Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Deden Siswanto, Sofie dan Ali Charisma Rilis 2 Label Busana Muslim

Daniel Ngantung - wolipop
Kamis, 26 Mei 2016 08:09 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: Grandyos Zafna Manase Mesah
Jakarta - Ranah fashion muslim Tanah Air kembali diramaikan oleh kehadiran label terbaru. Sekarang giliran Run Thing dan i.sha, dua label buah kolaborasi perusahaan tekstil Argo Apparel Group dengan tiga desainer Indonesia, Deden Siswanto, Sofie & Ali Charisma.

Koleksi perdananya naik pentas di hari pertama Muslim Fashion Festival Indonesia (MUFFEST) 2016, Rabu (25/5/2016) malam. Bertajuk 'Honesty', peragaan yang turut dihadiri menteri perindustrian itu menampilkan 76 set busana.

Meski keduanya sama-sama menawarkan busanamuslimready towear atau siap pakai,RunThing dan i.sha memiliki konsep, karakter desain, serta target pasar yang saling bertolak belakang.

Run Thing, kata Deden, menyasar wanita mapan dan modern yang sophisticated dan tetap mementingkan kenyamanan dalam berpakaian. Oleh karenanya, siluet dan cutting yang diaplikasikan lebih sederhana dengan pilihan warna netral yang down to earth.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sebaliknya, i.sha lebih playful dengan permainan tabrak warna dan motif karena memang ditujukan untuk wanita yang lebih muda," tambah Deden saat ditemui usai peragaan.

Dari segi banderol harga pun berbeda. Koleksi Run Thing dipatok dari harga Rp 500 ribuan. Sementara harga i.sha berada di bawah Run Thing. Koleksi ini sudah tersedia melalui pembelian online.

Dalam proses kreatifnya, ketiga desainer yang memiliki karakter desain berbeda ini tidak menemukan kesulitan saat bekerjasama untuk menciptakan koleksi yang diinginkan.

"Kebetulan kami sudah punya tugas sendiri-sendiri. Deden misalnya lebih ke styling, lalu saya yang mengurasi busana mana yang sekiranya cocok untuk pasar. Intinya kami saling melengkapi," kata Sofie.

Adapun kolaborasi ini bertujuan untuk memberikan opsi busana muslim yang lebih bervariasi kepada masyarakat yang selera busananya semakin kompleks seiring perkembangan tren fashion.

Tidak hanya itu, kata Sofie, model sinergi antara desainer dan perusahaan tekstil seperti ini diharapkan dapat menciptakan keuntungan yang lebih menjanjikan. Mengingat, salah satu kendala para desainer adalah ketersediaan material.

Dengan adanya dukungan perusahaan tekstil, para desainer tidak lagi kesulitan mencari material sehingga lebih leluasa berkreasi. Jika produksi lancar, kebutuhan akan masyarakat terpenuhi. Industri fashion busana muslim di Indonesia pun semakin bergeliat sehingga memperkuat peluang Indonesia sebagai pusat fashion muslim di tingkat Asia pada 2018 dan tingkat dunia pada 2020.

Sempat melakukan tes pasar dan mendapat respon yang positif, mereka pun optimis kedua brand ini akan sukses di pasar meski sudah banyak 'pemain lama' yang mewarnai ranah busana muslim Tanah Air.

MUFFEST 2016, yang digelar oleh Indonesia Fashion Chamber (IFC), berlangsung di Plaza Selatan, Istora Senayan, Jakarta, 25-29 Mei. Perdana digelar, MUFFEST 2016 hadir dengan tema #ScreenshootTheLook.

Selain fashion show digelar pula rangkaian kegiatan lainnya, seperti pameran, seminar/talkshow, workshop, kompetisi, community gathering dan instalasi tren. Tidak ketinggalan pameran kuliner persembahan dari Ikatan Pengusaha Muslim Indonesia (IPEMI). (dng/hst)
Tags

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads