Hermes Pecat 2 Karyawan yang Terlibat Jaringan Penjualan Tas Palsu
Hermes akhirnya menangkap orang yang bertanggung jawab atas beredarnya tas imitasi produk mereka. Beberapa dari yang tertangkap ternyata pegawai di rumah mode tersebut.
Selama satu tahun penuh, merek yang menjual beragam tasnya dengan harga 'selangit' itu memperhatikan gerak-gerik para pegawainya melalui sistem pengawasan internal. Hermes yang bekerja sama dengan kepolisian Prancis kini telah berhasil menangkap dua pegawai yang terlibat dalam penjualan tas palsu brand favorit Victoria Beckham itu. Keduanya pun kini telah dipecat meskipun beberapa orang lainnya yang tetap bekerja diduga terlibat dalam kasus tersebut.
Seperti dikutip Daily Mail, pengawasan ini merupakan bagian dari penyelidikan terhadap sindikat kejahatan internasional yang telah merampas jutaan dollar dari merek tas tangan mewah asal Prancis itu di setiap tahunnya. Saat penggerebekan, polisi juga menemukan lokasi tersembunyi pembuatan tas palsu, yang berisi kulit-kulit berharga. Materi tersebut untuk digunakan sebagai bahan baku tas palsu Hermes.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hermes sangat puas atas kerjasamanya dengan kepolisian Prancis yang efisien dan disiplin dalam mengerjakan kasus ini, dan akan terus menegakkan kembali komitmen dalam waktu jangka panjang untuk memerangi pemalsuan," ujar jaksa penuntut umum kepada WWD Paris.
Menurut Komite Anti-Pemalsuan Nasional Prancis, rumah mode Hermes bukanlah satu-satunya korban pemalsuan yang merugikan Prancis sebesar US$ 7,5 miliar per tahun atau sekitar Rp 71 triliun.
Menanggapi ancaman kerugian tersebut, asosiasi barang mewah Prancis, Comite Colbert telah mengambil langkah untuk meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan akan masalah ini. Colbert meluncurkan kampanye yang diberi slogan-slogan lucu seperti, "Buy a fake Cartier, get a genuine criminal record" dan "Real ladies don't like fake". Iklan itu sengaja dibuat untuk mengingatkan para wisatawan yang mampir ke negara tersebut akan upaya polisi setempat untuk melawan pembelian dan penjualan produk-produk mewah yang dipalsukan.
Tas Birkin adalah salah satu koleksi Hermes yang sangat populer di kalangan fashionista untuk tas tangan eksklusif dan syal suteranya. Tak heran, jika produk tersebut banyak diincar oleh para pembeli dan ditiru oleh para pemalsu.
Dalam usaha untuk memerangi penjualan tas palsu, CEO Hermes, Patrick Thomas menjelaskan, pihaknya pun mulai aktif bergerak di dunia maya. Hermes berupaya untuk melawan penyedia layanan internet, mesin pencari, dan situs media sosial yang bertanggung jawab memfasilitasi jual-beli barang-barang palsu.
"Delapan puluh persen barang yang dijual di internet mengatasnamakan produk Hermes itu adalah palsu. Ini sangat memalukan," papar Thomas.
(rma/eny)










































