Chossy Latu Hingga Auguste Soesastro Tampilkan Beragam Tenun di JFFF

Daniel Ngantung - wolipop Selasa, 10 Mei 2016 08:54 WIB
Foto: Moh. Abduh/Wolipop
Jakarta - Tenun sebagai salah satu warisan leluhur menebarkan pesonanya tersendiri. Tapi seperti berlian yang harus diasah agar berkilau sempurna, tenun pun perlu 'dipoles' agar nilainya bertambah sehingga dapat memberikan kehidupan yang layak bagi para perajinnya. Ini mustahil terwujud tanpa campur tangan desainer.

Di pergelaran busana 'Jalinan Lungsi Pakan' yang dihelat dalam rangkaian Jakarta Fashion & Food Festival 2016, Senin (9/5/2016) malam, enam desainer Indonesia menunjukkan komitmen mereka dalam mengangkat nilai tenun dari sejumlah daerah.

'Jalinan Lungsi Pakan' adalah hajatan milik Cita Tenun Indonesia (CTI) sebagai wujud apresiasinya terhadap pencapaian dari berbagai daerah binaan CTI. Tujuannya agar masyarakat dapat mengenal keindahan tenun sebagai salah satu wastra Nusantara dan mengapresiasinya.

Didirikan sejak 2008 oleh Okke Hatta Rajasa, CTI aktif memberikan berbagai program pelatihan di sejumlah daerah penghasil tenun dengan melibatkan para desainer mode. Selama pelatihan, desainer membina para perajin mengahasilkan tenun yang sesuai tren berlaku supaya karya mereka dilirik pasar.

"Tujuan kami sebetulnya hanya satu, yakni meningkatkan standar kehidupan para penenun agar mereka dapat dapat hidup lebih layak lagi," ujar Sjamsidar Isa atau akrab disapa Tjammy, mewakili CTI, jelang peragaan.

Dan itu tidaklah mudah. Begitulah pengakuan desainer kondang Chossy Latu dan Auguste Soesastro yang turut memamerkan karyanya di 'Jalinan Lungsi Pakan'. Dua desainer beda generasi ini sudah cukup lama terlibat dalam program CTI di sejumlah daerah. Bagi mereka setiap daerah memiliki tantangan tersendiri.

Chossy misalnya hampir kewalahan membimbing para perajin tenun lukat atau lurik ikat di beberapa daerah yang masuk kawasan Jawa Tengah bagian Selatan seperti Magelang, Klaten, Wonosari, dan Sukoharjo. Perajin di daerah tersebut umumnya hanya mengolah lurik menjadi serbet dan taplak bukan busana.



"Kami melihat ada potensi, menenunnya sudah  baik. Hanya saja mereka perlu belajar kerapihan dan menambahkan motif baru supaya penggunaan luriknya tidak terbatas. Dalam prosesnya cukup sulit, karena mereka sudah terbiasa pada pola pikir yang lama," ungkap Chossy.

Berkat kesabaran dan ketekunannya, Chossy secara bertahap berhasil mengajak para perajin untuk menenun lurik sesuai arahannya.  Lurik itu lantas layak untuk diaplikasikan sebagai material busana.

Di 'Jalinan Lungsi Pakan', Chossy dengan tema 'Look At' menampilkan lurik dalam pilihan biru keabuan dan gading yang disulap ke dalam garis desainnya yang elegan dan modern.

Cropped jacket, celana dan rok highwaist, blouse tanpa lengan mendominasi koleksi tersebut. Para model tampil modis dengan shades (kacamata hitam) serta dekorasi kepala berupa turban.

"Ini hanyalah awalan. Koleksi penuhnya akan kami tampilkan Oktober mendatang dalam sebuah show yang didukung oleh European Union," kata desainer senior ini.

Sementara itu, tantangan berbeda dihadapi Auguste saat membina para perajin di Jawa Tengah bagian utara. Ia harus meyakinkan mereka untuk keluar dari zona nyaman, dalam hal ini adalah pemakaian pewarna kimiawi.

"Tantangan saya adalah bagaimana mereka mau berubah, dari pewarnaan kimiawi dan menjadi alami. Awalnya mereka pesimis karena takut warna alami yang cenderung kalem kurang mengangkat warna kain," ujar Auguste.

Setelah dibina dalam waktu yang cukup lama, para perajin akhirnya beralih ke pewarnaan alami. Sedari awal berdiri, CTI memang mengajak para perajin untuk menggunakan pewarnaan alami dalam membuat tenun. Sampai saat ini, dari 14 sentra binaan CTI yang tersebar di sembilan provinsi, tujuh diantaranya sudah menggunakan pewarna alami.



Di tangan Auguste, tenun Jawa Tengah bagian Utara yang sarat akan pengaruh elemen peranakan pada motifnya tampil feminin dan chic dalam siluet loose atau longgar yang terkesan rileks.

Selain Auguste dan Chossy, 'Jalinan Lungsi Pakan' turut menampilkan kebolehan Itang Yunasz dan Tri Handoko dalam mengolah tenun. Ini adalah kali pertama mereka mengeksplor tenun asli dalam koleksinya. Keduanya mengaku sempat kurang percaya diri karena merasa kurang mumpuni. "Tapi demi kelestarian tenun, kami mau menerima ajakan CTI," kata Itang.

Itang mendapat kesempatan mengolah tenun Garut. Lalu Handoko mengeksplor tenun Sobi dari Sulawesi Tenggara yang diterjemahkannya ke dalam nuansa punk.

Selain itu tampil pula koleksi dari dua pemenang Next Young Promising Designer (NYPD), yakni Lanny Hewijanto (Juara I 2015) yang memadukan tenun endek Bali dengan detail geometris, dan Felisa Aprilia (Juara I 2014) yang mengangkat tenun Baduy dengan sentuhan kerajinan tangan makrame.

Diinisiasi Summarecon dan CTI, NYPD bertujuan untuk mengenalkan tenun kepada para desainer muda. "Kalau bukan mereka, siapa lagi yang akan mengangkatnya," ujar Tjammy. (dtg/kik)