Fans BTS Bunuh Diri karena Dilarang Ayah Nge-fans K-Pop, Ini Kata Psikolog

Gresnia Arela Febriani - wolipop Selasa, 08 Sep 2020 17:03 WIB
Melisa, Fans BTS yang Diduga Bunuh Diri Foto Melisa. Foto: Twitter.
Jakarta -

Belum lama ini media sosial digemparkan dengan kabar remaja asal Turki bernama Melisa yang merupakan fans boyband K-pop BTS (Army) meninggal dunia. Dalam berbagai cuitan yang ditulis sesama fans, Melisa dilaporkan tewas setelah berusaha mengakhiri hidupnya. Kabar kematian remaja Turki itu pun mendapat perhatian dari media lokal. Sejumlah cuitan yang menunjukkan Melisa dalam keadaan tertekan pun jadi viral di Twitter.

Netizen menganggap bahwa remaja 15 tahun itu tidak meninggal karena bunuh diri melainkan karena sang ayah yang membunuhnya setelah melakukan penyiksaan. Disebutkan jika ayah Melisa tidak setuju jika putrinya menyukai K-Pop dan bahkan menyuruhnya bunuh diri. Dari berbagai cuitan sebelum meninggal, Melisa kerap mengungkap jika ayahnya menganggapnya sebagai hal terburuk yang pernah terjadi dan dia akan melanjutkan hidup bahwa jika gadis itu tidak ada.

Menurut Psikolog Ratih zulhaqqi, MPsi, ada berbagai hal yang bisa menyebabkan orangtua melarang anaknya menyukai grup K-Pop. Salah satunya karena si orangtua tidak tahu apa itu K-Pop.

Melisa, Fans BTS yang Diduga Bunuh DiriMelisa, Fans BTS yang Diduga Bunuh Diri Foto: Twitter.

"Bisa jadi karena orangtuanya nggak tahu apa itu K-pop? Atau waktu yang digunakan untuk menonton K-Pop, mengumpulkan merchandise, kayak too much. Makanya orangtua melihat ada regulasi diri yang tak berjalan, sehingga dia melakukan apapun itu caranya, demi si bintang K-popnya ini," kata Ratih saat dihubungi Wolipop, Senin (7/9/2020).

Orangtua yang tak terlalu suka musik, akan sulit memahami ketika anaknya jadi fans berat sebuah grup musik. Apalagi jika si anak tak pernah berusaha mengenalkan musik tersebut pada orangtuanya.

"Dan ada juga beberapa orangtua yang tak suka musik, mungkin tak bisa melihat apa sih bagusnya? Tak kenal maka tak sayang. Apalagi remaja kan ada fase di mana mereka akan ada idola. Dan aku sih melihat selagi dalam batas yang wajar harusnya orangtua membantu anak dan mengambil sisi positif apa yang bisa diambil ketika mereka menyukai sesuatu," tambah Ratih.

Lalu, bagaimana caranya seorang anak memberikan pemahaman kepada orangtua tentang kegemaran mereka pada K-Pop?

Psikolog Ratih zulhaqqi, MPsiPsikolog Ratih zulhaqqi, MPsi. Foto: Dok. priadi Ratih.

"Kalau kita menyukai sesuatu kita kumpulin posternya, membicarakan hal itu terus menerus dan lainnya. Mungkin orangtuanya kurang peka tentang kesukaan anaknya. Jadi beritahukan kegemarannya pada orangtua, agar orangtua bisa paham," jelasnya.

Mengenai dugaan bunuh diri yang dilakukan Melisa, menurut Ratih, permasalahannya bukan hanya sekadar K-Pop. Psikolog lulusan Universitas Indonesia itu melihat ada permasalahan lain yang juga menjadi pemicunya.

"Soalnya, kalau dilihat ayahnya seperti secara langsung tidak menerima anak ini, mau dia suka K-Pop atau nggak, pasti konflik itu pasti akan terjadi. Tapi kita nggak tahu juga karena datanya kurang lengkap. Jadi, hubungan anak dan ayah ini sudah buruk. Dengan ada dan tidak adanya K-Pop, gak ada kaitannya dengan K-Pop," jelasnya.

Ratih sendiri pernah mendapat klien dengan permasalahan sejenis. Seorang remaja mengeluh karena kegemarannya pada anime tidak disetujui ibunya.

Beredar Petisi Tuntut Ayah Melisa Fans BTS Turki DipenjaraBeredar Petisi Tuntut Ayah Melisa Fans BTS Turki Dipenjara Foto: instagram.

"Ibunya melarang dia untuk mengonsumsi anime. Dan dia self harm karena hubungan orangtuanya yang buruk sehingga dia menyakiti diri sendiri. Jadi bukan karena anime. Yang perlu ditelusuri bagaimana caranya supaya hubungan anak dan orangtua itu secure, sehingga tidak memunculkan anak yang punya resiliansi (ketangguhan) yang rendah. Jadi kalau ketangguhannya rendah biasanya akan lebih mudah akan memilih mengkahiri hidup," tambahnya

Psikolog yang praktik di RS Mitra Keluarga, Depok dan Klinik Kancil Duren Tiga itu pun memberikan pesan bagi remaja lainnya yang menyukai K-pop.

"Sebenarnya yang paling terpenting, ketika kita menyukai sesuatu, diupayakan untuk menggunakan logika. Tidak boleh berlebihan dan tetap menganalisa sesuatu. Remaja itu kan belum bisa mengambil keputusan logis, itu kan bisa dilatih. Dan komunikasikan dengan orangtua agar diberikan pemahaman. Jika orangtua yang tidak mengerti teknologi, coba dengarkan dan ada penilaian secara obyektif. Kadang orangtua juga ingin tahu apa yang disukai oleh anaknya," ujarnya.

Melisa, Fans BTS yang Diduga Bunuh DiriMelisa, Fans BTS yang Diduga Bunuh Diri Foto: Twitter.


Simak Video "Perseteruan KD-Aurel-Azriel Jadi Konsumsi Netizen, Ini Kata Psikolog"
[Gambas:Video 20detik]
(gaf/eny)