Kisah Tragis Pria China Meninggal Setelah Jadi Korban Bullying, Dipanggil 'Banci'

Daniel Ngantung - wolipop Jumat, 17 Des 2021 20:07 WIB
Zhou Peng Zhou Peng, pria asal China yang meninggal setelah jadi korban bullying. (Foto: Dok. Weibo)
Beijing -

Kematian seorang pemuda menyita perhatian publik China. Ia meninggal setelah curhat menjadi korban bullying dan kerap diejek seperti 'banci'.

Zhou Peng ditemukan tewas di perairan dekat Zhoushan, Provinsi Zhejiang, China pada Rabu (1/12/2021) lalu. Menurut laporan China News, seperti dikabarkan South China Morning Post, ia sempat mem-posting semacam 'surat bunuh-diri' di Weibo beberapa hari sebelumnya.

Di catatan yang berisi sekitar 5.000 kata itu, Zhou Peng bercerita tentang perlakuan buruk yang dialaminya saat masih bersekolah dulu. Pria 26 tahun itu mengaku 'diejek, dikucilkan dan diancam' karena dianggap berkelakuan seperti perempuan.

"Aku dipanggil 'banci' di sekolah. Mungkin aku sedikit terlihat seperti perempuan saat masih kecil, tapi aku berpakaian 'normal' dan tidak berupaya meniru perempuan," tulis Zhou Peng.

Menurut tulisannya di surat itu, Zhou yang bekerja sebagai fotografer dan memiliki nama alias Ludaosen merasa 'ditelantarkan' oleh keluarganya. Ayah dan ibunya meninggalkan Zhou karena harus bekerja di kota.

Kabar kematian Zhou Peng menyita perhatian dan mengundang simpati wargenet. Seperti dilansir dari BBC News, peristiwa tersebut turut memantik diskusi mengenai kesehatan mental, perundungan, serta bagaimana seorang pria China harus bersikap dan berpenampilan.

"Berapa banyak anak laki-laki lain yang ditertawakan karena penampilan dan suara mereka lembut? Siapa sih kita untuk mendikte apa yang diterima atau tidak? Mereka tidak melakukan salah."

Pengguna Weibo lainnya mengutarakan sebuah 'pengakuan dosa'. Ia mengaku sangat menyesal karena bersama teman-temannya pernah sering mengejek seorang anak laki-laki yang dianggap 'banci'. "Kalau diingat lagi, saya begitu malu. Kami hanya bercanda, tapi tindakan itu mungkin menimbulkan trauma," tulisnya.

Tampaknya masalah perundungan serta efeknya bukan topik yang dianggap sangat serius di China. Terbukti, sulit untuk menemukan studi-studi terkait perundungan di China.

Akan tetapi, sebuah makalah di Children and Youth Services Review yang terbit pada 2019 mengungkap, 35 persen dari 3.000 responden remaja di China mengaku sebagai korban perundungan langsung. Adapun lebih dari 31 persen dirundung secara siber.

Sikap masyarakat China yang 'alergi' dengan para pria yang 'lembut' atau memiliki ekspresi gender yang feminin tak lepas dari propaganda pemerintahnya.

Awal tahun ini saja, Kementerian Pendidikan sempat merilis surat edaran kepada sekolah-sekolah untuk mereformasi pendidikan jasmani dan kesehatan. Judul surat itu secara gamblang berbunyi: "Proposal untuk Mencegah Feminisasi terhadap Remaja Pria".

Televisi dan stasiun radio yang dioperasikan pemerintah juga dilarang untuk menampilkan para figur publik atau bintang pop pria yang jauh dari stereotipe lelaki macho.

Menurut para pengamat, hal ini berkaitan dengan agenda Presiden Xi Jinping untuk membentuk China sesuai visinya, yaitu "sosialis dengan karakteristik China" tanpa ada pengaruh asing.

"Dalam beberapa tahun terakhir, banyak bintang muda China menantang pandangan tradisional mengenai maskulinitas, sebagian besar berkat pengaruh pop Korea," kata Dr Wang Shuaishuai, pakar budaya digital dari Universitas Amsterdam, kepada BBC.

Jika Anda pernah memikirkan atau merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional atau mengenal orang-orang dalam kondisi itu, ada baiknya menghubungi pihak yang bisa membantu.

Misalnya saja Komunitas Save Yourselves melalui Instagram/@saveyourselves.id, Yayasan Sehat Mental Indonesia melalui akun Line @konseling.online, atau Tim Pijar Psikologi.



Simak Video "Miss USA 2019 Cheslie Kryst Meninggal Bunuh Diri"
[Gambas:Video 20detik]
(dtg/dtg)