Pria Spornoseksual, Menginspirasi atau Narsis Haus Pujian?
Ferdy Thaeras - wolipop
Jumat, 06 Feb 2015 16:00 WIB
Jakarta
-
Istilah metroseksual tampaknya sudah tidak asing di telinga para kaum urban. Istilah yang diperkenalkan pada tahun 1994 silam ini menggambarkan sosok pria lajang yang mempunyai penghasilan terbilang tinggi, serta tinggal di kota metropolitan dan intens merawat wajah serta tubuhnya. Tak hanya itu, mereka pun kerap berpenampilan necis dan juga hobi berbelanja.
Namun kini, muncul istilah baru yang seolah mengganti kehadiran pria metroseksual, yaitu spornoseksual. Pencetus istilah ini, Mark Simpson, seorang jurnalis asal inggris mengatakan, spornoseksual adalah perpaduan dari kata sport, porn, dan metroseksual. Sebutan ini dikhususkan untuk para pria pemilik tubuh atletis, biasanya mempunyai tato, rambut-rambut halus di sekitar wajah dan seringkali selfie memamerkan tubuh tanpa busana.
Di negara-negara Barat, istilah spornoseksual sudah diperbincangkan sejak tahun lalu. Di Indonesia sendiri, masih sangat asing dengan terminologi ini namun sebenarnya sudah banyak dilakukan oleh para pecinta fitness maupun binaraga. Jika selfie dilakukan oleh wanita, pria pun tak ingin kalah dan sekaligus pamer tubuh hasil pahatan di pusat kebugaran.
Kami pun mengamati lebih lanjut sekaligus berbincang dengan ahlinya, yang tak lain psikolog seksual, Zoya Amirin. Iapun banyak memberikan pencerahan akan makna spornoseksual ini hingga manfaat, bahaya hingga efek-efek yang mengikuti. Jika digarisbawahi, pria spornoseksual ini masih buram sifatnya antara menginspirasi atau haus pujian dari dunia maya, yakni social media, tempat mereka menggunakan medium untuk mengibarkan eksistensi.
Pria modern yang mapan kini mengalami pergeseran gaya hidup. Mereka tak lagi identik rajin merawat diri dengan produk-produk grooming dan label fashion ternama. Sekarang justru kulit polos yang menjadi ‘senjata’ yang tentunya tidak semua pria bisa memilikinya. Runner-up L-Men, Kenny Auztin pun mengakui untuk mendapatkan massa otot yang besar namun tetap terlihat definisi otot, harus sabar berolahraga dan menjaga asupan makanan. Tingkat kesulitan yang luar biasa untuk didapatkan.
Namun pada akhirnya, para wanita yang terekspos dengan fenomena foto-foto para pria kekar tanpa busana di media sosial pun angkat bicara. Ada yang mengaku justru tidak nyaman jika pasangannya melakukan hal tersebut, adapula yang justru memilih figur tubuh yang tidak berotot dan biasa-biasa saja untuk kenyamanan. Selebihnya merasa hal ini hanya cocok untuk gaya hidup para gay yang kompetitif untuk urusan fisik dan juga menjadi salah satu aset utama untuk menarik perhatian sesama jenis.
(fer/fer)
Namun kini, muncul istilah baru yang seolah mengganti kehadiran pria metroseksual, yaitu spornoseksual. Pencetus istilah ini, Mark Simpson, seorang jurnalis asal inggris mengatakan, spornoseksual adalah perpaduan dari kata sport, porn, dan metroseksual. Sebutan ini dikhususkan untuk para pria pemilik tubuh atletis, biasanya mempunyai tato, rambut-rambut halus di sekitar wajah dan seringkali selfie memamerkan tubuh tanpa busana.
Di negara-negara Barat, istilah spornoseksual sudah diperbincangkan sejak tahun lalu. Di Indonesia sendiri, masih sangat asing dengan terminologi ini namun sebenarnya sudah banyak dilakukan oleh para pecinta fitness maupun binaraga. Jika selfie dilakukan oleh wanita, pria pun tak ingin kalah dan sekaligus pamer tubuh hasil pahatan di pusat kebugaran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pria modern yang mapan kini mengalami pergeseran gaya hidup. Mereka tak lagi identik rajin merawat diri dengan produk-produk grooming dan label fashion ternama. Sekarang justru kulit polos yang menjadi ‘senjata’ yang tentunya tidak semua pria bisa memilikinya. Runner-up L-Men, Kenny Auztin pun mengakui untuk mendapatkan massa otot yang besar namun tetap terlihat definisi otot, harus sabar berolahraga dan menjaga asupan makanan. Tingkat kesulitan yang luar biasa untuk didapatkan.
Namun pada akhirnya, para wanita yang terekspos dengan fenomena foto-foto para pria kekar tanpa busana di media sosial pun angkat bicara. Ada yang mengaku justru tidak nyaman jika pasangannya melakukan hal tersebut, adapula yang justru memilih figur tubuh yang tidak berotot dan biasa-biasa saja untuk kenyamanan. Selebihnya merasa hal ini hanya cocok untuk gaya hidup para gay yang kompetitif untuk urusan fisik dan juga menjadi salah satu aset utama untuk menarik perhatian sesama jenis.
(fer/fer)











































