Viral Robot AI Jadi Model Catwalk, Dihujat Netizen karena Mirip Zombi Berjalan
Robot humanoid asal China pernah viral saat terlihat beraksi di jalanan sebagai 'petugas polisi.' Kini mereka merambah dunia fashion dan melenggang di atas catwalk.
Namun kehadiran robot humanoid 'ultra-bionik' garapan UBTECH di atas runway fashion show di Shenzhen, China, memicu reaksi tak terduga dari netizen. Alih-alih menuai decak kagum karena teknologi kulit silikon dan ekspresi wajahnya yang diklaim super-realistis, robot berukuran manusia asli ini malah panen hujatan. Model catwalk yang hadir dalam bentuk robot itu disebut lebih mirip 'zombi estetis' akibat cara berjalan mereka yang dinilai sangat kaku.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perusahaan robotika asal China, UBTECH, baru saja memperkenalkan apa yang mereka klaim sebagai robot humanoid "ultra-bionik" pertama di dunia yang diproduksi secara massal. Robot android setinggi manusia ini berbagi panggung dengan para model manusia dalam acara peluncuran global perusahaan tersebut di Shenzhen. Namun, alih-alih memukau jagat maya, penampilan mereka justru menjadi bahan olok-olok netizen.
Menurut pihak perusahaan, robot-robot ini dilengkapi dengan ekspresi wajah yang realistis, gerakan layaknya manusia, serta kulit silikon yang dirancang khusus untuk meniru tekstur kulit asli. Mereka juga hadir dalam versi pria dan wanita, dengan wajah, gaya rambut, hingga riasan yang dapat disesuaikan dengan keinginan konsumen.
Robot bionik UBTECH tampil di catwalk Shenzhen. Meski diklaim super-realistis, netizen justru menghujat pergerakan kakunya dan menyebut mirip zombi estetis. Foto: Dok. UBTech & BBC. |
Sayangnya, pengguna internet tidak langsung percaya begitu saja. Kolom komentar media sosial langsung dibanjiri kritik. Beberapa netizen menyebut mereka sebagai "maneken berjalan", sementara yang lain bercanda bahwa robot-robot tersebut tampak seperti "zombi estetis".
Menilai dari visualnya, tidak sulit untuk memahami mengapa netizen bereaksi demikian. Perpaduan antara cara berjalan yang canggung dan wajah yang terlalu mulus hingga terasa janggal membuat mereka tampak seperti karakter anime yang belum selesai diproses secara digital. Sedikit pelumas pada bagian sendi tampaknya akan cukup membantu pergerakan mereka.
Robot bionik UBTECH tampil di catwalk Shenzhen. Meski diklaim super-realistis, netizen justru menghujat pergerakan kakunya dan menyebut mirip zombi estetis. Foto: Dok. UBTech & BBC. |
Netizen lain juga mulai mempertanyakan masa depan industri fashion. Ada yang penasaran apakah model manusia harus mulai mengkhawatirkan pekerjaan mereka, sementara yang lain berkomentar sinis.
Menanggapi kehebohan tersebut, pakar teknologi dan pengamat tren digital, Dr. Adrian Pratama, memberikan sudut pandangnya mengenai fenomena ini.
"Reaksi negatif dari netizen ini sebenarnya adalah contoh klasik dari fenomena uncanny valley-di mana replika manusia yang hampir sempurna justru memicu rasa tidak nyaman atau penolakan emosional dari manusia asli karena ada detail kecil yang terasa janggal, seperti tatapan mata yang kosong atau gestur yang terlalu kaku. Meski untuk urusan fesyen performanya masih dinilai kurang alami, langkah UBTECH ini membuktikan bahwa lompatan teknologi manufaktur robotik mereka sudah sangat masif," ujar Dr. Adrian dikutip dari 8days.
Robot bionik UBTECH tampil di catwalk Shenzhen. Meski diklaim super-realistis, netizen justru menghujat pergerakan kakunya dan menyebut mirip zombi estetis. Foto: Dok. UBTech & BBC. |
Meski muncul di atas runway fashion, UBTECH mengklarifikasi bahwa robot-robot ini sebenarnya dirancang untuk sektor komersial. Target utamanya adalah penggunaan di acara peluncuran merek, pameran, museum, hotel, hingga tempat wisata, di mana mereka dapat bertugas menyapa dan berinteraksi dengan pengunjung.
Teknologi ini tentu tidak murah. Model kasta tertinggi yang memiliki kemampuan berjalan, menari, hingga tampil di atas panggung dibanderol dengan harga mencapai 990.000 Yuan (sekitar Rp 2,1 Miliar). Kendati memicu perdebatan, pihak perusahaan menyatakan telah mengantongi lebih dari 13.000 pesanan, dengan proses pengiriman yang dijadwalkan mulai berjalan pada September mendatang.
(gaf/eny)














































