strong shoulders ikut mendominasi, entah itu dalam bentuk bahu yang mengotak atau ornamentasi aplikasi sebagai statement (yang sekali menunjukkan kekuatan label ini pada keterampilan tangan). "Selain era 20-an, untuk memberi kesan modern, kami juga mengeksplor era 80-an ketika aksentuasi pada bahu seperti shoulder pad mulai populer sebagai bentuk kestabilan perempuan agar setara dengan pria," ungkap Cristina.
Mungkin tidak semua orang memiliki akses untuk merasakan kebebasan yang ditawarkan Seba dan Cristina. Namun, ketika kita masih hidup di tengah maraknya aksi pembungkaman pendapat yang berseberangan dengan pemerintah/penguasa dan persekusi terhadap kelompok minoritas agama, ras, ataupun orientasi seksual tertentu, filosofi kebebasan ini terasa relevan.
Sebastian Gunawan dan Cristina Panarese. (Foto: Dok. Sebastian Gunawan Signature) |

















































