Lulu Lutfi Labibi 'Kawinkan' Batik Lurik dengan Motif Floral di JFFF

Rahmi Anjani - wolipop Rabu, 11 Mei 2016 07:39 WIB
Foto: Moh. Abduh/Wolipop
Jakarta - Gelaran Jakarta Fashion & Food Festival (JFFF) menampilkan fashion show bertema Trendology pada Selasa, (10/6/2016) malam. Tahun ini, sebanyak enam desainer dan brand lokal dengan ciri khas desain nan unik dan ikonik pun menjadi bintangnya. Mereka adalah Lulu Lutfi Labibi, Laison, Tangan, Lotuz, Sav Lavin, serta Diniira. Menyuguhkan koleksi dengan potongan dan siluet menarik, fashion show tersebut pantas dijadikan acuan tren tahun depan.

Koleksi Renjana dari Lulu Lutfi Labibi cukup dinanti para penonton fashion show yang menghadiri Harris Hotel, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Kali ini, ia membawakan rangkaian terbaru yang terinspirasi dari sosok seorang wanita. Bertajuk, Renjana, koleksi tampil atraktif dengan gabungan batik, tenun, motif lukisan kuno.

"Koleksi saya berjudul Renjana yang artinya rasa yang kuat yang dimiliki anak perempuan. Koleksi ini memang terinspirasi dari perempuan Indonesia yang merindukan satu hal, yakni spiritual. Saya ingin mengampanyekan karya nusantara yakni kain lurik, tenun kupang, batik tulis motif bunga, dan kain lukisan zaman dahulu," ungkapnya sebelum fashion show.

Sebagian besar busana masih menampilkan ciri khas Lulu yakni teknik drapping. Tapi kali ini perancang itu memberikan nuansa yang lebih segar dengan 'menabrak' sejumlah corak. Misalnya saja pada satu tampilan di mana wrap shirt corak floral digabungkan dengan outerwear batik serupa hoodie. Atasan tersebut pun dipadu dengan celana kulot bermotif lurik yang juga jadi ciri Lulu.

Yang juga tampil menarik dan etnik adalah Diniira. Label busana Dini Pratiwi Irawati tersebut hadir bernuansa Tana Toraja. Dini terilhami seni ukiran pada rumah adatnya yang bersifat abstrak dan geometris. Ia pun tidak hanya menampilkannya sebagai corak namun juga cut out pada busana.

Koleksi Fall/Winter 2016 itu didominasi oleh warna hitam. Namun sejumlah busana diberi sentuhan segar dengan motif berpalet oranye, kuning, dan merah.

Delapan set busana yang ditampilkan mengeksplorasi teknik print, cut out, dan embroidery untuk menghadirkan motif khas Tana Toraja itu sendiri. Detail itu pun diaplikasikan pada berbagai potong busana, seperti rok, jubah, hingga dress. Dengan bahan duchess yang nyaman dikenakan beraktivitas, rangkaian tersebut bisa jadi alternatif busana etnik untuk dikenakan di keseharian.

Selain Lulu dan Diniira, sekuen empat brand lain juga tidak kalah menariknya. Misalnya saja label Tangan yang memamerkan busana bernuansa quirky dengan cutting dan pola nan unik. Terilhami seks, pakaian semakin mencuri atensi dengan penerapan dua jenis aksesori dari Rinaldy A. Yunardi. Yakni bros berbentuk serupa payudara dan topeng yang melambangkan penjagaan privasi.

Koleksi Spring/Summer 2016 Laison bertajuk Memento pun tampil elegan. Terinspirasi arsitektur Pompeii, koleksi dengan permainan manik, tekstur, dan sulaman itu memang sengaja ingin membuat wanita terlihat jenjang. Adapun Sav Lavin yang mengeksplorasi keindahan ubur-ubur di Danau Kakaban, Kalimantan. Binatang laut itu direpresentasikan oleh penggunaan material lembut sutra, chiffon, katun, dan polyester serta cut out.

Sementara Lotuz dengan desainer barunya yakni Kesya Moedjenan menampilkan koleksi Luci yang terinspirasi kota Prague. Mengambil era di mana gotik dan renaissance berjaya, di tangan Kesya Lotuz tampil lebih edgy. Menggunakan bahan silk, satin, katun, dan chiffon, Kesya juga banyak menampilkan overlapping dan rok maxi.

(ami/kik)