Viral Verificator
Viral, Wanita Ini Ungkap Dugaan Pelecehan Dosen Setelah 10 Tahun
Viral di media sosial unggahan seorang wanita yang mengungkap dugaan kasus pelecehan seksual melibatkan seorang oknum dosen di salah satu universitas negeri di Indonesia. Pemilik akun Threads @bonabon, Melissa Bonauli, yang merupakan alumni Oseanografi Fakultas Ilmu Perikanan dan Kelautan (FPIK) angkatan 2010, memberanikan diri untuk bersuara terkait pengalaman traumatik yang dialaminya semasa kuliah.
Keberanian Melissa membuka masa lalu kelam tersebut didasari oleh keyakinannya bahwa ada banyak korban lain yang berdiam diri. Dia memilih menjadi orang pertama yang menyuarakan aksi pelecehan itu ke publik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hai! Aku bona. Aku mau speak up ttg kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh dosen pembimbing di ****. Aku tau ada banyak korban lainnya. So i will go first...." tulis @bonabon.
Peristiwa kelam tersebut bermula menjelang masa kelulusannya di pertengahan tahun 2015, saat oknum dosen berinisial D secara tiba-tiba mencatutkan namanya sebagai dosen pembimbing skripsi ketiga.
"Awal mulanya di tahun 2010. Gw masuk sebagai maba oseanografi di Fakultas Ilmu perikanan dan kelautan Undip. Saat itu D berjabatan sebagai Kaprodi. Mantep kan? Wkwkkwk.. Entah sial dari mana gw harus menjadi anak wali D. But somehow, banyak yang seneng karena D terkenal sebagai dosen proyek (ini akan jadi side story kita). Well, gw sakit-sakitan dulu, jadi selalu dimarahin ama D karena nilai gw ga cukup memuaskan. Bahkan, sering disuruh pindah jurusan," tulisnya.
Puncak pelecehan terjadi ketika Melissa terpaksa menjalani sesi bimbingan di lorong dan ruang dosen yang sudah sepi saat sore hari. Usai bimbingan, pelaku memanfaatkan momen berpamitan untuk memeluk korban secara paksa dan meminta ciuman.
Meski Melissa berhasil melawan dan melarikan diri, intimidasi tak berhenti di situ. Melissa mengungkapkan pelaku sempat mengirim pesan singkat (SMS) berisi permohonan maaf dan larangan untuk menceritakan kejadian tersebut kepada siapa pun.
Dampak psikologis dari insiden tersebut merusak kesehatan mental Melissa hingga bertahun-tahun kemudian. Selama proses sidang skripsi, ia harus menahan mual dan trauma mendalam karena berhadapan langsung dengan pelaku yang bersikap seolah tak terjadi apa-apa.
Rasa tidak berdaya (powerless) dan ketakutan akan posisi pelaku yang menjabat sebagai Kepala Program Studi (Kaprodi) serta memegang banyak proyek kampus membuat Melissa memilih menyimpan luka itu sendirian saat itu. Dia tidak berani melapor ke pihak kampus maupun menceritakannya kepada teman-teman terdekatnya.
Langkah berani Melissa untuk speak up rupanya menjadi pemantik munculnya gelombang dukungan dan pengakuan dari para alumni lainnya. Setelah unggahannya beredar luas, pesan pribadi (DM) milik Melissa dibanjiri oleh curahan hati dan sinyal trauma dari sesama korban lintas angkatan-mulai dari angkatan 2002 hingga mahasiswa aktif saat ini yang mengonfirmasi rekam jejak kelam dan perilaku bermasalah (freak) dari oknum dosen tersebut.
Melalui gerakan ini, Melissa menegaskan komitmennya untuk merangkul para penyintas lain dan menuntut keadilan agar tindakan pelaku tidak terlupakan begitu saja. Postingan tersebut langsung mendapatkan banjir dukungan dari warganet untuk Melissa agar tetap semangat dan bangkit.
"Hi bona, 2008 here..
Sending u a virtual hug, lekas sehat yaaa... i'm sad to hear that..
🥲," ujar @nurfaupe.
"Mungkin ka bona ga kenal aku, tapi aku kenal ka bona karena dulu 2012 di ospek langsung sama 2010, dulu liat ka Bona mencerminkan cewe strong dan tegas banget ga disangka2 ada kejadian yang bikin rapuh gini, semangat ya ka bona, semoga lekas sembuh," timpal akun @fajri_mf.
Konfirmasi Wolipop
Wolipop menghubungi Melissa Bonauli yang mengungkap kasus pelecehan seksual tersebut. Pasca-insiden pelecehan di ruang dosen yang sepi tersebut, Melissa mengaku trauma mendalam secara perlahan mengikis kesehatan mentalnya.
"Seporsi kekalahan. Jika kembali ke masa itu, rasanya frasa ini jadi yang paling cocok. Sejak kejadian itu, isi kepala gue kosong. Tubuh ini tak ubahnya sepotong zombi tapi masih napas. Waktu bergulir, tapi hidup gue seakan berhenti," kenang Melissa kepada Wolipop.
Hari-hari Melissa diisi dengan perasaan takut, kalut, dan ketidakberdayaan yang luar biasa. Ia terpaksa berganti 'topeng' saat beraktivitas di luar demi terlihat normal di mata orang lain. Namun, ketika kembali ke kamarnya yang gelap, pertahanan dirinya langsung runtuh.
"Di luar, gue tampak biasa aja, ketawa, ngobrol, have fun. Begitu masuk kamar, topengnya dilepas. Gue membungkus diri gue, mencoba menghapus ingatan akan perbuatan D. Nangis sampai ketiduran, itu yang gue lakuin tiap hari. Jangankan skripsi, masukin baju ke lemari aja nggak bisa. Ngaco banget hidup gue," tuturnya.
Di tengah depresi yang mengimpit, Melissa harus menelan pil pahit ketika berusaha mencari bantuan. Mantan kekasih serta seniornya (R) yang diberi tahu soal insiden ini sepakat bahwa posisi pelaku sebagai Kepala Program Studi (Kaprodi) membuat situasi menjadi sangat berisiko bagi kelanjutan studi Melissa.
"Katanya skripsi kamu bisa dijegal. Lagi-lagi gue harus menelan duri ini. Senior gue (R) juga sependapat, 'Dia kaprodi. Agak berbahaya untuk skripsimu.' Hanya beberapa hari sejak kejadian itu, gue harus berhadapan kembali dengan D. Siap nggak siap, gue harus maju," ungkapnya.
Didampingi seniornya yang menunggu di parkiran gedung, Melissa terpaksa melangkah masuk ke ruangan D untuk meminta tanda tangan persyaratan skripsi. Meski proses tersebut hanya berlangsung kurang dari sepuluh menit, atmosfer ruangan yang berbau kertas lapuk itu terasa sangat menyiksa dan membakar traumanya.
Puncak Trauma di Ruang Sidang Skripsi
Puncak dari penderitaan psikologis yang dialami Melissa terjadi saat hari sidang skripsi. Mempertemukan korban secara langsung dengan pelaku di dalam ruang sidang yang sempit menjadi ujian paling berat bagi ketahanan mentalnya.
"Ruang sidang itu kecil, ada tiga pembimbing dan satu penguji... Pandangan mata gue dan D kerap beradu. Situasi ini bikin gue gelagapan, mual, dan kalang kabut. Ending-nya, nggak ada pertanyaan yang bisa gue jawab dengan benar. Ternyata benar, pelaku dan korban pelecehan seksual tidak boleh dipertemukan," ujar Melissa.
Kegagalan menjawab pertanyaan sidang dan rasa jijik yang meluap membuat Melissa berlari ke kamar mandi tepat setelah sidang usai. Rasa tidak berdaya membuatnya tak berani melapor kepada dosen pembimbing lainnya, hingga berkas skripsi jatah untuk D bahkan tidak pernah ia serahkan.
Selama sepuluh tahun, Melissa menyimpan rapat luka tersebut sendirian. Sebagai pemeluk agama Kristen, kekuatan doa dan pegangan iman menjadi satu-satunya alasan ia mampu bertahan dan menjaga kesadarannya hingga akhirnya memberanikan diri untuk bersuara setelah berpasrah selama tiga hari dalam doa.
Kini, melalui keberaniannya membuka kisah kelam tersebut, Melissa menyampaikan pesan mendalam bagi para korban kejahatan seksual di mana pun berada.
"Sebagai wanita, sebagai anak, gue berharap agar yang lain tidak merasakan ini. Cari bantuan profesional, itu sangat penting. Jangan kira pelecehan seksual hal mudah yang bisa hilang seiring berjalannya waktu. Jangan denial," tegas Melissa.
Ia juga menekankan pentingnya mencari ruang aman serta dukungan dari lingkungan sekitar agar para korban tidak merasa berjuang sendirian.
"Cerita ke teman dekat, harus banyak dapat support. Cari komunitas, teman yang bisa doain kalian dan support penuh. Itu sangat berarti. Kalau udah lihat gelagat cabul, jangan dibiarkan. Menjauh dari lingkungan itu. Semoga teman-teman lain bisa saling kuat dan menjaga satu sama lain," pungkasnya.
(gaf/eny)











































