Angka Kelahiran Korea Semakin Menurun, Ini Pengaruhnya untuk Industri KPop

Rahmi Anjani - wolipop Kamis, 28 Okt 2021 11:07 WIB
Ilustrasi menyusui atau menggendong bayi Foto: Getty Images/iStockphoto/damircudic
Jakarta -

Perubahan dalam industri hiburan bisa disebabkan karena berbagai faktor, termasuk perkembangan zaman. Baru-baru ini seorang pakar pun memprediksi bahwa di masa depan bukan tidak mungkin dunia KPop akan memudar dan ditinggalkan. Bukan karena pergeseran tren ia memprediksi bahwa menghilang KPop disebabkan rendahnya angka kelahiran di Korea.

Korea Selatan adalah salah satu negara yang angka kelahirannya rendah dan semakin menurun. Beberapa waktu lalu data juga mengungkap bahwa setengah dari orang berusia 30an memutuskan untuk belum menikah yang bisa mempengaruhi jumlah anak dalam sebuah keluarga. Seorang trainer KPop In Ji Woong pun berpendapat hal itu dapat berimbas pada masa depan KPop. Dikatakan jika banyak agensi bahkan sudah mulai merasakan kesulitannya sekarang.

In Ji WongIn Ji Wong Foto: Dok. YouTube

In Ji Wong adalah seorang koreografer dan pelatih para idol atau trainee. Dalam videonya baru-baru ini di YouTube, pria tersebut mengatakan jika tiga agensi hiburan terbesar Korea yakni SM, YG, dan JYP yang serig disebut 'Big 3' mulai kesulitan mencari trainee. Disebabkan karena angka kelahiran yang menurun, ia mengkhawatirkan industri KPop di masa depan.

"Bahkan perusahaan 'Big 3' kesulitan untuk menjaring anak usia 12-13 tahun. Artinya jika kita mau mencari anak 13 tahun sekarang, kita harus mencari mereka yang lahir sekitar tahun 2010 tapi anak seumuran itu tidak ada lagi," katanya.

In Ji WongIn Ji Wong Foto: Dok. theqoo

Menurut In Ji Wong, jika Big 3 saja kesusahan dalam menemukan trainee, bagaimana dengan agensi-agensi kecil. Karena itu, masa depan industri KPop bisa jadi terancam.

"Idol-idol sekarang yang mempertahankan gelombang KPop kebanyakan lahir tahun 90an. Bagaimanapun sejak 2005, menjadi semakin sulit untuk menemukan anak-anak untuk dilatih. Mencari trainee potensial menjadi hal yang paling sulit dilakukan," ujar In Ji Wong.

(ami/ami)