Evolusi Riasan Wanita RI: Dari Kilau Bulan, Bintang Disko Hingga Era Inklusif
Evolusi makeup di Indonesia ternyata bukan sekadar urusan memoles wajah agar terlihat menarik. Hal ini terungkap dalam pameran HYAS: Makeup Through the Ages yang digelar di Ashta District 8, Jakarta Selatan hingga 6 September 2026.
Allysha Nila, kurator, peneliti utama, sekaligus penulis pameran tersebut, mengungkapkan perubahan gaya tata rias di Tanah Air pada dasarnya bersifat sirkular atau terus berputar kembali dari masa ke masa.
"Kalau pengamatan aku, sebenarnya perubahannya tuh berputar-putar lagi dan lagi gitu. Misalkan kita ngomongin 70an, balik lagi ke ancient (masa kuno), terus sekarang pun orang juga pengen tahunya (gaya) yang dulu-dulu," ucap Allysha saat ditemui Wolipop di pameran HYAS di ASHTA District 8, Jakarta Selatan, Kamis (3/9/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut transformasi makeup wanita Indonesia dari masa ke masa yang terungkap dari pameran HYAS: Makeup Through the Ages:
Masa Kuno (Abad ke-4 hingga ke-15)
Jauh pada masa ini, standar kecantikan Nusantara sangat dipengaruhi oleh harmonisasi alam serta nilai-nilai spiritual. Dari pameran HYAS terungkap, konsep luminescence atau pancaran kilau alami kulit dianggap sebagai puncak keindahan yang terinspirasi oleh pendar sinar bulan.
Riasan kening tradisional seperti paes difungsikan sebagai sarana perlindungan serta wujud doa dalam upacara pernikahan. Riasan ini terinspirasi oleh alam, meskipun seiring berjalannya waktu mulai mengalami modifikasi akibat modernisasi industri pernikahan.
Masa Kolonial (Tahun 1511-1945)
Masuknya bangsa Eropa mengonstruksi hierarki sosial dan rasial yang mengubah standar kecantikan. Kulit putih atau cerah diangkat sebagai standar ideal kecantikan, yang dampaknya masih terasa hingga hari ini.
Praktik nyai dan hadirnya keturunan blasteran semakin memperkuat dominasi figur berkulit cerah di media massa. Di sisi lain, produk kosmetik era tersebut berfokus pada pencerah wajah, mulai dari bedak apotek Belanda hingga produk lokal seperti Bedak Virgin Chun Lim.
Pembukaan Pameran HYAS: Makeup Through the Ages. Foto: Dok. HYAS: Makeup Through the Ages. |
Masa Pasca-Kemerdekaan (Tahun 1945-1990-an)
Pada era awal kemerdekaan, nuansa perjuangan amat kental mewarnai tata rias para perempuan. Gaya minimalist-patriotic mendominasi dengan fokus utama pada gincu/bibir merah membara yang identik dengan warna bendera nasional. Menurut buku Tjantik karya Chailan Sjamsoe, warna merah menjadi lambang semangat perjuangan sekaligus simbol utama riasan wajah wanita kala itu.
Pada era Demokrasi Terpimpin tahun 1960-an, industri kosmetik lokal mulai bangkit untuk membentuk identitas nasional baru. Menurut Dr. Tio Tiong Hoo dalam bukunya Paspor Anda Kearah Kecantikan (1960), kosmetik buatan lokal harus diracik khusus agar sesuai dengan iklim tropis.
Lahirnya merek Viva Cosmetics pada tahun 1962 menjadi tonggak penting keberadaan kosmetik lokal yang terjangkau dan sejalan dengan kebijakan anti-Barat, anti-imperialis, dan anti-kapitalis Presiden Soekarno.
Berlanjut ke era 1970-an, fokus kecantikan mulai bergeser secara dramatis ke area mata seiring dengan masuknya pengaruh budaya populer luar. Menurut buku panduan pameran HYAS, teknik graphic liner, penggunaan bulu mata palsu yang tebal, hingga maskara mencolok menjadi ciri khas utama yang dipengaruhi oleh maraknya budaya disko.
@wolipopofficial Hyas Exhibition, pameran pertama di Indonesia yang menjelajahi make up, kecantikan wanita Indonesia, fashion, dan budayanya dari masa ke masa Pameran berlangsung hingga 6 September di ASHTA District 8 Creator: Adinda Salma #Wolipop #Hyas #HyasExhibition ♬ original sound - wolipop
Pada masa Orde Baru, evolusi tata rias di Indonesia diwarnai oleh hadirnya merek Mustika Ratu dan Martha Tilaar yang membawa narasi kecantikan berbasis keraton Jawa. Tokoh seperti B.R.A. Mooryati Soedibyo hingga sosok transgender Vivian Rubianti turut mempelopori perkembangan dunia salon dan kecantikan lokal.
Kehebohan tata rias mencapai puncaknya pada era 1980-an yang mengusung konsep maksimalis dan sangat eksperimental. Kombinasi eyeshadow tiga warna layaknya pelangi, blush on tebal yang menyala, lipstik berefek kilau (frost lipstick), hingga penggunaan blue eyeliner ala Putri Diana menjadi tren populer yang digandrungi banyak kalangan.
Majalah seperti Intan, Suri, Tata Rias, serta Rambut & Kecantikan marak diterbitkan untuk mengabadikan gaya hidup kosmopolitan masyarakat era 80-an. Menurut Allysha, gaya tata rias pada era ini tercatat sangat teatrikal dan penuh warna tanpa ada satu tren tunggal yang mendominasi.
"Aku merasa di tahun 80-an nggak ada yang dominasi, jadi memang banyak dan mungkin karena kita membuka diri secara internasional pada masanya. Sementara kalau sebelumnya di masa orde lama, Soekarno kayak 'nggak deh, nggak usah Barat-Barat an ya kita' jadi ya udah Indonesia aja," jelasnya.
Pameran HYAS: Makeup Through the Ages. Foto: Dok. HYAS: Makeup Through the Ages. |
Memasuki era 1990-an, tren bergeser ke arah yang jauh lebih anggun melalui cosmopolitan & professional makeup seiring dengan meningkatnya jumlah wanita karier. Riasan pada era ini didominasi oleh nuansa warna alam (earthy) atau cool-toned, bentuk alis yang lebih tipis, sentuhan smoky eyeshadow, serta hasil akhir yang bebas kilap atau matte.
Saat Krisis Keuangan Asia 1997 melanda, Martha Tilaar berhasil menyelamatkan perusahaannya dari kebangkrutan melalui inovasi lipstik duotone dari koleksi Pusako Minang. Produk dari Sariayu ini melonjakkan penjualan hingga 400 persen dan menyelamatkan ribuan pekerja dari pemutusan hubungan kerja (PHK).
Masa Modern
Kini, perkembangan industri kecantikan lokal menunjukkan lompatan yang amat luar biasa. Menurut makeup artist Sissy Sosro, pilihan shade produk complexion seperti foundation hingga skin tint dari merek lokal saat ini jauh lebih inklusif dan representatif untuk ragam warna kulit wanita Indonesia jika dibandingkan dengan masa lalu.
"Aku pun sebagai makeup artist, waktu aku baru mulai itu nggak banyak shade foundationnya. Sekarang kan banyak banget dari skin tint, foundation dan semua itu ada banyak warna yang bisa kita cocokin dengan skin tone Indonesia ini. Sedangkan zaman dulu, itu susah ngumpulin (shade) foundationnya," ucap Sissy, yang mulai bersekolah khusus make up pada tahun 2008 lalu.
Variasi produk rias dasar tersebut membuktikan bahwa standar kecantikan tidak lagi terkungkung pada warna kulit tertentu. Melalui pemahaman terhadap perjalanan panjang ini, evolusi tata rias di Indonesia membuktikan bahwa gaya kecantikan kita akan selalu beradaptasi mengikuti perkembangan zaman.
(eny/eny)













































