Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Pose Seksi di Vanity Fair Jadi Kontroversi, Ini Kata Emma Watson

Rista Adityaputry - wolipop
Senin, 06 Mar 2017 11:26 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: Getty Images
Jakarta - Emma Watson baru saja menunjukkan sisinya yang berbeda dalam pemotretan cover majalah Vanity Fair edisi Maret 2017. Sayangnya, cukup banyak yang mengecam beberapa penampilannya dalam pemotretan tersebut terkait dengan aktivitasnya sebagai seorang feminis.

Aktris berusia 26 tahun itu mengenakan blouse high neck transparan yang dipadupadankan dengan capelet putih dari Burberry. Ia juga mengenakan rok lace dengan palet nude dalam pemotretan yang dibidik oleh fotografer Tim Walker tersebut. Foto itu menuai protes dari cukup banyak netizen dan jurnalis karena keseluruhan penampilannya yang terlihat seolah ia topless.

Kecaman tersebut diawali oleh seorang jurnalis bernama Julia Hartley-Brewer yang menuliskan tweet "Emma Watson: 'Feminism, feminism... gender wage gap...why oh why am I not taken seriously...feminism... oh, and here are my tits!"
Foto: dok. Tim Walker/Vanity Fair

Menurutnya, pemeran Belle dalam film Beauty and The Beast itu bersikap munafik karena telah menjadikan dirinya sebagai objek seksual, sedangkan selama ini Emma sendiri telah melakukan protes atas para wanita yang sering dijadikan sebagai objek seksual. Ia juga menyanggah beberapa protes dari netizen dan mengatakan bahwa ia hanya menunjukkan betapa munafik dan bodohnya pemotretan yang dilakukan oleh ikon feminis itu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Banyak yang membela Emma atas pemotretan tersebut dan memuji sikap keberanian dan ceritanya dalam wawancara dengan Vanity Fair. "A women's body/sexuality should not determine the amount of respect she receives. Try again," tulis salah satu netizen yang berada di kubu Emma Watson.

"You're joking, aren't you? A young woman and prominent feminist embracing her sexuality and body and you demonise her?" tulis netizen lain yang tidak setuju dengan pemikiran Julia.

Kontroversi ini tersebar cukup lama dan pada akhirnya Emma menanggapinya dalam sebuah wawancara dengan Reuters. Ia menganggap inilah yang membuat banyak orang memiliki kesalahpahaman tentang arti feminisme yang sebenarnya.
Foto: dok. Tim Walker/Vanity Fair

"Feminisme itu memberikan para perempuan hak untuk memilih. Feminisme itu bukanlah 'tongkat' yang digunakan seorang perempuan untuk mengalahkan perempuan lain. Ini tentang kebebasan dan pembebasan. Sebuah kesetaraan. Aku tak tahu kenapa payudaraku dihubung-hubungkan dengan hal itu. Ini sangat membingungkan," ujarnya.

Aktris yang juga berperan penting dalam kampanye HeForShe ini juga menyebutkan poin penting dalam arti feminisme, yaitu memberikan wewenang kepada perempuan untuk membuat keputusannya sendiri dan dihargai karena itu, sehingga tidak ada aturan ketat yang membatasi apa yang perempuan ingin lakukan. Ia juga mengajak para pria untuk menganjurkan penyetaraan gender.

"Feminisme itu tentang memberikan sebuah pilihan," tambah aktris yang telah berkiprah dalam industri film sejak 2001 itu. Emma sendiri menganggap pemotretan dan wawancara majalah Vanity Fair tersebut sebagai pengalaman yang menakjubkan dan senang dengan hasil pemotretannya yang bagus dan menarik. (hst/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads