Intimate Interview
Anggun & Keprihatinan Terhadap Industri Makanan Dunia
Hestianingsih Hestianingsih - wolipop
Jumat, 29 Jun 2012 09:36 WIB
Jakarta
-
Tak hanya aktif menyanyi, Anggun juga termasuk artis yang vokal dalam menyuarakan isu-isu sosial dan lingkungan hidup. Pada 2009, penyanyi yang sudah menelurkan lima album ini didaulat menjadi duta PBB untuk Food and Agriculture Organization (FAO), atau lebih dikenal dengan duta pangan dunia.
Menjadi duta pangan, membuat ibu satu anak ini lebih mengenal tentang kondisi pangan dunia yang kini cukup memprihatinkan. Salah satu yang paling menjadi perhatian pelantun lagu 'Snow On The Sahara' ini adalah, lahan hutan yang kini ditanami bukan untuk pangan melainkan untuk keperluan industri.
"November tahun lalu aku hadir di International Year of Forest. Di situ aku belajar, banyak negara di dunia ini seperti Indonesia, kebanyakan hutan ditebang. Kita bisa bilang, oke itu masalah kriminal. Tapi ada satu yang masih belum banyak diketahui orang, apa yang ditanam di lahan itu?" tutur Anggun, saat berbincang dengan wolipop di Hotel Grand Hyatt Jakarta, Rabu (27/06/2012).
Anggun menuturkan, hutan yang kini dijadikan lahan perkebunan, lebih banyak ditanami kopra. Bukan lagi padi atau gandum. Sementara kopra, diperlukan untuk industri bukan sebagai pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat dunia. Selain kopra, lahan hutan juga ditanami jagung. Bukan untuk bahan pangan melainkan pakan bagi sapi ternak agar kualitas dagingnya lebih baik.
"Sapi-sapi itu diberi makan jagung supaya dagingnya manis dan empuk. Yang tidak dipikirkan adalah para petaninya, masalahnya di situ. Mereka malah diharuskan untuk memberi makan sapi demi keperluan industri. Supaya orang-orang di negara kaya mengonsumsi lebih banyak daging. Dulu waktu kecil aku makan daging seminggu sekali, kebanyakan sayur, tempe, tahu, itu sehat," ujarnya.
Anggun tidak mengatakan bahwa mengonsumsi daging itu tidak sehat. Namun jika diperhatikan sekarang ini, kebanyakan produk daging baik itu berupa daging sapi, ayam atau ikan cara ternaknya sudah tidak sesehat dan sealami dulu. Ia mengambil contoh pakan ikan yang sudah bukan organik lagi, tapi berupa pil atau biasa disebut pellet.
Begitu juga dengan ayam, yang kebanyakan pakannya berasal dari kotoran atau ayam lain yang sudah mati. Anggun pun kesal jika harus mengingat tentang keadaan industri makanan sekarang ini.
"Soal ternak ayam, dulu butuh waktu beberapa minggu untuk bertelur, kemudian berkembang dan siap untuk dipotong. Sekarang hanya perlu satu minggu sudah bisa dipotong. Ayam-ayam itu dikasih antibiotik. Itu sebenarnya yang bikin sebal," ujar istri dari penulis asal Prancis Cyril Montana ini.
Sebagai duta pangan, Anggun pun berusaha menyadarkan dunia akan kenyataan tersebut meskipun itu tidak mudah. Salah satu kendalanya, karena mengubah gaya hidup adalah sebuah langkah besar yang memerlukan kesadaran dari diri sendiri. Anggun pun ingin mencoba lagi kampanye tentang perbaikan pangan dunia lewat jejaring sosial.
"Aku mau campaign lagi lewat twitter. Dulu aku bilang, usahakan tidak mengonsumsi daging, sekali saja seminggu. Nanti bertambah dua kali, dan seterusnya. Itu sebagai cara kita berkontribusi untuk memikirkan petani-petani itu," terangnya.
Langkah lainnya, adalah memulainya dari diri sendiri dan keluarga. Ia menuturkan, tanggung jawab juga berada di tangan konsumen. Anggun mencontohkan, saat berbelanja di supermarket ia akan menghindari buah atau sayur yang berasal dari Venezuela karena itu berarti berkontribusi menambah emisi karbon dunia.
"Bukan karena nggak mau makan buah dari situ (Venezuela), tapi karena ada emisi karbon. Buah itu kan didatangkan dengan pesawat, bukan kapal. Jadi aku lebih pilih konsumsi buah lokal (di Prancis) dan tergantung musim (buah)nya," tambah Anggun.
Ia berpesan, dengan menjadi konsumen yang bertanggung jawab berarti juga memedulikan kehidupan para petani yang telah bekerja keras dan mengucurkan keringatnya agar piring yang tersedia di meja makan kita selalu terisi makanan. Bahkan daging yang notabene berasal dari peternak, juga terdapat hasil jerih payah petani di dalamnya.
"Walau kita nggak melihat, petani itu sebenarnya dekat sekali dengan kita. Yang ada di piring kita datangnya dari mereka. Daging saja, itu dari mereka karena mereka yang memberi makan binatang supaya bisa datang ke sini," ujar Anggun dengan wajah serius.
Satu hal lagi yang ditekankan wanita yang sudah bekerja untuk PBB sejak 2005 (sebagai duta Mikrokredit) ini, kesuksesan satu program sangat berkaitan dengan program lainnya. Antara pangan, mikrokredit dan lingkungan semuanya saling terkait. Dan tugas kita sebagai masyarakat, adalah belajar menjadi orang yang mengerti dan bertanggung jawab dengan apa yang kita beli dan konsumsi.
(hst/eny)
Menjadi duta pangan, membuat ibu satu anak ini lebih mengenal tentang kondisi pangan dunia yang kini cukup memprihatinkan. Salah satu yang paling menjadi perhatian pelantun lagu 'Snow On The Sahara' ini adalah, lahan hutan yang kini ditanami bukan untuk pangan melainkan untuk keperluan industri.
"November tahun lalu aku hadir di International Year of Forest. Di situ aku belajar, banyak negara di dunia ini seperti Indonesia, kebanyakan hutan ditebang. Kita bisa bilang, oke itu masalah kriminal. Tapi ada satu yang masih belum banyak diketahui orang, apa yang ditanam di lahan itu?" tutur Anggun, saat berbincang dengan wolipop di Hotel Grand Hyatt Jakarta, Rabu (27/06/2012).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sapi-sapi itu diberi makan jagung supaya dagingnya manis dan empuk. Yang tidak dipikirkan adalah para petaninya, masalahnya di situ. Mereka malah diharuskan untuk memberi makan sapi demi keperluan industri. Supaya orang-orang di negara kaya mengonsumsi lebih banyak daging. Dulu waktu kecil aku makan daging seminggu sekali, kebanyakan sayur, tempe, tahu, itu sehat," ujarnya.
Anggun tidak mengatakan bahwa mengonsumsi daging itu tidak sehat. Namun jika diperhatikan sekarang ini, kebanyakan produk daging baik itu berupa daging sapi, ayam atau ikan cara ternaknya sudah tidak sesehat dan sealami dulu. Ia mengambil contoh pakan ikan yang sudah bukan organik lagi, tapi berupa pil atau biasa disebut pellet.
Begitu juga dengan ayam, yang kebanyakan pakannya berasal dari kotoran atau ayam lain yang sudah mati. Anggun pun kesal jika harus mengingat tentang keadaan industri makanan sekarang ini.
"Soal ternak ayam, dulu butuh waktu beberapa minggu untuk bertelur, kemudian berkembang dan siap untuk dipotong. Sekarang hanya perlu satu minggu sudah bisa dipotong. Ayam-ayam itu dikasih antibiotik. Itu sebenarnya yang bikin sebal," ujar istri dari penulis asal Prancis Cyril Montana ini.
Sebagai duta pangan, Anggun pun berusaha menyadarkan dunia akan kenyataan tersebut meskipun itu tidak mudah. Salah satu kendalanya, karena mengubah gaya hidup adalah sebuah langkah besar yang memerlukan kesadaran dari diri sendiri. Anggun pun ingin mencoba lagi kampanye tentang perbaikan pangan dunia lewat jejaring sosial.
"Aku mau campaign lagi lewat twitter. Dulu aku bilang, usahakan tidak mengonsumsi daging, sekali saja seminggu. Nanti bertambah dua kali, dan seterusnya. Itu sebagai cara kita berkontribusi untuk memikirkan petani-petani itu," terangnya.
Langkah lainnya, adalah memulainya dari diri sendiri dan keluarga. Ia menuturkan, tanggung jawab juga berada di tangan konsumen. Anggun mencontohkan, saat berbelanja di supermarket ia akan menghindari buah atau sayur yang berasal dari Venezuela karena itu berarti berkontribusi menambah emisi karbon dunia.
"Bukan karena nggak mau makan buah dari situ (Venezuela), tapi karena ada emisi karbon. Buah itu kan didatangkan dengan pesawat, bukan kapal. Jadi aku lebih pilih konsumsi buah lokal (di Prancis) dan tergantung musim (buah)nya," tambah Anggun.
Ia berpesan, dengan menjadi konsumen yang bertanggung jawab berarti juga memedulikan kehidupan para petani yang telah bekerja keras dan mengucurkan keringatnya agar piring yang tersedia di meja makan kita selalu terisi makanan. Bahkan daging yang notabene berasal dari peternak, juga terdapat hasil jerih payah petani di dalamnya.
"Walau kita nggak melihat, petani itu sebenarnya dekat sekali dengan kita. Yang ada di piring kita datangnya dari mereka. Daging saja, itu dari mereka karena mereka yang memberi makan binatang supaya bisa datang ke sini," ujar Anggun dengan wajah serius.
Satu hal lagi yang ditekankan wanita yang sudah bekerja untuk PBB sejak 2005 (sebagai duta Mikrokredit) ini, kesuksesan satu program sangat berkaitan dengan program lainnya. Antara pangan, mikrokredit dan lingkungan semuanya saling terkait. Dan tugas kita sebagai masyarakat, adalah belajar menjadi orang yang mengerti dan bertanggung jawab dengan apa yang kita beli dan konsumsi.
(hst/eny)
Perawatan dan Kecantikan
Nggak Perlu Foundation Mahal! 3 Cushion Ini Bikin Wajah Flawless, Tahan Lama, dan Anti Cakey Seharian
Kesehatan
Anak Susah Makan Bikin Mama Pusing? Ini 2 Suplemen Andalan Biar Nafsu Makan Balik Lagi!
Kesehatan
Sakit Kepala & Nyeri Otot Datang Tiba-Tiba? Ini 2 Obat Andalan yang Wajib Ada di Rumah!
Home & Living
Masak Lebih Praktis & Stylish, Inilah Rekomendasi Spatula Set Wajib Punya di Dapur!
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Aksi Edit Foto Terbongkar, Influencer Tempel Wajah ke Tubuh Orang Lain
Bikin Mewek, Go Youn Jung Ungkap Bocoran Drakor Baru Soal Kesehatan Mental
Most Pop: Bayi Pertama Lahir Setelah 17 Tahun, Satu Desa Ikut Rayakan
Mirip Angelina Jolie Muda, Visual Shiloh di Video Klip KPop Bikin Takjub
Sinopsis Hacksaw Ridge, Film Andrew Garfield di Bioskop Trans TV
Most Popular
1
Gaya Pacar Cristiano Ronaldo Pakai Tas Langka, Koleksinya Senilai Rumah Mewah
2
TikTok Viral Verficator
Viral! Pengantin Pria Terobos Hutan hingga Sawah Becek Demi Ijab Kabul
3
7 Ballet Sneakers Terbaik di 2026, Desainnya Stylish dan Nyaman Dipakai
4
Ramalan Zodiak 5 April: Aquarius Jauh dari Harapan, Capricorn Tetap Sabar
5
Viral Pengantin Pria Bawa 9 Truk Septic Tank untuk Iring-iringan Pernikahan
MOST COMMENTED











































