Cerita Ni Luh Djelantik yang Karya Sepatunya Pernah Dipakai Paris Hilton

Rahmi Anjani - wolipop Minggu, 11 Des 2016 16:49 WIB
Foto: Rahmi Anjani/Wolipop Foto: Rahmi Anjani/Wolipop

Jakarta - Bagi Anda penggemar fashion khusunya sepatu, mungkin familiar dengan brand Ni Luh Djelantik. Merek asal Bali tersebut sudah mengekspor produknya hingga ke 20 negara. Ni Luh Ary Pertami adalah sosok dibalik sepatu-sepatu cantik yang pernah dipakai Gissele Bundchen, Paris Hilton, Cameron Diaz, hingga Julia Roberts itu. Perjalanannya hingga bisa jadi pembuat sepatu berskala international pun cukup menginspirasi. Seperti apa?

Sebelum memulai bisnisnya di tahun 2003. Ni Luh memang tidak punya latarbelakang desain atau sepatu. Wanita kelahiran Kintamani itu terinspirasi membuat merek alas kaki karena 'dendam pribadi'. Saat kecil ia mengaku jarang memakai sepatu dengan ukuran pas karena keterbatasan ekonomi.

"Karena bersekolah di private school, keluarga kami harus melakukan beberapa pengorbanan. Sepatu robek yang sudah muat dijahit lagi sama mama. Jadi ada sedikit dendam pribadi kalau nanti sudah berkerja harus dapat yang pas. With times, I become shoe lover sampai pernah punya 500 pasang," ungkap Ni Luh dalam workshop yang diadakan Marina di toko Ni Luh Djelantik, Kuta, Bali, Sabtu (10/12/2016).

Wanita yang pernah bekerjasama dengan merek Nicollas Vinetti hingga Zimmerman tersebut juga punya perjalanan karier nan menarik. Sebelum menjadi pembuat sepatu di Bali, Ni Luh sempat datang ke Jakarta untuk kuliah dan bekerja. Ibu satu anak itu pun mengawali karier sebagai resepsionis sekaligus operator dan Office Girl. Karena kerja kerasnya, tujuh tahun kemudian Ni Luh bisa menjabat sebagai Marketing Director sebuah perusahaan.

Bisnis sepatu yang dijalankannya pun bukan tanpa hambatan. Pada tahun 2005, Ni Luh adalah pendatang baru yang cukup dikenal dan sudah mengekspor ke banyak negara. Ia bahkan mendapat tawaran dari distributor Prancis dan Itali untuk menjadi partner mereka. Sayangnya, penawaran itu memaksa Ni Luh memindahkan produksi ke China. Tidak mau berpisah dengan para karyawannya, ia pun menolak. Akhirnya distributor itu mendirikan merek sendiri bernama Nilou yang hanya bertahan satu musim.

Setelah itu, Ni Luh mulai bekerjasama dengan merek-merek, seperti Zimmerman, Charlie Joe, Tristan Blair, dan lainnya. Meski harus menempelkan brand dan negara lain di sepatu produksinya, ia pun rela asal tetap bersama anak-anak buahnya. Di tahun 2008, Ni Luh akhirnya membuat brand baru bertajuk Ni Luh Djelantik yang kemudian langsung dipatenkan.

"Kebanggaan buatku bukan karena Gisele Bundchen datang atau bolak balik antar sepatu untuk Julia Robert tapi stick to our principal. Hanya karena saham atau jabatan tapi jika aku harus sama anak-anak (para karyawan) itu tidak bisa beli cita-citaku," kata Ni Luh.

Wanita 41 tahun ini pun kini hanya fokus pada brand Ni Luh Djelantik yang juga sudah dipasarkan hingga ke luar negeri. Menurutnya, mereknya bisa berkembang karena cinta yang kuat sehingga setiap permasalahan bisa dicari solusinya.

"Sukses itu relatif, kalau buat Mbok Ni Luh, saat kita memberikan arti bagi sekeliling kita dan mewujudkan cita-cita mereka yang di saat bersamaan mewujudukan cita-cita kita juga," kata Ni Luh kepada 20 peserta terpilih Marina Beauty Journey.
(ami/kik)