Kisah Seru Marcella Zalianty Menjalani Syuting 'Batas'
wolipop
Rabu, 01 Jun 2011 07:50 WIB
Jakarta
-
Film 'Batas' yang diperankan sekaligus diproduseri aktris Marcella Zalianty telah melakukan proses syuting di sejumlah dusun di Entikong, Kalimantan Barat pada Januari lalu. Bagaimana pengalaman Marcella syuting di pedalaman?
Aktris kelahiran Jakarta, 7 Maret 1980 menceritakan pengalaman tersebut usai live chatting dengan detikforum di kantor detikcom di Gedung Aldevco, Warung Jati Barat, Jakarta Selatan, Selasa (31/5/2011). Marcella yang tengah hamil tua, menggambarkan perjuangan seluruh kru dan pemain melewati medan yang berat selama proses syuting 25 hari.
"Perjalanan ke Entikong memakan waktu 7 sampai 10 jam dari Pontianak. Di Entikong itu ada beberapa desa, kita ke dusun naik sampan. Jalan di situ juga hanya bisa dilewati motor. Terpaksa buka jalan bikin jembatan kecil biar mobil bisa lewat," tutur Marcella seperti dikutip detikhot.
Saat sampai di salah satu dusun, mereka disambut dengan upacara adat. Menurut Marcella, para penduduk sekitar sangat menghormati hukum adatnya.
"Kita datang dan pulang disambut upacara adat, mereka potong babi, dan melakukan tarian-tarian. Tadinya kita nggak mau karena nggak pengin ngerepotin. Tapi akhirnya kita ikutin katanya biar diterima alam, semua lancar. Di sana hukum adat sangat dihormati sekali," jelasnya.
Meskipun gigitan nyamuk selalu mereka alami setiap hari, namun Marcella bersyukur tidak ada kru atau pemain yang sakit. Apalagi saat itu Marcella sedang hamil muda, sehingga harus lebih memperhatikan kondisinya.
"Keluarga khawatir, hampir nggak boleh sama suami, tapi Alhamdulillah nggak apa-apa, bisa melewati semua," tambahnya.
Lewat 'Batas', Marcella tidak sekadar ingin memberikan hiburan kepada penontonnya. Dengan gambaran kehidupan dan budaya penduduk di pedalaman terpencil, istri pembalap Ananda Mikola itu ingin memberikan edukasi dan menyisipkan nilai-nilai positif di dalamnya.
Marcella mengaku, dirinya lebih enjoy sebagai pemain dibandingkan dengan produser. "Sebenernya saya darahnya pemain, enjoy aja jadi pemain. Tapi kalau jadi produser lebih bisa mengeksplorasi ide. Dua-duanya menikmati, punya peranan masing-masing tapi kalau jadi produser pusing," ucapnya seraya tertawa.
(ich/eny)
Aktris kelahiran Jakarta, 7 Maret 1980 menceritakan pengalaman tersebut usai live chatting dengan detikforum di kantor detikcom di Gedung Aldevco, Warung Jati Barat, Jakarta Selatan, Selasa (31/5/2011). Marcella yang tengah hamil tua, menggambarkan perjuangan seluruh kru dan pemain melewati medan yang berat selama proses syuting 25 hari.
"Perjalanan ke Entikong memakan waktu 7 sampai 10 jam dari Pontianak. Di Entikong itu ada beberapa desa, kita ke dusun naik sampan. Jalan di situ juga hanya bisa dilewati motor. Terpaksa buka jalan bikin jembatan kecil biar mobil bisa lewat," tutur Marcella seperti dikutip detikhot.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita datang dan pulang disambut upacara adat, mereka potong babi, dan melakukan tarian-tarian. Tadinya kita nggak mau karena nggak pengin ngerepotin. Tapi akhirnya kita ikutin katanya biar diterima alam, semua lancar. Di sana hukum adat sangat dihormati sekali," jelasnya.
Meskipun gigitan nyamuk selalu mereka alami setiap hari, namun Marcella bersyukur tidak ada kru atau pemain yang sakit. Apalagi saat itu Marcella sedang hamil muda, sehingga harus lebih memperhatikan kondisinya.
"Keluarga khawatir, hampir nggak boleh sama suami, tapi Alhamdulillah nggak apa-apa, bisa melewati semua," tambahnya.
Lewat 'Batas', Marcella tidak sekadar ingin memberikan hiburan kepada penontonnya. Dengan gambaran kehidupan dan budaya penduduk di pedalaman terpencil, istri pembalap Ananda Mikola itu ingin memberikan edukasi dan menyisipkan nilai-nilai positif di dalamnya.
Marcella mengaku, dirinya lebih enjoy sebagai pemain dibandingkan dengan produser. "Sebenernya saya darahnya pemain, enjoy aja jadi pemain. Tapi kalau jadi produser lebih bisa mengeksplorasi ide. Dua-duanya menikmati, punya peranan masing-masing tapi kalau jadi produser pusing," ucapnya seraya tertawa.
(ich/eny)











































