Belajar Makan Pisang Pakai Pisau, Crazy Rich Asians Rela Bayar Rp 200 Juta

Daniel Ngantung - wolipop Rabu, 26 Sep 2018 18:48 WIB
Ilustrasi pisang. Foto: Thinkstock
Jakarta -
Anggap saja saat ini Anda tengah berada di sebuah jamuan formal. Tiba waktunya untuk menikmati hidangan pencuci mulut, Anda disajikan sepiring pisang yang belum dikupas. Anda akan mengupasnya dengan tangan atau dengan pisau makan yang tersedia di meja?

Dalam table manner atau etika makan, makan pisang punya aturannya tersendiri. Anda tetap membutuhkan pisau dan garpu untuk mengupasnya. Seperti yang diajarkan pakar etika Sara Jane Ho kepada murid sekolah kepribadiannya, Sarita Institute, di Shangai dan Beijing, China.

Pertama-tama, Anda harus memotong kedua bagian ujung pisang. Setelah itu, kupas kulit bagian atas dengan membelahnya dari sisi samping kiri ke kanan atau sebaliknya. Agar terlihat lebih rapi, letakkan 'sampah' kulit pisang tadi di ujung piring dengan bagian yang lebar menutupi dua potongan ujung tadi.

Untuk belajar makan pisang dengan elegan ini, para murid Sara yang kebanyakan adalah perempuan dari keluarga kaya harus merogoh kocek US$ 16 ribu atau sekitar Rp 200 juta.

"Banyak orang yang bertanya kenapa harus bayar Rp 200 juta hanya untuk belajar memotong pisang? Jangan berpikir seperti karena apa yang kami ajarkan lebih dari itu," kata Sara yang menimba ilmu etika di Swiss, seperti dikutip GQ.

Eksis sejak 2015, Sarita Institute yang didirikan Sara bersama sosialita Rebecca Li diklaim sebagai sekolah kepribadian pertama untuk kalangan atas di China.

Sekolah tersebut hadir sebagai respons dari bertambahnya jumlah 'orang kaya baru' di China. Seiring dengan pertumbuhan tersebut, muncul kebutuhan untuk 'beradaptasi' dengan gaya hidup yang baru. "Klien saya rata-rata adalah ibu yang ingin menyesuaikan kehidupannya dengan lingkungan baru sehingga mereka juga bisa mengajarinya kepada anak mereka yang ingin menjadi bagian dari masyarakat global," kata Sara.

Dalam kursus yang terdiri dari 10-12 hari itu, murid Sarita Institute mendapat berbagai macam ilmu. Mulai dari table manners, cara berbusana, memilih pakaian dalam, mamasak, hingga bersosialisasi dengan media sosial.

"Institute Sarita menyediakan mereka pelajaran yang belakangan sangat dibutuhkan entah itu saat mereka berkeliling dunia, belajar di luar negeri, membeli properti, berbisnis, atau mengirimkan anak mereka ke sekolah asrama terbaik di dunia," tambah Sara.
(dng/eny)