Sebuah unggahan di media sosial viral dan mencuri perhatian publik setelah menampilkan perjalanan pantang menyerah seorang wisudawan bernama M. Hafidz Alfurqan.
Melalui akun Instagram @dagucoklat, ia membagikan kisah perjuangannya meraih beasiswa untuk mendapatkan gelar master di Macquarie University, Australia. Gelar itu tidak diraih secara instan, melainkan lewat rentetan kegagalan yang menyertainya selama bertahun-tahun.
Perjalanan berat tersebut bermula sejak ia lulus sarjana (S1) pada tahun 2020 di tengah situasi pandemi COVID-19 yang membuatnya sempat menganggur.
Tak patah semangat, ia terus mencoba berbagai peluang, namun harus menerima kenyataan pahit atas kegagalan beruntun dalam melamar berbagai program beasiswa bergengsi seperti Beasiswa Turki, Chevening, LPDP, YSEALI Academic Fellowship, CCIP Amerika, hingga Fulbright. Tak hanya itu, usahanya dalam menembus seleksi tes BUMN, Bank Indonesia, serta CPNS pun semuanya berakhir dengan kegagalan.
Belasan kali menerima penolakan tidak lantas menyurutkan langkahnya untuk terus berjuang. Pada tahun 2023, keteguhannya akhirnya membuahkan hasil manis ketika ia berhasil lolos seleksi Beasiswa Australia Awards.
Hafidz pun berpesan kepada mereka yang sedang berjuang bahwa kegagalan adalah hal biasa dalam proses meraih mimpi, dan setiap orang pasti akan tiba waktunya untuk sukses selama tidak berhenti mencoba.
Kini, perjuangan panjang tersebut telah berbuah manis. Hafidz secara resmi menyelesaikan studi S2-nya dan meraih gelar Master dari Macquarie University, Australia.
Dalam momen kelulusannya, ia mengumumkan bahwa seluruh nilai bahagianya telah keluar dan mendedikasikan kelulusan tersebut untuk keluarga, dosen, mentor, serta semua orang yang tak henti mendukung dan percaya pada prosesnya.
"Iya, enak pas lulus beasiswanya
Tapi pas berprosesnya, gagal adalah makanan sehari-sehari
.
Buat kamu yang tengah berjuang, aku yakin kalau waktu kamu pasti akan datang!" tulis keterangan Instagram @dagucoklat.
Unggahan tersebut sudah ditonton lebih dari 1,2 juta kali dan mendapatkan banjir ucapan dari warganet yang ikut takjub dengan perjuangannya.
"Selamat fiz.. Waktunya berkontribusi utk Palembang," kata pengguna Instagram @farhan.alfalembani.
"Keren banget masyaAllah 😍😍 bisa membawa nama harum Indonesia," takjub akun @youranisa.
"Tipsnya ka supaya bisa dapat awardee di Australia," penasaran akun @mystory5328.
Konfirmasi Wolipop
Saat dihubungi oleh Wolipop, pria berusia 28 tahun asal Palembang bernama lengkap Muhammad Hafidz Alfurqan ini menceritakan bahwa motivasinya membagikan unggahan tersebut adalah untuk menormalisasi kegagalan dalam mengejar cita-cita.
Hafidz, yang merupakan anak pertama dari dua bersaudara, mengungkapkan bahwa dirinya sempat berada di titik terendah ketika baru lulus S1 di tengah situasi pandemi COVID-19. Demi mewujudkan mimpinya kuliah di luar negeri, Hafidz rela melakoni pekerjaan apa saja untuk menabung dan memanfaatkan setiap akses pembelajaran bahasa Inggris gratis.
Kegigihan Hafidz bahkan sempat diuji oleh kekhawatiran orang tuanya yang menyarankannya untuk melanjutkan studi di dalam negeri saja lantaran tak tega melihatnya terus menerima surat penolakan.
"Orang tua saya sebenarnya sempat menyarankan agar saya kuliah di dalam negeri saja. Mungkin mereka merasa kasihan melihat saya sudah berkali-kali mencoba tetapi terus mendapatkan penolakan. Namun, saya tetap kekeuh ingin mencoba kesempatan kuliah di luar negeri. Bagi saya, selama masih ada kesempatan untuk mencoba, saya ingin terus berusaha dan membuktikan bahwa usaha yang saya lakukan tidak sia-sia," ujar Hafidz kepada Wolipop.
Tantangan terbesar yang dirasakannya adalah menjaga konsistensi dan mentalitas agar tidak mudah menyerah setelah ditolak lebih dari 16 kali oleh berbagai program beasiswa maupun instansi kerja. Namun, alih-alih berhenti, ia menjadikan setiap kegagalan sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki kualitas pendaftaran berikutnya hingga akhirnya berhasil diterima di Macquarie University, Australia.
"Ditolak berkali-kali bukan berarti mimpi kita terlalu tinggi, tetapi mungkin memang belum waktunya. Yang penting adalah terus belajar, memperbaiki diri, dan mencoba kembali sampai kesempatan itu datang," pungkas Hafidz yang telah menyelesaikan program Master of Creative Industries dan Master of Media and Communications di Faculty of Arts tersebut.
(gaf/eny)