Pengakuan Pembelot Korea Utara, Makan Serangga Demi Bertahan Hidup

Daniel Ngantung - wolipop Kamis, 10 Sep 2020 05:45 WIB
Korea Utara (Korut) menggelar parade militer untuk memperingati kelahiran Kim Il-Sung. Berbagai jenis alutsista dipamerkan. Potret Korea Utara (Foto: Damir Sagolj/ REUTERS)
Chicago -

Sudah bukan rahasia lagi bila Korea Utara dikenal sebagai negara yang penuh kontroversi. Tak cuma proyek senjata nuklirnya yang menuai kecaman, nasib rakyatnya juga kerap menjadi sorotan dunia.

Baru-baru ini, seorang perempuan yang berhasil kabur dari Korea Utara membeberkan kisah hidupnya yang pilu saat menjadi warga negara pimpinan Kim Jong Un tersebut.

Yeonmi Park lahir 26 tahun lalu di Korea Utara. Jangan bayangkan masa kecil Yeonmi yang penuh ceria dan canda tawa.

A woman talks on a mobile phone as Korean Peole's Army (KPA) soldiers arrive to pay their respects before the statues of late North Korean leaders Kim Il Sung and Kim Jong Il, as part of celebrations marking the anniversary of the birth of Kim Il Sung, known as the 'Day of the Sun', on Mansu hill in Pyongyang on April 15, 2019. (Photo by Ed JONES / AFP)Warga Korea Utara (Foto: Ed JONES/AFP)

Di sekolah, Yeonmi Park diajarkan untuk membenci negara-negara yang bertentangan dengan Korea Utara. Ia dan murid sekelasnya pun mendapat sesi khusus untuk saling mengkritik secara tidak sehat sehingga menimbulkan konflik dan perpecahan.

"Kami tidak punya teman di Korea Utara, hanya kenalan biasa. Tidak ada konsep pertemanan," ungkap Yeonmi Park dalam sebuah wawancara dengan New York Post.

Suramnya masa kanak-kanak Yeonmi Park di Korea Utara tak hanya itu saja. Ia melihat secara langsung orang-orang di sekitarnya menderita karena kelaparan sampai mati.

North Korean men walk amid a dry and barren landscape on the banks of the Yalu River in November 2010. (Frederic J Brown/AFP/Getty Images)Potret kekeringan di Sungai Yalu, Korea Utara, pada November 2010. (Foto: Frederic J Brown/AFP/Getty Images)

"Sebuah hal biasa bagi kami untuk melihat mayat-mayat bergeletakan di pinggir jalan. Bukan hal yang aneh buatku," kata perempuan yang saat ini berdomisili di Chicago, AS.

Menurut Yeonmi Park, kesengsaraan yang terjadi di belahan dunia lain tak sebanding dengan di bekas negaranya.

"Saya sudah pernah ke daerah kumuh di Mumbai dan beberapa negara, tapi di Korea Utara sangat parah karena kelaparan di sana sangat sistematis. Korea Utara sengaja membuat negaranya kelaparan," terang Yeonmi Park.

Demi bertahan hidup, Yeonmi Park dan keluarganya pernah mengonsumsi serangga karena tak ada makanan yang tersedia. Nenek dan pamannya meninggal karena malagizi.

"Korea Utara menghabiskan miliaran dolar untuk membuat senjata nuklir. Jika mereka mau menyisihkan 20 persennya saja, orang-orang tidak akan mati karena perut kosong, tapi rezim membuat kami kelaparan," katanya lagi.

People watch a TV screen showing a news program reporting about North Korea's firing of projectiles with a file image at the Seoul Railway Station in Seoul, South Korea, Monday, March 2, 2020. North Korea fired two unidentified projectiles into its eastern sea on Monday as it begins to resume weapons demonstrations after a months-long hiatus that could have been forced by the coronavirus crisis in Asia. The Korean letters read: Warga menyaksikan uji coba nuklir Korea Utara. (Foto: AP Photo/Lee Jin-man)

Karena sudah tak kuat menghadapi kesengsaraan, keluarga Yeonmi Park memutuskan untuk keluar dari Korea Utara. Ketika kabur bersama ibunya, ia baru berusia 13 tahun.

Mereka berusaha melarikan diri melalui China di tengah musim dingin. Namun di tengah perjalanan, mereka dihadang oleh kelompok penyelundup manusia. Mereka lalu memerkosa ibunya.

Menjadi korban perdagangan manusia, ia dijual kepada seseorang dengan bayaran tak lebih dari US$ 300 atau sekitar Rp 4,5 juta.

Singkat cerita mereka berhasil keluar dari perbatasan dan bertemu dengan ayahnya yang sudah kabur terlebih dulu. Tak lama kemudian, ayah Park meninggal karena kanker usus.

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un tiba di Rusia dengan kereta api khusus. Dalam kunjungan itu Kim Jong Un akan bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un tiba di Rusia dengan kereta api khusus pada 2019. Dalam kunjungan itu Kim Jong Un akan bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. (Foto: Reuters)

Dengan bantuan misionaris Kristen, Park dan ibunya masuk ke Mongolia dengan aman. Mereka lalu dipindahkan ke sebuah penampungan di Korea Selatan.

Kehidupan Yeonmi Park berangsur membaik. Di Seoul, ia melanjutkan studinya sebelum akhirnya bertolak ke New York City pada 2014.

Berangkat dari pengalaman kelam tersebut, Yeonmi Park terinspirasi untuk menjadi seorang pejuang hak asasi manusia. Ia vokal terhadap isu hak-hak warga Korea Utara yang tertindas karena pemerintahnya yang otoriter.

Terlepas dari kisah hidupnya yang pilu, Yeonmi Park tetap bersyukur lahir di Korea Utara. "Jika saya tidak lahir di bawah tekanan dan kemelut tersebut, saya mungkin tidak akan pernah melihat terang. Mungkin orang-orang di sini, mereka tidak melihat terang dan hanya bisa merasakan gelap. Saya bisa melihatnya dengan terang," katanya.

(dtg/dtg)