Hari Batik Nasional
Tips Menyimpan Batik Kuno Agar Tak Cepat Rusak
Daniel Ngantung - wolipop
Senin, 02 Okt 2017 10:15 WIB
Jakarta
-
Mengoleksi batik kuno adalah salah satu cara untuk melestarikan warisan budaya ini. Namun, menyimpannya butuh perhatian khusus mengingat kondisi kain yang rentan.
Salah satu cara yang disarankan yakni menyimpannya di ruang ber-AC. Dijelaskan kolektor batik kuno Hartono Sumarsono, iklim Indonesia yang cenderung berlembap adalah musuh utama batik.
Iklim yang lembap dapat memicu jamur sehingga kain melembek dan semakin rentan rusak.
"Menyimpannya di lemari di ruangan ber-AC akan menjaga kain tetap kering," kata Hartono beberapa waktu lalu.
Pendingin udara, lanjut Hartono, sebaiknya harus menyala selama 24 jam dengan suhu antara 20-23 derajat Celcius. Konsekuensinya, pemakaian listrik lebih boros dan berisiko membuat tagihan listrik membengkak.
Jika Anda kolektor batik kuno yang keberatan dengan cara tersebut, penyimpanan dengan cara tradisional dapat menjadi opsi.
Pria yang memiliki koleksi batik mulai dari 1800-an itu menganjurkan pemakaian lada dan akar wangi. Aroma keduanya diklaim bisa mengusir ngengat yang dapat merusak batik.
"Campur keduanya di dalam kain kasa, lalu taruh di dalam lemari batik Anda," tutur Hartono.
Pilihan lain, menyimpannya di dalam peti yang terbuat dari kayu kamper. Seperti lada dan akar wangi, kayu ini mengeluarkan aroma yang ngengat tidak suka.
Saksikan video 20detik tentang sejarah batik di sini:
(dtg/dtg)
Salah satu cara yang disarankan yakni menyimpannya di ruang ber-AC. Dijelaskan kolektor batik kuno Hartono Sumarsono, iklim Indonesia yang cenderung berlembap adalah musuh utama batik.
Iklim yang lembap dapat memicu jamur sehingga kain melembek dan semakin rentan rusak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Batik kuno koleksi Hartono Sumarsono dari tahun 1800-an. (Foto: Daniel Ngantung/Wolipop) |
Pendingin udara, lanjut Hartono, sebaiknya harus menyala selama 24 jam dengan suhu antara 20-23 derajat Celcius. Konsekuensinya, pemakaian listrik lebih boros dan berisiko membuat tagihan listrik membengkak.
Jika Anda kolektor batik kuno yang keberatan dengan cara tersebut, penyimpanan dengan cara tradisional dapat menjadi opsi.
Pria yang memiliki koleksi batik mulai dari 1800-an itu menganjurkan pemakaian lada dan akar wangi. Aroma keduanya diklaim bisa mengusir ngengat yang dapat merusak batik.
"Campur keduanya di dalam kain kasa, lalu taruh di dalam lemari batik Anda," tutur Hartono.
Pilihan lain, menyimpannya di dalam peti yang terbuat dari kayu kamper. Seperti lada dan akar wangi, kayu ini mengeluarkan aroma yang ngengat tidak suka.
Saksikan video 20detik tentang sejarah batik di sini:
(dtg/dtg)
Perawatan dan Kecantikan
Rahasia Rambut Halus & Sehat, Duel Hair Mask Favorit dari Jepang Tsubaki vs Fino!
Elektronik & Gadget
SKMEI B58 Smartwatch, Jam Keren Serba Bisa dengan Layar AMOLED Super Jernih!
Kesehatan
3 Pilihan Madu Murni Terbaik, Sehat Alami, Manisnya Bikin Nagih!
Perawatan dan Kecantikan
Ketiak Bau & Basah Seharian? Ini Solusi Deodorant Tahan hingga 72 Jam
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Debut Bersejarah, Maison Margiela Gelar Show Perdana di Luar Paris
Dari Paris ke Jakarta, Melihat Lebih Dekat Koleksi Dior Spring-Summer 2026
Dari Tenun Sisa Jadi Koleksi Bermakna Demi Dukung Pendidikan Anak Indonesia
Tren Fashion Baru Favorit Gen Z: Buku Mini Jadi Bag Charm
Kritikan Stella McCartney untuk 'High Fashion' yang Merusak Alam
Most Popular
1
Cemburu Buta, Suami Ngamuk Tahu Istri yang Hamil Diperiksa Dokter Pria
2
Potret Romantis Anniversary Pernikahan Aurel-Atta, Dapat Hadiah Emas Batangan
3
Potret Tampilan Natural Annisa Pohan Setelah Melahirkan, Dipuji Awet Muda
4
Tampil Glamour di Pemakaman Anak Sendiri, Influencer Ini Dikecam Netizen
5
Beda Banget! Transformasi Shindy Samuel Usai Turun BB 104 Kg, Banjir Pujian
MOST COMMENTED












































Batik kuno koleksi Hartono Sumarsono dari tahun 1800-an. (Foto: Daniel Ngantung/Wolipop)