Kisah Viral Bule Mogok Makan Saat Olimpiade Tokyo, Protes Anak Diculik Istri

Rahmi Anjani - wolipop Jumat, 30 Jul 2021 15:15 WIB
Vincent Fichot Foto: Facebook Vincent Fichot
Jakarta -

Vincent Fichot asal Prancis jadi perhatian di tengah penyeleggaraan Olimpiade 2020 di Tokyo, Jepang. Ia memanfaatkan momen pesta olahraga tersebut untuk mendapat sorotan soal protesnya atas hak asuh anak. Vincent mengaku kedua anaknya telah diculik oleh ibu mereka sendiri. Merasa putus asa karena tidak bisa bertemu buah hati, ia pun memutuskan mogok makan hingga 40 hari.

Vincent mogok makan di sebuah stasiun kereta dekat dengan tempat penyelenggaraan Olimpiade 2020. Di tengah panasnya Tokyo, Vincent rela kemping dan menahan diri untuk tidak makan selama berhari-hari. Laporan terbaru mengungkap Vincent sudah pingsan di hari ke-20.

"Aku berdiri dari duduk dan langsung pingsan. Aku pikir aku blackout mungkin selama lima atau enam detik ketika aku sadar jari di tangan kananku tertekuk sangat parah," kata Vincent kepada This Week in Asia yang kemudian dibawa ke rumah sakit oleh para pendukungnya.

Meksi kondisinya cukup parah, pria tersebut awalnya menolak jarinya dioperasi sampai ia selesai dengan aksinya. "Aku yang menentukan nasibku sendiri dan aku berjuang untuk hak anak-anakku. Aku akan berhenti jika hak mereka sudah dihargai maka aku akan berhenti. Tidak jika belum," katanya.



Vincent sebelumnya sudah membawa kasus ini ke pengadilan. Ia melaporkan bahwa istrinya membawa kedua anak mereka, Tsubasa dan Kaeda, yang berusia enam dan empat tahun lalu menghilang tanpa kabar sejak Agustus 2018. Sejak saat itu, Vincent tidak bisa bertemu mereka padahal ia diminta untuk tetap memberikan nafkah.

Pria itu juga sudah mencoba meminta pertolongan pemerintah Perancis, Parlemen Eropa, dan PBB tapi harus kecewa karena sampai saat ini tidak ada yang bisa menolong. Karena itu, ia memutuskan untuk melakukan aksi mogok makan selama 40 hari. Banyak orang dari seluruh dunia yang simpati dengan kisah Vincent dan mendukungnya lewat petisi di situs Change.org.



Jepang memang tidak mengenal hak asuh anak bersama ketika sepasang suami istri bercerai. Biasanya hak asuh akan jatuh pada sang ibu. Pengadilan juga tidak mengatur soal pertemuan antara orangtua dan anak sehingga banyak dari mereka yang kehilangan kontak.

(ami/ami)