Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Tren Menstrual Masking Viral, Benarkah Darah Haid Bikin Wajah Glowing?

Kiki Oktaviani - wolipop
Sabtu, 29 Nov 2025 11:00 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Ilustrasi darah haid
Ilustrasi Foto: Getty Images/knape
Jakarta -

Fenomena perawatan kecantikan yang tak biasa kembali viral di media sosial. Para beauty influencer di berbagai platform kini ramai mencoba tren 'menstrual masking', yaitu memakai darah haid sendiri sebagai masker wajah.

Tren ini muncul seiring semakin populernya eksperimen DIY skincare. Bermula dari sejumlah wellness influencer yang mengklaim darah haid memiliki manfaat kecantikan dan bisa membuat kulit glowing, metode yang tidak lazim ini akhirnya banyak dicoba oleh warganet yang penasaran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Secara sederhana, menstrual masking berarti mengoleskan darah menstruasi ke kulit wajah selama beberapa menit sebelum dibilas. Praktik ini sepenuhnya tidak memiliki aturan baku dan belum melalui uji klinis. Tidak ada panduan tentang jumlah darah yang digunakan maupun durasi pemakaiannya.

Pendukung tren ini percaya bahwa darah menstruasi mengandung sel punca (stem cells), sitokin, dan protein yang dianggap mampu merevitalisasi kulit. Salah satu studi dari Federation of American Societies for Experimental Biology (FASEB) menemukan bahwa plasma dalam cairan menstruasi berpotensi membantu perbaikan jaringan dan penyembuhan luka.

ADVERTISEMENT
wanita melakukan hal gila pada darah haidPakai darah haid di wajah Foto: Dok. Instagram

Dalam pengujian laboratorium, luka yang diberi plasma menstruasi disebut dapat sembuh hingga 100% dalam 24 jam, dibandingkan sekitar 40% ketika menggunakan plasma darah biasa. Peneliti menduga hal ini berkaitan dengan protein dan molekul bioaktif dalam cairan haid yang secara alami berperan membangun kembali dinding rahim setiap bulan.
Selain itu, stem cells dari darah menstruasi (MenSCs) juga mulai menarik perhatian ilmiah. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sel ini dapat meningkatkan produksi kolagen, mengurangi kerutan, serta merangsang faktor pertumbuhan yang mendukung regenerasi kulit.

Meski begitu, sejumlah dokter kecantikan tidak menyarankan tren ini untuk dicoba. Dokter Pengobatan Tiongkok, Dr. Vivian Tam, pendiri Cosmetics Acupuncture London, menyebut bahwa klaim yang beredar tidak memiliki dasar ilmiah.

"Saya tidak yakin ada bukti ilmiah yang mendukung penggunaan darah menstruasi pada wajah untuk manfaat kulit," ujar Dr. Tam, dikutip dari Body and Soul.

"Klaim yang beredar tidak didasarkan pada dermatologi atau penelitian medis lainnya," tambahnya.

Sebagian penggemar kecantikan menyamakan tren ini dengan vampire facial, yaitu prosedur kecantikan yang menggunakan platelet-rich plasma (PRP) dari darah pasien yang kemudian disuntikkan kembali ke wajah. Prosedur ini sempat viral setelah Kim Kardashian memamerkan prosesnya. Namun, para ahli dermatologi menegaskan bahwa menyamakan darah haid dengan PRP adalah keliru.

PRP diproses secara steril menggunakan teknologi medis, sementara darah menstruasi dapat mengandung bakteri dan jamur seperti Staphylococcus aureus, yang berisiko menimbulkan infeksi jika masuk ke pori-pori atau luka kecil. Selain itu, darah haid juga berpotensi membawa infeksi menular seksual (IMS), sehingga risikonya jauh lebih besar dibandingkan prosedur medis profesional seperti PRP.

Tren menstrual masking juga bukan satu-satunya praktik kecantikan tak biasa yang viral. Ada pula "urine therapy", yaitu penggunaan air kencing untuk dioleskan ke kulit. Metode ini punya akar dalam pengobatan Ayurveda dan diklaim mampu mendetoks tubuh serta mengatasi sejumlah kondisi medis. Versi modernnya bahkan diyakini sebagian orang dapat membantu mengatasi jerawat dan eksim, meski hingga kini belum ada bukti ilmiah kuat yang mendukung klaim tersebut.

(kik/kik)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads