Kisah Warga Korut Kabur ke AS, Ungkap Hal Tak Terduga Soal Kedua Negara

Rahmi Anjani - wolipop Selasa, 15 Jun 2021 18:05 WIB
yeonmi park Foto: Instagram @yeonmi_park
Jakarta -

Yeonmi Park adalah seorang pembelot Korea Utara yang kini tinggal di Amerika Serikat. Meski sudah jauh dari negara asalnya, mahasiswa sekaligus aktivis tersebut mengaku kerap mendapat ancaman karena mengungkap pengalamannya selama tinggal di sana. Baru-baru ini ia pun kembali bercerita soal rasanya tidak punya kebebasan di Korut. Mengejutkan Yeonmi mengatakan jika hal yang serupa juga dijumpai di Amerika.

Yeonmi bersama ibunya kabur dari Korea Utara saat berusia 14 tahun. Melalui sungai Yalu yang sedang membeku, mereka dengan susah payah keluar dari negara dibawah kepemimpinan diktator tersebut dan mengalami berbagai kejadian tidak menyenangkan. Mereka dibawa oleh penyelundup yang malah menculik lalu menjual mereka. Keduanya juga mengalami pemerkosaan sebelum melarikan diri ke Mongolia dan akhirnya sampai di Korea Selatan lalu pindah ke Amerika Serikat di 2014.

Sesampainya di Chicago, AS, Yeonmi menjadi aktivis yang sering membeberkan kisahnya dan menuntut kebebasan HAM orang-orang di Korea Utara. Meski kehidupan jauh lebih baik ternyata wanita 27 tahun tersebut tidak sepenuhnya merasa bebas seperti yang diekspektasi dari Amerika.

yeonmi parkyeonmi park Foto: Instagram @yeonmi_park

"Aku benar-benar menyeberangi gurun Gobi untuk bisa bebas dan aku sadar aku tidak bebas, Amerika tidak bebas. Aku berharap aku bisa membayar semua biaya, waktu, dan energi untuk belajar bagaimana berpikir. Tapi mereka memaksamu untuk berpikir seperti yang mereka inginkan," kata Yeonmi kepada FoxNews.

"Aku pikir ini gila. Aku pikir Amerika berbeda tapi aku menemukan banyak persamaan dari yang aku lihat di Korea Utara dan aku mulai khawatir," lanjutnya.

Kebebasan yang dimaksud Yeonmi ternyata terkait apa yang diajarkan padanya di sekolah atau universitas. Wanita cantik tersebut mengaku bahwa dosen-dosen sering memberikan peringatan sebelum mempelari sesuatu. Misalnya ketika seorang pengajar mengatakan jika penulis buku klasik punya pola pikir kolonial, rasis, dan bisa mencuci otaknya. Saat itu, ia teringat pengalaman serupa di Korut di mana ia diminta untuk anti dengan Amerika.

"Dulu pelajaran matematika (di Korea Utara) seperti: Ada empat orang brengsek dari Amerika, kamu bunuh dua di antaranya, berapa banyak orang brengsek Amerika yang tersisa untuk dibunuh,"

"Aku pikir hanya orang-orang Korea Utara yang membenci Amerika tapi ternyata ada banyak orang yang membenci negara ini di negara ini," jelasnya.

yeonmi parkyeonmi park Foto: Instagram @yeonmi_park

Hal lain yang membuatnya bingung adalah penggunaan kata ganti ketika beberapa orang memilih untuk disebut 'they' daripada 'she' atau 'he' karena gender merkea. "Korea Utara cukup gila tapi tidak segila ini. Aku tidak tahu mengapa orang-orang bisa sama-sama gila seperti ini atau bersamaan," tambah Yeonmi.

Lebih lanjut Yeonmi Park berpendapat bahwa meski di Amerika orang lebih bebas mengakses informasi, mereka juga mudah untuk dicuci otaknya dan menolak untuk menerima kebenaran. Ia pun mengaku khawatir dengan masa depan negaranya sekarang.

"Di Korea Utara, aku dulu berpikir pemimpin kami kelaparan. Padahal dia orang paling gemuk, bagaimana orang bisa percaya? Lalu seseorang menunjukkan padaku fotonya dan berkata 'Lihat dia pria paling gemuk dan semua orang kurus'. Dan aku seperti 'Oh Tuhan, mengapa aku tidak melihat dia gemuk?' Karena aku tidak pernah belajar berpikir kritis. Itu yang terjadi di Amerika. Orang bisa melihat tapi benar-benar kehilangan kemampuan berpikir kritis," katanya.

(ami/ami)