Psikolog Ungkap Bahaya Jadi Bucin K-Pop

Gresnia Arela Febriani - wolipop Senin, 30 Des 2019 10:27 WIB
Foto: Drew Angerer/Getty Images
Jakarta - Musik K-Pop atau Korea pop termasuk salah satu yang digandrungi oleh milenial seluruh dunia termasuk Indonesia. Para generasi milenial ini begitu tergila-gila dengan para boy band atau girl band K-Pop, sampai rela melakukan hal-hal yang di luar akal.

Psikolog Ratih Zulhaqqi, MPsi mengatakan, seseorang dikatakan sebagai fans fanatik hingga menjadi 'bucin' K-Pop ketika mereka sudah sampai tahap menyukai dengan mendalam. "Sehingga rela melakukan hal dilakukan demi idolanya, mengikuti gayanya atau sampai membeli merchandisenya yang mahal. Bahkan rela menonton konsernya dan rela menabung ekstrim dan sebagainya," kata Ratih saat dihubungi Wolipop (24/12/2019).
Kecanduan pada K-Pop ini menurut Ratih bisa sampai mengalahkan logika berpikir seorang fans. Menurutnya jika hal ini sudah sampai terjadi, harus diwaspadai.

"Selama seseorang itu masih bisa mengontrol responnya, perilakunya ketika dia menyukai sesuatu itu masih tidak apa-apa. Tapi kalau misalnya dia sampai mengalahkan logika, lalu kemudian tidak bisa mengontrol respon sampai akhirnya dia melakukan berbagai macam cara dan menghalalkannya, nah itu baru perlu dikaji lebih lanjut," jelasnya.

Menjadi bucin K-Pop hingga melakukan hal di luar logika, ditambahkan Ratih, bisa merusak jati diri seseorang. "Karena dia akan hidup dimana bayang-bayangan dari sesuatu yang dia sukai dan jadi sibuk untuk selalu fokus untuk dengan hal yang dia sukai tanpa fokus dengan perkembangan dirinya dia," ujar psikolog anak yang berpraktek di Rumah Sakit Mitra Keluarga Depok itu.

Ratih melihat, aksi fans fanatik para K-Popers ini seperti orang yang sedang dimabuk cinta. Sehingga logika pun bisa terkalahkan dengan hasrat demi bertemu sang idola.

"Sama saja seperti orang yang sedang jatuh cinta. Kalau misalnya dia jatuh cintanya nggak pakai mata, akhirnya emosinya itu menguasai pikirannya dia. Nah, sama ketika seseorang adore dan memuja sesuatu itu kadang sampai lupa diri," katanya.

Ratih menambahkan kegilaan seseorang pada artis ini tidak hanya terjadi pada fans K-Pop saja. Menurutnya ada juga artis lain yang memiliki fans fanatik. Dan kata Ratih adalah sebuah hal wajar ketika pada fase remaja, seseorang memiliki idola.

"Setiap remaja itu punya fase di mana dia adore, atau memuja sesuatu. Kayak aku dulu suka banget dengan salah satu band dan aku mengikuti konsernya. Cuma ya nggak sampai bolos sekolah, sampai nggak makan, demi buat beli tiket. Jadi aku berusaha untuk tetap realistis bahwa ketika aku menyukai sesuatu itu, disesuaikan dengan batas kemampuan diri kita," sarannya.

Peran orangtua dalam mengawasi perilaku anak juga harus diperhatikan. Menurut Ratih, jangan sampai anak menganggap orangtua bisa diandalkan untuk mewujudkan keinginan mereka yang berkaitan dengan sang idola.

"Karena kan beberapa anak akan mudah untuk berpikir bahwa, Oh nanti gampang beli tiket, nanti kan pasti dibeliin sama mama atau papa. Oh gampang deh walaupun tiket ke luar negeri murah kok kalau buat mama dan papa," tutur Ratih.

Orangtua juga berperan untuk membimbing anak agar aksi fanatisme tersebut bisa lebih bermanfaat. "Kalau misalkan dia mengatakan cakep nih secara fisik atau suaranya bagus. Tapi value apa sih yang mereka dapat? Oh ternyata mereka itu bekerja keras untuk mendapatkan kesuksesannya dia yang sekarang. Jadi ada hal positifnya yang bisa dilihat dari orang-orang digandrungi pada remaja atau generasi milenial," tutupnya.




Simak Video "Berangkat ke Jakarta, Begini Fashion Airport Member BLACKPINK"
[Gambas:Video 20detik]
(gaf/eny)