Curhat Bule yang Nikahi Pria Bali: Dianggap Cantik Tapi Bukan Istri yang Baik

Rahmi Anjani - wolipop Sabtu, 26 Sep 2020 18:00 WIB
Veronika Foto: Instagram bule_vero
Jakarta -

Banyak orang Bali yang menikah dengan warga asing. Memilih untuk membangun keluarga dan menetap di Pulau Dewata ternyata tidak selalu mudah bagi mereka. Meski Bali disebut sebagai Island of Paradise, tak jarang para bue menemukan budaya yang tidak cocok atau sesuai dengan prinsip dan kepribadian. Seorang bule bernama Veronika sering menuangkan pengalamannya menikah dengan pria Bali dalam blog. Berikut beberapa curhatan Veronika dalam 'Bali Without Photoshop' dan akun Instagram-nya.

Dianggap Cantik
Kebanyakan orang Indonesia menganggap penampilan bule lebih menarik karena punya kulit putih dan hidung yang mancung. Veronika pun menyadari hal tersebut setelah menikah dengan pria yang ditemui ketika kehilangan passport di Indonesia itu. Meski tergolong bertubuh kecil di negaranya, ia cenderung lebih tinggi dari kepada wanita di sini. "Tapi hal yang paling penting adalah hidungku yang panjang dan besar. Semua orang menyukainya,"

[Gambas:Instagram]



Tapi Bukan Ibu Rumah Tangga yang Baik

Tapi saat yang sama, Veronika dianggap kurang baik sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga oleh orang-orang Bali. Dilansir Brightside, di sana para istri diharapkan bisa mengepel setiap hari, mencuci baju dengan pemotong kentang, dan menyetrika semua kain. Tampaknya Veronika tidak terbiasa menyerita sprei, pakaian dalam, handuk, hingga kaus kaki sebelumnya.

"Orang di sini menyetrika sambil duduk di lantai dan jika baju-baju yang baru dicuci itu tidak tercium seperti bunga, mereka akan berpikir itu masih kotor dan mencucinya lagi. Itulah mengapa penting untuk menyemprot parfum ke baju," tulis pemilik akun @vero_bule ini.

Cuti Melahirkan Hanya 3 Bulan
Hal lain yang mengejutkan bagi Veronika adalah hari libur dan penghasilan orang Indonesia. Disebutkan jika kebanyakan orang Indonesia punya 12 hari libur setahun dan cuti melahirkan hanya tiga bulan. Namun ibu anak satu itu juga menyoroti jika warga lokal senang membantu satu sama lain.

"Pernah kami ada di pantai suatu malam dan seorang penjual mendatang kami dengan tempelan magnet atau souvenir yang jelek. Aku bahkan tidak ingin berbicara tapi suamiku mendengarkan pria ini dan membeli sesuatu yang bahkan tidak ditawar. Dia percaya bahwa jika seseorang bekerja, kita harus mendukungnya,"

[Gambas:Instagram]



Anak Boleh Makan Apapun

Perbedaaan cara membesarkan anak sering menjadi masalah bagi pasangan beda negara. Veronika pun mengalaminya, bukan hanya dengan suami tapi lingkungan. Dikatakan jika orang Bali umumnya menyukai anak kecil karena itu mereka dimaklumi jika mereka berlarian, berteriak, bahkan merusak barang di toko. "Jika orangtua mencoba membereskan barang yang anaknya rusak, karyawannya hanya akan tersenyum dan berkata 'It's okay'.

Tapi satu hal yang sedikit mengganggu Veronika yakni saat anaknya diperbolehkan makan apa saja, terutama oleh saudara-saudara sang suami. Apalagi jika mereka yang memberikan tidak meminta persetujuan sang ibu terlebih dahulu. "Itu adalah masalah besar bagiku dan tidak banyak yang bisa aku lakukan,"

Patriarki Hingga Gempa Bumi
Berbagai budaya atau kebiasaan orang Bali tampaknya masih bisa ditolerir oleh Veronika. Namun ia mengaku jika beberapa hal sulit untuk dihadapinya, terkait mental, patriarki, dan seringnya terjadi gempa bumi. "Aku merindukan perubahan musim. Siapa yang sangka aku aku akan rindu musim hujan di bulan November," katanya.

(ami/ami)