Cerpen Singkat Tentang Persahabatan Sejati di Sekolah, Ini Contohnya

Puti Yasmin - wolipop Minggu, 04 Okt 2020 16:00 WIB
ilustrasi cerpen Foto: Ilustrasi: Edi Wahyono/ Cerpen Singkat Tentang Persahabatan Sejati di Sekolah, Ini Contohnya
Jakarta -

Membaca cerita pendek atau cerpen memiliki kepuasan tersendiri bagi para pecintanya. Bahkan, tema tentang persahabatan menjadi salah satu yang favorit. Nah, apa saja contoh cerpen singkat tentang persahabatan?

Dikutip dari buku 'Menggagas Sebuah Cerpen' karya E. Heri, cerpen adalah tulisan yang menggambarkan tentang kehidupan manusia di suatu tempat dalam kurun waktu tertentu. Adapun, cerita maksimal berisi 20.000 karakter bila lebih panjang tidak bisa disebut sebagai cerpen.

Berikut contoh cerpen singkat tentang persahabatan sejati dikutip dari buku 'Persahabatan' terbitan Logika Galileo:

Berteman dengan siapa saja boleh, mau dia kaya, miskin, jelek tampan, lelaki, wanita, tua, atau muda. Semua boleh saja karena tidak ada aturan yang menghalangi seseorang untuk berteman dengan siapapun, baik Presiden sekali pun.

Dalam berteman, kita harus mempunyai tata krama, sopan santun, dan etika. Jika tidak, mungkin berawal dari teman kita bisa menjadi musuh atau bahkan menjadi seorang penjahat.

Itu lah gunanya tata krama, sopan santun, dan etika dalam berteman agar pertemanan berjalan dengan baik dan dapat saling membantu. Hal-hal itu harus diperhatikan dalam memilih teman baik atau sahabat karena teman baik dapat menentukan arah tujuan hidup kita juga. Misalnya, jika kita berteman baik dengan para pengedar narkoba, secara tidak langsung kita dapat menjadi pecandu narkoba ataupun pengedar narkoba.

Berteman baik dengan orang yang lebih pintar, secara tidak langsung kita akan mendapat ilmu yang bermanfaat darinya. Hati-hati lah memilih teman baik dalam hidupmu. Harus bisa memilih dan menyaring, mana yang baik dan mana yang buruk.

Seperti Romi yang terlena dengan kata-kata Doni dan Lio. Romi menjadikan mereka teman baik. Doni dan Lio adalah anak yang nakal, suka merokok, dan tawuran. Mereka menghasut Romi untuk ikut merokok dan hasilnya Romi berada di rumah sakit dengan perban di kepala dan memar di tubuhnya.

Teman baik bukan teman biasa, melainkan teman yang selalu berada di samping kita ketika

"Temanmu adalah yang berkata benar bukan yang membenarkan kamu!"

Kata-kata itu terus membayangi pikiranku, menyesali atas apa yang telah terjadi kepadaku.

Kalimat itu adalah ucapan ayahku. Ayah selalu mengingatkannya kepadaku agar selalu memilih teman baik yang jujur. Hal ini karena teman yang menentukan arah hidup kita. Misalnya, temanmu adalah pemain gitar, dia akan mengajak kamu untuk bermain musik dan membentuk sebuah band.

ya, aku harus membayangi kata-kata itu agar selalu mengingatnya. Saat aku makan, berangkat ke sekolah, bermain, dan ketika akan tidur aku selalu mengingatnya, mengingatnya, dan mengingatnya.

tapi aku bodoh, aku tidak memegang teguh amanat ayahku itu. Hasilnya, aku mengalami suatu musibah karena salah dalam bergaul.

Kejadian itu berawal ketika aku tidak sengaja membuang sampah sembarangan di dalam kelas.

"Siapa yang membuang sampah di sini?" tanya Pak Kusni, guru pelajaran Pendidikan dan Kewarganegaraan. Sebelum memulai pelajaran, Pak Kusni selalu memeriksa kebersihan kelas.

Aku menyadari bahwa itu adalah bekas bungkusan makananku. Aku tidak mau mengaku, aku takut dimarahi, walaupun jika jujur tidak akan dihukum, tapi aku tetap tidak mau mengaku.

Teman sebangkuku, Wahyu, menyenggol tubuhku.

"Tidak ada yang mengaku?" tanya Pak Kusni dengan nada lantang. "Lebih baik jujur dan mengaku saja, daripada nanti ketahuan, akan Bapak hukum," lanjut Pak Kusni sambil memegang kumisnya yang lebat.

Wahyu terus menyenggol tubuhku, mengisyaratkan agar aku mengaku.

"Siapa?" suaranya kencang menggelegar.

Wahyu menyenggolku lagi dan berbisik, "Sudah Rom, mengaku saja, kalau jujur tidak akan dihukum," Wahyu memperingatkanku.

Brakk!

Pak Kusni, memukul meja.

"Kalau tidak ada yang berbicara, semua akan Bapak jemur di lapangan!"

"Rom, ngaku saja, masa kamu tega teman-teman kamu dihukum gara-gara ulah kamu," Wahyu berbisik kepadaku.

"Sudah diam saja, Way" aku menggubris usulannya.

"Tapi Rom."

Belum sempat Wahyu Berbicara, aku memotongnya, "Berisik kamu!" aku mulai geram dengannya.

"Wahyu, siapa yang buang sampah di depan kelas?" tanya Pak Kusni kepada Wahyu dengan suara lantang.

"R, r, r," Wahyu gagap dan tubuhnya menyenggolku.

Aku langsung menginjak sepatunya.

"Romi, Pak" Wahyu membeberkan semuanya.


Aku lebih keras lagi menginjakkan kakiku.

"Romi, benar kamu pelakunya?" tanya Pak Kusni kepadaku.

"Bu... bukan Pak," jawabku dengan gemetar.

Keringat dingin mulai mengucur dari setiap pori-pori kulitku, wajahku pucat pasi dan ketakutan.

"Jangan bohong kamu," ucap Pak Kusni lebih keras.

"I.... iya Pak, bukan aku," aku berbohong.

"Bukan Romi Pak pelakunya, tadi ada anak kelas sebelah yang bermain di dalam kelas dan dia buang sampah sembarangan," ucap Doni.

"benar Pak, bukan Romi pelakunya. Tadi ada anak kelas lain yang bermain di dalam kelas kamu Pak," Lio menambahkan.

Doni adalah teman sekelasku, tubuhnya tinggi sedang, kulitnya hitam, dan sedikit gemuk. Sebelumnya aku tidak begitu dekat dengan Dni karena perilakunya yang nakal. Doni tidak naik kelas sewaktu dia kelas dua.

Lio juga temen sekelasku, dia teman akrabnya Doni. Lio sangat jahil, sering berbuat ulah di kelas dan terkadang suka tidur di kelas. Aku berteman dengannya tapi tidak begitu akrab.

Tapi mengapa mereka tiba-tiba membelaku?
Ah biarkan saja kecurigaanku ini yang penting aku selamat dari hukuman Pak Kusni.

Sebenarnya aku juga tahu alasan Wahyu berbicara jujur kepada Pak Kusni. Ayahku selalu meminta Wahyu untuk berkata jujur atas semua hal yang berkaitan denganku dan aku pun dituntut agar selalu berkata jujur.

Ketika dia berkata jujur kepada Pak Kusni, dia sebenarnya ingin membelaku, ingin mengawasiku, dan ingin menjalankan amanat dari ayahku.

"Tapi biar lah, aku sudah kesal dengan Wahyu. Ternyata Wahyu yang kukenal sejak SD dengan mudah mencelakakan aku," ucapku dalam hati.

"Oke kalau begitu, pelajaran dilanjutkan, asalkan tidak ada lagi sampah yang berserakan di bawah meja kalian," ucap Pak Kusni sebelum memulai pelajaran PKn.

Kami sekelas melihat sekeliling. Jika ada sampah, kami langsung membuangnya ke tempat sampah. Setelah pelajaran Pak Kusni selesai, aku menghampiri Doni dan Lio. Aku ingin mengucapkan terima kasih pada mereka.

"Lio, Doni, terima kasih ya, kalian sudah menyelamatkan aku," ucapku kepada Lio dan DOni yang duduk di bangku paling belakang.

"Santai aje Rom," ucap Lio dengan nada santai.
"Bilangin tuh, si Wahyu, jangan bawel" ucap Doni.
"Tau tuh anak, songong banget, mau nyelakain temen sendiri. Padahal aku sama Wahyu sudah berteman lama dan duduk satu bangku, masih saja mau nyelakain temen sendiri," aku merasa kesal dengan Wahyu.

"Mangkanya jangan berteman sama dia, berteman saja sama kita. Kita orangnya asik, santai, dan solidaritasnya kuat," Doni membusungkan dada.

"Iya-iya," aku mengangguk. "Biarin saja, aku nggak akan negor Wahyu lagi," lanjutku.

Semenjak kejadian itu, aku mulai berteman dengan Lio dan Doni yang terkenal sebagai preman di sekolah. Aku sudah jarang dan bahkan tidak pernah pulang bersama Wahyu karena kecewa padanya.

Kali ini aku pulang sekolah bareng Doni dan Lio. Kami tidak langsung pulang ke rumah. Kami memilih untuk duduk-duduk atau nongkrong terlebih dahulu di pinggir jalan.

Berbeda seperti biasanya, sepulang sekolah aku pulang bersama Wahyu dan langsung pulang ke rumah. Sudah beberapa hari aku seperti itu, nongkrong di pinggir jalan. Suatu saat Doni membeli sebuah rokok di warung dan dia menghisap rokok itu bersama Lio dan teman-teman lainnya.

Aku ditawari juga, "Rom, mau nggak kamu?" Doni menyodorkan rokoknya.

"Nggak Don, makasih," tolakku dengan halus
"Yaelah Rom, santai saja! Kita ini bukan di sekolah lagi, tapi di luar sekolah, nggak akan ada yang ngomelin kita," ucap Lio sambil memegang pundakku.

"Udah nih," Doni memaksaku. "Rasanya enak Rom," Doni merayuku.

"Nggak Don," aku menggelengkan kepala.

"Ah, nggak metal lu, nggak gaul," nampaknya Lio mulai marah kepadaku.

"Au lu! Mana solidaritas lu?" ucap Doni dengan nada tinggi.

"Emang harus ngerokok dulu ya, baru namanya solidaritas?" tanyaku.

"Iya, kalau nggak mau lu nggak usah main sama kita-kita lagi. Gue nggak nyangka ternyata lu itu orangnya nggak asik, nggak gaul, dan cemen!" ucap Doni dengan nada tinggi tepat di depan wajahku.

"Boleh deh, kayaknya sih emang enak," aku mulai tergiur.
"Nah, itu baru anak gaul," ucap Lio.
"Nih!" Doni memberikan rokok kepadaku.

Aku menghisap racun itu, tapi sekali hisap aku langsung batuk-batuk.

"Pertamanya emang begitu. Coba lagi, nanti juga enak," ucap Lio.

Aku menghisap dan batuk-batuk lagi, dadaku sesak. "Sekali lagi," Doni meminta.

Aku hisap dengan napas panjang dan batuk-batuk lagi. Saat aku batuk-batuk, Lio dan Doni berlari, "Rom, lari ada Pak Kusni," ucap Doni.

Aku masih batuk-batuk. Kami pun berlari entah ke mana menghindari dari kejaran Pak Kusni. Semua yang nongkrong di pinggir jalan lari semua/ Kira-kira ada empat orang yang bersama kami.

Kami berlari masuk dan keluar gang mencari tempat persembunyian. Setelah aman, kami keluar. Sial, aku masih terbatuk-batuk, dadaku nyesak sekali, ditambah dengan lari, lengkap sudah penderitaanku.

Aku mempunyai riwayat penyakit asma dan sebenarnya tidak boleh merokok apalagi berlari secara tiba-tiba, takut asmaku kambuh. Aku ngos-ngosan dan terbatuk- batuk, mencoba bernafas panjang, tapi dadaku terasa nyesak. Aku merasa tersiksa.

Kami pun meneruskan perjalanan untuk kembali ke rumah masing-masing. Malang bagi kami. Saat kami keluar dari persembunyian dan berjalan pulang ternayat kami salah jalan. Tepat di depan kami ada anak SMP lain yang sedang nongkrong.

Kami terkejut ketika mereka tiba-tiba berlari mengejar kami. Niat kami ingin berjalan pulang, malah diserbu oleh SMP lain. Kami berlari menghindari karena jumlah mereka puluhan orang. AKu sudah tidak bisa berkata apa-apa, napasku sesak, dan aku masih harus berlari, aku tidak sanggup!

Aku pun berusaha berlari, aku berlari sambil batuk dan terjatuh. Saat aku terjatuh, temanku Agung membangunkan tubuhku.

"Bangun, Rom," kata Agung.

Aku berlari dan terjatuh lagi. Kulihat Doni dan Lio sudah kabur menjauh berada di garis paling depan. Aku tersungkur, tidak ada yang menolongku lagi. Tubuhku tidak sanggup untuk berdiri, bernapas saja sulit apalagi berlari. Aku pasrah.

Kulihat mereka semakin mendekat. Aku hanya berdoa saja, berharap aku tidak mati di tempat. "Tolong!" aku menjerit.

Mereka semakin dekat, tidak ada orang di sekelilingku yang dapat menolongku. Tiba-tiba ada sesuatu menimpa kepalaku, rasanya sakit sekali. Setelah kulihat itu adalah batu yang mengenai kepalaku. Sekit sekali, beberapa detik kemudian, ada lagi batu yang mengenaiku, dan terus mengenaiku.

Mereka sudah ada di depanku dan langsung mengeroyokku. AKu tidak bisa berbuat apa-apa karena pingsan. Aku tidak sadarkan diri selama dua jam. Kubuka mataku dan samar-samar aku melihat bayangan tubuh besar.

Kukedipkan mataku lagi untuk melihat lebih jelas, setelah kutegaskan itu ternyata Pak Kusni. "Jangan banyak bergerak," Pak Kusni memegang kepalaku.

Aku menyadari ada perban di kepalaku dan luka memar di seluruh tubuhku. Rasanya sakit dan ngilu. Pakaian putih biruku sudah tidak berbentuk, robek-robek, dan ada bercak darah.

ternyata kepalaku bocor dan luka memar akibat pukulan dari anak-anak itu. Beruntung Pak Kusni datang tepat waktu, kalau tidak aku sudah berada di tempat pemakaman umum.

Tak lama, kedua orang tuaku datang dan langsung memelukku. Mereka memelukku erat, ibuku memelukku sambil menangis. Aku tidak bisa bergerak dan hanya tersenyum simpul.

Nah, contoh cerpen tentang persahabat yang sedih di atas bisa mengajarkan kepada kita agar tidak bergaul dengan orang yang salah.

(pay/pal)